-->

Rahasia Basmalah: Rahasia Titik di Bawah Ba

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Dalam kitab-kitab tafsir mu'tabarah, basmalah (singkatan dari Bismillahirrahmanirrahim) secara panjang dibahas aspek fikihnya.
Apakah itu menjadi bagian dari Surah Al-Fatihah atau bukan? Bagaimana hukum membaca atau tidak membacanya? Apakah harus dibaca keras (jahr) atau sunyi di dalam shalat bersama ayat-ayat lainnya atau cukup dibaca dalam hati, atau boleh sama sekali tidak dibaca karena dianggap bukan bagian Surah Al-Fatihah?  
Namun, di dalam kitab-kitab tafsir sufi (isyari) basmalah tidak ditonjolkan aspek fikihnya melainkan aspek spiritualnya.
Para sufi memang jarang menafsirkan Alquran secara tahlili sebagaimana halnya ulama-ulama fikih. Ulama tasawuf membahas secara tematis dan terperinci ayat-ayat yang masuk kategori ayat tasawuf.
Salah satu ayat yang mempunyai porsi pembahasan luas ialah basmalah. Bagi para sufi, pembahasan basmalah diurai secara panjang dan lebih menekankan aspek dan makna spiritual di dalamnya.
Sejumlah tafsir Syi'ah membahas ta'awwuz (A'udzu bi Allah min al-syaithan al-rajim) dan basmalah di dalam satu jilid tersendiri karena sedemikian dalam makna dan kandungan kedua kalimat tersebut.
Basmalah adalah substansi Alquran. Jika Alquran yang terdiri atas 6.666 ayat, 114 surah, dan 30 juz dipadatkan maka pemadatannya ialah basmalah itu. Bahkan, menurut riwayat dari Al-Hafiz bin Sulaiman bin Ibrahim Al-Qunduzy, bahwa sesungguhnya seluruh rahasia kitab-kitab samawi tersimpul di dalam Alquran.
Rahasia keseluruhan Alquran tersimpul di dalam Surah Al-Fatihah dan rahasia keseluruhan Surah Al-Fatihah tersimpul di dalam basmalah (Bi ism Allah al-Rahman al-Rahim), dan rahasia basmalah terletak pada sebuah titik di bawah huruf ba (?) di awal kalimat.
Pembahasan rahasia titik di bawah huruf ba mengingatkan kita pada penciptaan awal yang dikaitkan dengan teori dentuman awal (the big bang) oleh para filsuf Platonisme.
Para filsuf dan kalangan sufi mempunyai kesamaan logika bahwa asal usul kejadian makrokosmos (dan dengan sendirinya mikrokosmos) berasal dari sebuah titik yang maha padat ciptaan Tuhan.
Karena sedemikian padatnya maka kemudian mengalami ledakan dan partikel-partikel pecahannya kemudian mengalami proses pembesaran (expanding universe) yang dalam bahasa Alquran diistilahkan wa inna lamusi'un (lalu Kami meluaskannya) QS Al-Dzariyat: 47).
Partikel-partikel itu dihubungkan dengan galaksi bimasakti (milky way) dengan seluruh famili planet yang ada di dalam kawasannya. Dalam wacana tasawuf partikel-partikel utama disebut dengan syajaratul baidha', yang menjadi asal-usul dari segala ciptaan. Ibnu Arabi menghubungkannya dengan entitas-entitas luar (external entities/al-a'yan al-kharijiyyah).
Yang membedakan antara filsuf dengan sufi secara mendasar ialah asal-usul penciptaan alam semesta. Kalangan filsuf berpendapat, asal-usul alam semesta (universe) ialah terjadi dengan sendirinya (creatio ex nihilo).
Namun, asumsi ini tidak memuaskan kalangan filsuf lainnya karena memang susah di nalar secara logika murni. Bagaimana ada sesuatu tanpa ada yang mengadakannya, bagaimana sebuah ciptaan (makhluq/creation) bisa tercipta tanpa ada pencipta (khaliq/creator). Pertanyaan ini masih tetap menjadi misteri di kalangan filsuf.
Bagi para sufi, terjadinya al-a'yan al-kharijiyyah adalah kelanjutan dari ta'ayyun awwal, yaitu proses dari Ahadiyah ke Wahidiyyah¸ yakni dari sisi Tuhan sebagai Sirr al-Asrar (the Secret of the Secred), kemudian ingin mengenal diri-Nya lalu memperkenalkan diri-Nya melalui Sifat-Sifat dan Nama-nama-Nya.
Sisi Tuhan yang pertama disebut Ahadiyyah dan sisi yang terakhir disebut Wahidiyyah. Sifat-sifat dan nama-nama Allah SWT yang ada di dalam al-A'yan al-Tsabitah menuntut konsekuensi, maka proses entitas terus berlanjut dan tidak hanya berhenti di al-A'yan al-Tsabitah.
Sulit memahami Allah sebagai Rabb dan Ilah tanpa marbub dan ma'luh yang menyembahnya. Sulit dipahami Tuhan sebagai Maha Pencipta (al-Khalik) tanpa makhluk. Sulit memahami Allah Maha Pemberi (al-Wahhab) tanpa objek yang diberi (mauhub) dan seterusnya. Konsekuensi inilah yang melahirkan alam semesta yang merupakan kelanjutan proses dari al-A'yan al-Tsabitah.
Beda antara keduanya ialah al-A'yan al-Tsabitah, entitasnya permanen atau biasa disebut wajib al-wujud. Sedangkan alam semesta termasuk manusia, adalah entitas baharu (al-a'yan al-hawadits) atau biasa disebut dengan mumkin al-wujud. Baik yang pertama maupun yang kedua, asal-usulnya terlacak dan jelas, semuanya dari Allah. Allah disebut Ibnu Arabi sebagai al-Haqq dan makhluk-Nya disebut al-khalq.
Dalam kitab tafsir Isyari, penciptaan alam raya dihubungkan dengan sumpah pertama Allah dalam Alquran yaitu, Nun. wa al-Qalam wa ma yasthurun (Nun. Demi Pena dan apa yang dituliskannya). Di antara mereka ada yang memahami secara semiotik, bahwa nun adalah botol tinta dan al-qalam adalah pena penciptaan.
Huruf pertama yang ditulis pena itu ialah satu titik yang kemudian disimbolkan di bawah huruf ba pada lafaz bi ism Allah. Titik itu menjadi starting point terhadap tulisan pena itu. "Tidak gugur sehelai daun melainkan sudah tercatat di dalam Lauh Mahfudz.”
Hadis ini dihubungkan dengan pena suci itu. Kumpulan-kumpulan tulisan pena menjadi al-kitab dan menjadi hukum kauniyyah.
Pena suci itu terus berjalan. Tulisan-tulisannya mustahil akan bisa dipahami semua oleh manusia, sebagaimana diisyaratkan dalam Alquran, "Katakanlah: Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (QS. Al-Kahfi: 109).
Lebih dipertegas lagi di dalam ayat lain, "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah." (QS. Luqman: 27).
Ada sejumlah ayat yang saling terkait dijadikan ulama tasawuf sebagai entry point untuk memahami rahasia penciptaan alam. Di antaranya ialah ayat yang pertama diturunkan Allah ialah Iqra' bi ism Rabbik (bacalah dengan menyebut nama atau atas nama Tuhanmu) dan ayat keempatnya, "Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam." (QS. Al-'Alaq: 4).
Dan sumpah Tuhan pertama turun ialah: Nun. Wa al-Qalam wa ma yasthurun (QS. Al-Qalam: 1) serta ayat, "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya." (QS. Al-Baqarah: 31).
Ayat-ayat tersebut di atas oleh ulama tasawuf dihubungkan dengan basmalah untuk memahami rahasia penciptaan alam, baik al-'alam al-kabir (makrokosmos) maupun al-'alam al-shagir (mikrokosmos). Metodologi pemahaman mereka sangat berbeda dengan metode ulama tafsir pada umumnya, khususnya ulama fikih. Namun, antara satu sama lain tidak ditemukan pertentangan.
Bahkan, antara satu sama lain saling menghargai dan penuh pengertian bahwa memang Alquran ibarat intan, masing-masing sudutnya bisa memantulkan cahaya yang berbeda-beda. Itulah keistimewaan Alquran. Wallahua'lam.

Pohon Tala’: Pohon Yang Serba Guna

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Selain kuda dan garam, Kabupaten Jeneponto juga terkenal dengan Tala’nya. Itu sangat wajar, karena memang Jeneponto merupakan salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan yang tergolong kering dan tandus. Sementara pohon tala’ hanya bisa tumbuh di wilayah yang semacam itu.
Keberadaan pohon tala’ di wilayah ini, merupakan berkah tersendiri bagi sebagian masyarakat Jeneponto, terutama bagi yang mendiami wilayah pedesaan bagian selatan sebelum pesisir. Itu karena pohon tala’ memiliki manfaat dan kegunaan yang cukup banyak dibanding pepohonan lainnya. Bahkan bisa dikatakan, pohon tala’ adalah pohon serba guna. Karena mulai dari batang, buah, daun, hingga tetesan airnya, dapat diolah untuk dimanfaatkan hasilnya.
Pohon tala’ sangat mudah kita jumpai di wilayah ini. Jaraknya pun cukup berdekatan antara satu dengan lainnya. Bahkan kita dapat menyaksikan jejeran pohon tala’ di titik wilayah tertentu, yang menghadirkan pemandangan tersendiri bagi yang melihatnya.
Tapi mungkin sebagian diantara kita masih belum begitu akrab dengan pohon yang satu ini, sehingga memunculkan beberapa pertanyaan yang mengusik rasa ingin tahu kita. Oleh karena itu, marilah kita simak penjelasan berikut ini agar rasa ingin tahu kita dapat sedikit terpuaskan…

Apa itu Pohon Tala’?
Tala’ adalah bahasa Makassar (Bugis) untuk pohon Lontar (Siwalan). Tala’ adalah sejenis palma yang banyak tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Konon, pohon ini berasal dari India kemudian selanjutnya menyebar ke beberapa wilayah, termasuk Jeneponto (Turatea) dan sekitarnya.
Pohon ini terutama tumbuh di daerah-daerah kering. Di Indonesia, tala’ terutama tumbuh di bagian timur pulau Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, dan yang pasti di Sulawesi Selatan.
Pohon tala’ dapat hidup hingga umur 100 tahun atau lebih, dan mulai berbuah pada usia sekitar 20 tahun.
Di banyak daerah, pohon ini juga dikenal dengan nama-nama yang mirip, seperti lonta (Minangkabau), ental (Sunda, Jawa, Bali), taal (Madura), dun tal (Sasak), jun tal (Sumbawa), lontara (Toraja), lontoir (Ambon). Juga manggita, manggitu (Sumba) dan tua (Timor).
Pohon Tala’ adalah pohon yang kokoh dan kuat. Berbatang tunggal dengan tinggi sekitar 15-30 m dan diameter batang sekitar 60 cm. Biasanya tumbuh sendirian, tapi juga kebanyakan berkelompok dan berdekat-dekatan.
Memiliki daun yang besar memanjang, terkumpul di ujung batang dan membentuk tajuk yang membulat. Helaian daunnya serupa dengan kipas bundar, berdiameter hingga 1,5 m, bercangap sampai berbagi menjari, dengan taju anak daun selebar 5-7 cm. Sisi bawahnya keputihan oleh karena lapisan lilin.
Tangkai daunnya mencapai panjang 1 m, dengan pelepah yang lebar dan hitam di bagian atasnya. Sisi tangkainya memiliki deretan duri yang berujung dua.
Karangan bunga dalam tongkol sekitar 20-30 cm dengan tangkai sekitar 50 cm.
Buahnya bergerombol dalam tandan, hingga mencapai sekitar 20 butir. Bentuknya bulat dengan berdiameter 7-20 cm, biasanya kulit buahnya berwarna hitam kecoklatan, meskipun kadang ada juga yang berwarna kuning kecoklatan. Daging buahnya berwarna kuning bila sudah tua. Berbiji tiga butir dengan tempurung yang tebal dan keras.

Kegunaan Tala’
Daun tala’, selain digunakan sebagai media penulisan naskah lontara’ pada jaman dulu, juga sering digunakan sebagai bahan kerajinan tangan. Barang-barang kerajinan yang sering dibuat dari daun lontar antara lain adalah kipas, tikar (tappere’), topi (saraung), Bakul (baku’/kamboti’) aneka keranjang (karanjeng), tenunan untuk pakaian, dan juga sasando (alat musik tradisional di Timor).
Serat dari pelepah tala’ dapat juga dimanfaatkan. Pada masa silam, serat ini cukup banyak digunakan di Sulawesi Selatan untuk menganyam tali (otere’) atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat.
Kemudian, kayu dari batang lontar kerap digunakan sebagai tiang dan penyangga bangunan (benteng balla’). Selain itu juga, sampai sekarang batang tala’ yang sudah diolah, dapat dijadikan sebagai tangga pada rumah panggung (tuka’ balla’).
Untuk buahnya, selain untuk menjadi pelengkap minuman, buah tala’ juga memiliki manfaat mulai dari mempertajam pendengaran, hingga memperbanyak cairan sperma. Buah tala’ yang masih muda, juga banyak mengandung cairan sangat tinggi, serta memiliki rasa yang manis bercampur asam dan biasa diminum dalam keadaan segar.
Satu lagi, pohon tala’ memiliki keunikan tersendiri yang jarang dimiliki oleh pohon lainnya. Pada bunga jantannya yang masih muda (tu’ra), orang sering mengeriknya demi mendapatkan arak (ballo’) manis maupun pahit (kecut). Tetesan airnya, biasanya di tampung dalam sebuah wadah yang disebut tongka. Tongka ini terbuat dari bambu besar (bulo pattong) yang sudah di potong pendek.
Dari arak (ballo’) tersebut, orang sering mengolahnya menjadi gula merah (golla eja), cuka alami (cukka ballo’), dan juga sebagai minuman pelepas dahaga (ballo’ tanning). ***









Rahasia Basmalah: Rahasia Tanpa Alif Sesudah Ba

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Dalam artikel ini akan dijelaskan misteri tanpa penulisan huruf alif sesudah huruf ba pada Basmalah. Sehingga tertulis bersambung menjadi bismillah, bukan bi ismillah, sebagaimana lazimnya dalam ilmu penulisan bahasa Arab ('ilm rasm), misalnya ayat iqra' bi ismi Rabbik. Terdapat berbagai macam pendapat ulama tentang hal ini.
Dalam kitab Majma' Al-Bayan dijelaskan sebagian dari mukjizat Alquran. Kitab ini menghubungkan jumlah kata ism terulang sebanyak 19 kali dalam Alquran. Kalau ada alif mendahului kata ism, kata ism tidak lagi sesuai dengan angka 19 dan jumlah huruf basmalah tidak lagi 19 melainkan bertambah satu, 20.
Jumlah huruf basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) jika ditulis dalam bahasa Arab berjumlah 19 huruf. Setiap kosakata yang digunakan di dalamnya berhubungan dengan angka 19. Kata ism terulang 19 kali, ar-Rahman 57:19=3, ar-Rahim 114:19=6, Allah 2697:19=142.
Ingat teori Rashad Khalifah yang mengatakan Alquran menggunakan rumus 19, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Muddatsir 74: 30 (Wa 'alaiha tis'ata 'asyar/Di atasnya ada sembilan belas). (Samikh 'Athif Al-Zain, Majma' Al-Bayan Al-Hadits, tafsir Mufradat Alfadh Al-Qurán Al-karim, h. 34).
Penjatuhan (hadzf) huruf alif di dalam ayat itu sudah sesuai dengan tradisi bahasa Alquran, seperti tiga kali terulang bentuk kata seperti ini, yakni QS Al-Fatihah: 1, An-Naml: 30, dan Hud: 41.
Penjelasan senada juga disampaikan Abd Allah ibnu Husain Al-Akbary dalam At-Tibyan fi I'rab Al-Qur'an. Al-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir juga berpendapat bahwa pembuangan huruf alif sebelum kata ism hanya urusan teknis bahasa Arab.
Berbeda dengan ulama tasawuf dan mufasir Syiah yang memberikan makna khusus ketiadaan hurus alif sebelum kata ism. Penafsiran basmalah diurai perinci seperti yang dilakukan Al-Qummi dalam tafsirnya.
Ia mengatakan, al-ba'u Bahaullah (kemahaagungan Allah), al-sin sanaullah (kemahatinggian Allah), al-mim mulkullah (kemahakuasaan Allah), al-Allah Ilahu kulli syai' (Tuhan seru sekalian alam),
Kemudian al-rahman bi jami' khalqihi (Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk-Nya), al-rahim bi al-mu'minin khashah (Maha Penyayang secara khusus diberikan kepada hamba-Nya yang beriman). (Al-Qummi, Tafsir al-Qummi, juz 56, hlm 56).
Tafsir Al-Kafi mengutip riwayat dari Al-Baqir, “Kitab yang pertama kali Tuhan turunkan dari langit ialah basmalah. Apabila membacanya jangan lupa memohon perlindungan terhadap Allah SWT. Jika dibaca, Allah akan melindunginya dari bahaya yang ada di antara langit dan bumi.” (Al-Kasyani dalam Tafsir al-Shafi, juz 1, hlm 82).
Senada dengan riwayat yang disampaikan Ibnu Abbas, Anna likulli syai'in usas. Wa usas al-Qur'an al-Fatihah wa usas al-Fatihah Bismillahirrahmanirrahim. Segala sesuatu mempunyai inti dan intinya Alquran ialah basmalah. (Majma' Al-bayan oleh Al-Thabrisi, juz 1 hlm 20).
Dalam kitab Al-Muwaqif fi Ba'dh Isyarat Al-Qur'an ila Asrar wa Al-Ma'arif, oleh Abdul Qadir Al-Hasani Al-Jazairy dijelaskan, "Membaca basmalah di awal pekerjaan bukannya tanpa maksud, melainkan untuk pujian. Huruf ba adalah untuk perlindungan dan pertolongan (isti'anah)."
"Sebagaimana firman Allah, "Mohonlah pertolongan kepada Allah." (QS. Al-A'raf: 127) dan "Hanya Engkaulah kami memohon pertolongan" dan hadis sahih, "Tiada daya upaya dan kekuatan selain Allah." (Juz 1 hlm 551-552).
Menurut pendapat para arifin, huruf ba sebenarnya mengisyaratkan perbuatan Allah yang melekat atau tak terpisahkan dari perbuatan manusia. Karena itu, ba (bism Allah) berarti min (bagian) dari perbuatan Allah.
Meskipun perbuatan Allah tidak terlihat secara visual, kita bisa menyaksikan substansi perbuatan (shudur al-af'al) Allah yang terdapat di dalam semua bentuk perbuatan kita. Eksistensi-Nya dapat dilihat pada setiap makhluk, termasuk perbuatan-Nya.
Dalam bahasa Ibnu Arabi, pena-Nya terus menulis sesuai dengan kemauan-Nya yang kesemuanya mengalir dari titik di bawah ba pada kata Bismillah.
Uraian di atas dinafikan oleh Al-Zamakhsyari, tokoh Mu'tazilah dalam Tafsir Al-Kasysyaf, bahwa huruf ba hanya kelaziman bahasa (malabisah) tidak ada pengaruhnya di dalam memulai suatu pekerjaan.
Hasil akhir sebuah perbuatan ditentukan oleh kualitas dan kuantitas orang yang berbuat. Ia seolah-olah tidak ingin memistikkan basmalah, seperti terkesan di dalam penjelasan tafsir Syiah dan tafsir Isyari.
Golongan Sunni lebih selektif, meskipun punya kecondongan pada pendapat ulama tafsir Isyari. Mereka menganggap membaca basmalah sangat besar pengaruhnya karena menganggap perbuatan itu sebagai ikhtiar.
Karena itu, selain mendatangkan pahala bagi yang membacanya, juga menjadi wujud ketaatan dan kepasrahan hamba kepada Tuhannya. Bagi mereka, fungsi huruf ba ialah sebagai wujud keakraban dan kelaziman (al-mushahabah wa al-mulabasah).
Bagi para filsuf, fungsi huruf ba dalam bism Allah (Baca: Bismillah) adalah lambang kekhalifahan manusia. Apa pun yang kita kerjakan diperintahkan Rasulullah untuk membaca basmalah. Artinya ialah "Atas nama Allah", bukan "Dengan nama Allah". Jika membaca terjemahan yang terakhir ini seolah-olah dimensi mistiknya menonjol. Pokoknya, dengan membaca basmalah (Dengan nama Allah), otomatis ada pertolongan Tuhan.
Akan tetapi jika membaca terjemahan pertama (Atas nama Allah), tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi, sebagai representasi Allah, akan selalu terbayang.
Kita tidak boleh main-main di dalam hidup ini, karena semua yang kita lakukan di muka bumi ini adalah 'mewakili' Allah, karena manusia adalah representasi-Nya, sebagaimana firman-Nya: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'
Mereka berkata, 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?' Tuhan berfirman, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui," (QS. Al-Baqarah: 30).
Ayat ini memberi arti penting posisi manusia sebagai khalifah di muka bumi, akan tetapi juga mengisyaratkan Allah tidak akan terlibat langsung, paling tidak dalam pandangan visual manusia, karena Ia telah menunjuk representatif-Nya.
Sebagai representasi Tuhan, maka wajar kalau tanggung jawab yang diemban manusia sungguh amat luar biasa beratnya. Inilah makna basmalah, "Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang".
Secara gramatikal bahasa Arab, terjemahan "Atas nama Allah" atau "Dengan nama Allah" keduanya dimungkinkan. Jika dalam suatu acara presiden berhalangan datang untuk membuka sebuah acara lalu didisposisikan kepada wakil presiden atau salah seorang menterinya, kalimat yang digunakan wapres atau menteri ialah "Bi ism al-rais al-jumhuriyyah…" (Atas nama Presiden…). Dengan demikian, makna basmalah menjadi amat penting dalam eksistensi kehidupan manusia.
Tidak adanya huruf alif sebelum kata ism, yakni huruf ba langsung menempel kata ism (bism Allah), sebagai wujud kedekatan antara pemberi amanah dan yang diamanati, antara perbuatan dan pembuatnya, dan antara sifat dan yang disifati. Dari segi ini cukup berdasar jika kalangan ulama tasawuf, ulama Syiah, dan kecenderungan ulama Sunni memberi bobot lebih penting terhadap lafal basmalah.
Mereka yakin bahwa semua perbuatan yang diawali dengan basmalah pasti mendatangkan berkah. Mari kita memulai seluruh perbuatan kita dengan basmalah (Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Wallahua'lam.

Antara Cinta Rasul & Peringatan Maulid Nabi SAW

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Berikut ini saya sajikan penjelasan mengenai perayaan Maulid Nabi Muhammad saw yang saya rangkum dari blog www.muslim.or.id. Semoga permasalahan yang selalu menjadi polemik setiap tahunnya ini dapat dipahami secara ilmiah dan juga menyeluruh.
Bagi pihak yang kontra, harap menyimak penjelasan-penjelasan berikut dengan seksama, hati yang tenang dan pikiran yang  jernih, agar tidak muncul prasangka-prasangka buruk. Semisal prasangka bahwa melarang perayaan Maulid adalah mengkafirkan dan menyesatkan setiap orang yang mengikuti perayaan tersebut. Semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua.
Selamat Membaca…‼!

Antara Cinta Rasul & Peringatan Maulid Nabi SAW
Sebenarnya adakah kaitan antara cinta Rasul dan perayaan maulid, alias hari kelahiran beliau? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh bagi mereka yang kerap merayakannya. Bagaimana tidak, sedang disana dibacakan sejarah hidup beliau, diiringi dengan syair-syair pujian dalam bahasa Arab untuk beliau (yang dikenal dengan nama burdah), yang kesemuanya tak lain demi mengenang jasa beliau dan memupuk cinta kita kepadanya…?
Dalam sebuah muktamar negara-negara Islam sedunia, salah seorang dai kondang dari Arab Saudi yang bernama Dr. Said bin Misfir Al Qahthani, berjumpa dengan seorang tokoh Islam (syaikh) dari negara tetangga. Melihat pakaiannya yang khas ala Saudi, Syaikh tadi memulai pembicaraan (sebagaimana yang dituturkan sendiri oleh Dr. Said Al Qahthani ketika berkunjung ke kampus kami, Universitas Islam Madinah dan memberikan ceramah di sana):
Syaikh: “Assalaamu ‘alaikum…”
Dr. Said: “Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabaraatuh…”
Syaikh: “Nampaknya Anda dari Saudi ya?”
Dr. Said: “Ya, benar.”
Syaikh: “Oo, kalau begitu Anda termasuk mereka yang tidak cinta kepada Rasul…!”
(kaget bukan kepalang dengan ucapan Syaikh ini, ia berusaha menahan emosinya sembari bertanya):
Dr. Said: “Lho, mengapa bisa demikian?”
Syaikh: “Ya, sebab seluruh negara di dunia merayakan maulid Nabi saw kecuali negara Anda; Saudi Arabia… ini bukti bahwa kalian orang-orang Saudi tidak mencintai Rasulullah saw”
Dr. Said: “Demi Allah… tidak ada satu hal pun yang menghalangi kami dari merayakan maulid beliau, kecuali karena kecintaan kami kepadanya!”
Syaikh: “Bagaimana bisa begitu??”
Dr. Said: “Anda bersedia diajak diskusi…?”
Syaikh: “Ya, silakan saja..”
Dr. Said: “Menurut Anda, perayaan Maulid merupakan ibadah ataukah maksiat?”
Syaikh: “Ibadah tentunya!” (dengan nada yakin).
Dr. Said: “Baik… apakah ibadah ini diketahui oleh Rasul saw, ataukah tidak?”
Syaikh: “Tentu beliau tahu akan hal ini!”
Dr. Said: “Jika beliau tahu akan hal ini, lantas beliau sembunyikan ataukah beliau ajarkan kepada umatnya?”
(…. Sejenak syaikh ini terdiam. Ia sadar bahwa jika ia mengatakan “ya”, maka pertanyaan berikutnya ialah: Mana dalilnya? Namun ia juga tidak mungkin mengatakan tidak, sebab konsekuensinya Nabi saw masih menyembunyikan sebagian ajaran Islam. Akhirnya dengan terpaksa ia menjawab )
Syaikh: “Iya… beliau ajarkan kepada umatnya…”
Dr. Said: “Bisakah Anda mendatangkan dalil atas hal ini?”
(Syaikh pun terdiam seribu bahasa… ia tahu bahwa tidak ada satu dalil pun yang bisa dijadikan pegangan dalam hal ini…)
Syaikh: “Maaf, tidak bisa…”
Dr. Said: “Kalau begitu ia bukan ibadah, tapi maksiat.”
Syaikh: “Oo tidak, ia bukan ibadah dan bukan juga maksiat, tapi bidáh hasanah.”
Dr. Said: “Bagaimana Anda bisa menyebutnya sebagai bid’ah hasanah, padahal Rasul saw mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat?”
Setelah berdialog cukup lama, akhirnya syaikh tadi mengakui bahwa sikap sahabatnyalah yang benar, dan bahwa maulid Nabi yang selama ini dirayakan memang tidak berdasar kepada dalil yang shahih sama sekali.
Ini merupakan sepenggal dialog yang menggambarkan apa yang ada di benak sebagian kaum muslimin terhadap sikap sebagian kalangan yang enggan merayakan maulid Nabi saw Dialog singkat di atas tentunya tidak mewakili sikap seluruh kaum muslimin terhadap mereka yang tidak mau ikut maulidan. Kami yakin bahwa di sana masih ada orang-orang yang berpikiran terbuka dan obyektif, yang siap diajak berdiskusi untuk mencapai kebenaran sesungguhnya tentang hal ini.
Namun demikian, ada juga kalangan yang bersikap sebaliknya. Menutup mata, telinga, dan fikiran mereka untuk mendengar argumentasi pihak lain. Karenanya kartu truf terakhir mereka ialah memvonis pihak lain sebagai ‘wahhabi’ yang selalu dicitrakan sebagai ‘sekte Islam sempalan’, yang konon diisukan sebagai kelompok yang gampang membid’ahkan, mengkafirkan, mengingkari karomah para wali, dan sederet tuduhan lainnya.
Cara seperti ini bukanlah hal baru. Sejak dahulu pun mereka yang tidak senang kepada dakwah tauhid, selalu berusaha memberikan gelar-gelar buruk kepada para dainya. Tujuannya tak lain ialah agar masyarakat awam antipati terhadap mereka. Simaklah bagaimana Fir’aun dan kaumnya menggelari Musa dan Harun ‘alaihimassalam:
(57) Fir’aun mengatakan: “Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu hai Musa? (58) Sungguh kami pasti mendatangkan pula kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).” (59) Musa menjawab: “Waktu pertemuan itu ialah di hari raya dan hendaklah manusia dikumpulkan pada waktu dhuha.” (60) Maka Fir’aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. (61) Musa berkata kepada mereka: “Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, hingga Dia membinasakanmu dengan siksa.” Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan. (62) Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). (63) Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya, dan hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama…” (Qs. Thaha: 57 – 63)
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, (24) kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “Ia (Musa) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.” (Qs. Ghafir: 23-24).
Simak pula bagaimana kaum Nabi Luth as hendak mengusir beliau dan para pengikutnya dengan tuduhan ‘orang-orang yang sok menyucikan diri’: “Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih.” (Qs. An Naml: 56)
Atau Nabi Shalih as yang dianggap sombong dan pembohong oleh kaumnya… Allah berfirman: (23) Kaum Tsamud pun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). (24) Mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau begitu kita benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila”, (25) Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya -yakni Nabi Shaleh as- di antara kita? Sebenarnya dia seorang yang amat pendusta lagi sombong.” (26) Kelak mereka akan tahu siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong. (Qs. Al Qamar: 23 - 26).
Sampai junjungan kita Rasulullah saw pun tak luput dari julukan-julukan buruk kaumnya. Allah berfirman: (1) Shaad, demi al-Qur’an yang mempunyai keagungan (2) Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (3) Betapa banyaknya ummat sebelum mereka yang telah kami binasakan, lau mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (4) Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” (Qs. Shaad: 1-4).
Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan obyektif terhadap mereka. Karena boleh jadi kebenaran justeru berpihak kepada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih.
Berangkat dari sini, penulis ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk mendudukkan masalah perayaan maulid Nabi, benarkah ia merupakan bid’ah hasanah? Benarkah ia merupakan perwujudan cinta kepada Rasul yang dibenarkan? Apakah asal muasal perayaan ini? dan berbagai masalah lainnya seputar maulid Nabi saw Tentunya semua akan disajikan secara ilmiah dengan merujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman As Salafus shaleh. Wallahu a’lam bissawab.

Cinta Kepada Rasul, Dahulu Dan Sekarang

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Berikut ini saya sajikan penjelasan mengenai perayaan Maulid Nabi Muhammad saw yang saya rangkum dari blog www.muslim.or.id. Semoga permasalahan yang selalu menjadi polemik setiap tahunnya ini dapat dipahami secara ilmiah dan juga menyeluruh.
Bagi pihak yang kontra, harap menyimak penjelasan-penjelasan berikut dengan seksama, hati yang tenang dan pikiran yang  jernih, agar tidak muncul prasangka-prasangka buruk. Semisal prasangka bahwa melarang perayaan Maulid adalah mengkafirkan dan menyesatkan setiap orang yang mengikuti perayaan tersebut. Semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua.
Selamat Membaca…‼!
************
Cinta Kepada Rasul, Dahulu Dan Sekarang
Sebagai seorang muslim, mencintai Rasulullah saw adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Hal ini merupakan konsekuensi dari kesaksian kita akan kerasulan beliau saw. Bagaimana tidak? melalui beliau lah kita terbebas dari segudang warisan jahiliyah yang telah mengakar begitu lama. Kalau lah tidak karena hidayah Allah, kemudian karena pengorbanan beliau dalam mendakwahkan Islam, niscaya sampai hari ini kita masih terjerat dalam belenggu syirik dan jahiliyah.
Segala puji bagi-Mu ya Allah, atas hidayah dan taufiq yang Kau curahkan kepada kami, dan semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah padamu ya Rasulullah, atas setiap pengorbananmu demi menegakkan dien ini…
Sungguh, berbicara mengenai kepribadian beliau adalah suatu kenikmatan tersendiri, berkisah tentang pernak pernik kehidupan beliau benar-benar menimbulkan decak kagum dan membesarkan hati…
Beliau lah manusia pilihan yang lahir dari manusia-manusia terpilih. Berbekal hati sanubari yang disucikan dari segala noda dan dosa, beliau beranjak menjadi manusia terhebat sepanjang sejarah. Perilakunya sungguh luar biasa, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata… sorot wajahnya benar-benar mencerminkan seorang pemimpin agung yang amat welas kasih terhadap rakyatnya… siapa pun yang menatap wajah beliau pastilah jatuh cinta diliputi perasaan segan karena wibawanya yang demikian besar.
Singkatnya, beliaulah sosok insan kaamil sejati yang tak mungkin ada tandingannya. Maka pantaslah jika para sahabat benar-benar jatuh cinta kepada beliau. Mereka mencintai kekasihnya yang satu ini lebih dari orang tua, anak dan isteri mereka; bahkan lebih dari diri mereka sendiri!
Setiap kegembiraan yang beliau rasakan adalah kegembiraan bagi mereka, dan setiap kesedihan yang beliau rasakan merupakan kesedihan bagi mereka. Mereka ikut sakit tatkala beliau sakit, mereka kelaparan tatkala beliau kelaparan, dan mereka tak dapat tidur sebelum kedua mata beliau terpejam…
Dahulu…
Dahulu, diriwayatkan dari Sayyidina ‘Umar bin Khatthab ra, katanya: “Dahulu aku mempunyai seorang tetangga Anshari dari Bani Umayyah bin Zaid, sebuah kabilah yang bermukim di dataran tinggi kota Madinah. Kami berdua senantiasa bergantian mengunjungi Rasulullah saw Kalau hari ini dia yang turun maka keesokannya gantian aku yang turun. Usai turun menemui Rasulullah saw, kukabarkan kepadanya apa-apa yang disampaikan Rasulullah saw hari itu, baik itu berupa wahyu atau lainnya. Demikian pula halnya kalau ia yang turun, ia melakukan hal serupa.
Sebagai lelaki Quraisy, kami adalah orang yang memiliki supremasi terhadap istri-istri kami. Akan tetapi setiba kami di Madinah, kami dapati bahwa orang Anshar adalah orang yang kalah oleh istri-istri mereka. Akibatnya istri-istri kami mulai terpengaruh dengan tabiat wanita Anshar. Pernah suatu ketika aku membentak istriku… tapi ia malah membantah. Aku pun jadi berang begitu tahu ia berani membantahku.
“Mengapa kamu marah atas sikapku, padahal demi Allah, istri-istri Nabi saja berani membantah beliau…? Bahkan ada di antara mereka yang sampai meninggalkan beliau seharian ini hingga malam…” sanggah istriku.
Aku pun tercengang mendengarnya… “Benar-benar merugilah kalau sampai ada dari istri beliau yang berbuat demikian” gumamku.
Saat itu juga aku menyingsingkan gamisku dan bergegas menuju rumah Hafshah. Setibaku di rumahnya, kukatakan kepadanya:
“Hai Hafshah, benarkah ada diantara kalian yang membikin kesal Rasulullah saw seharian ini hingga malam?”
“Benar…” jawabnya.
“Alangkah meruginya kamu kalau begitu… Apa kamu merasa aman dari murka Allah setelah kamu membikin kesal Rasul-Nya, hingga boleh jadi kamu celaka karenanya…? Jangan minta macam-macam kepada Nabi saw, dan jangan sekali-kali membantahnya atau meninggalkannya. Mintalah kepadaku apa yang kau inginkan dan jangan kamu terpengaruh oleh madumu, karena ia lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah saw -yakni Aisyah-”.
Konon ketika itu warga Madinah sedang ramai membicarakan isu santer bahwa Raja Ghassan tengah menyiapkan pasukan berkudanya untuk menyerbu Madinah.
Suatu ketika, tibalah giliran tetanggaku yang Anshari itu untuk turun menemui Rasulullah saw Di petang harinya, ia mendatangiku sembari menggedor pintu rumahku keras-keras…”Hoi, apa kamu ada di dalam?” teriaknya.
Aku pun tersentak kaget dan bergegas keluar menemuinya… tanpa basa-basi, ia pun langsung memulai pembicaraan:
“Wah, ada perkara besar yang barusan terjadi!”
“Ada apa? Apa Ghassan telah tiba?” tanyaku.
“Oo.. jauh lebih besar dan lebih mengerikan dari itu… Nabi saw telah menceraikan istri-istrinya!!” katanya.
“Alangkah meruginya si Hafshah kalau begitu… aku telah menduga bahwa hal ini bakal terjadi…” gumamku…” (HR. Bukhari no 5191).
Lihatlah, bagaimana kehidupan para sahabat sangat terpengaruh dengan rumah tangga Nabi saw Bagi mereka, penyerbuan pasukan berkuda Raja Ghassan ke Madinah tidak ada apa-apanya, dibanding kesedihan mereka atas apa yang terjadi dengan rumah tangga kekasih mereka saat itu. Raut muka dan kondisi si Anshari tadi seakan mengatakan: “Biarlah Ghassan menyerbu Madinah dan merampas harta benda yang kami miliki, yang penting Rasulullah ceria kembali…”
Dahulu, ketika sebagian kaum muslimin terpukul mundur dan meninggalkan Rasulullah saw dalam perang Uhud, ada seorang sahabat yang bernama Abu Thalhah yang berdiri tegar di hadapan Nabi saw, melindungi beliau dengan perisainya…
Anas bin Malik ra mengisahkan: Konon Abu Thalhah adalah seorang pemanah ulung yang busurnya terkenal kuat, dan hari itu ia telah mematahkan dua atau tiga buah busurnya. Di sampingnya ada seorang lelaki yang membawa sejumlah anak panah, maka perintah Nabi saw kepadanya:
“Berikan semua anak panahmu kepada Abu Thalhah…”, sembari Beliau saw mengamati pergerakan musuhnya.
“Demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, janganlah engkau menampakkan dirimu kepada musuh agar engkau tak terkena panah… biarlah dadaku yang melindungi dadamu…!” seru Abu Thalhah ra kepada Rasulullah saw (Lihat Shahih Bukhari, hadits no 3811 & 4064; dan Shahih Muslim, hadits no: 1811).
Subhaanallaah, betapa besar kecintaan mereka kepada Nabi saw hingga nyawa pun menjadi murah demi keselamatan beliau saw… benar-benar gambaran kecintaan yang sejati.
Dahulu, ada seorang sahabat yang bernama Muhaiyishah bin Mas’ud Al Khazraji Al Anshari, julukannya Abu Sa’ad. Ia tergolong warga Madinah. Rasulullah saw pernah mengutusnya ke daerah Fadak untuk mengajak penduduknya masuk Islam. Ia termasuk salah seorang sahabat yang ikut serta dalam perang Uhud, Khandaq dan berbagai peperangan berikutnya. Ia memiliki saudara kandung yang lebih tua usianya, yaitu Huwaiyishah bin Mas’ud; akan tetapi Muhaiyishah lebih cerdas dan lebih afdhal dari saudaranya ini, bahkan ialah yang menjadi sebab keislaman saudaranya.
Ada sebuah kisah menakjubkan yang terjadi antara Muhaiyishah dan Huwaiyishah. Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Ishaq dalam Kitab Al Maghazi dengan sanadnya dari Ibnu ‘Abbas ra, yang berkenaan dengan kisah pembunuhan seorang Yahudi keparat yang senantiasa menyakiti Rasulullah saw melalui syair-syairnya, namanya Ka’ab Ibnul Asyraf. Si Yahudi ini berusaha memprovokasi orang-orang Arab untuk memerangi Rasulullah saw Usai terbunuhnya Ka’ab, Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya: “Jika kalian berpapasan dengan orang Yahudi siapa pun di sana, maka bunuh saja!” Maka segeralah Muhaiyishah bin Mas’ud menghabisi Ibnu Sunainah, salah seorang saudagar Yahudi yang dahulu bergaul erat dan berjual beli dengannya. Ketika itu, Huwaiyishah bin Mas’ud belum masuk Islam dan ia lebih tua dari Muhaiyishah. Begitu ia tahu Muhaiyishah membunuh si Yahudi tadi, Huwaiyishah langsung memukul dan menghardiknya:
“Hai musuh Allah, sampai hati kau membunuhnya? Padahal demi Allah, sebagian lemak yang ada di perutmu adalah berasal dari hartanya!”, bentak Huwaiyishah.
“Demi Allah, aku diperintahkan untuk membunuhnya oleh seseorang yang bila ia memerintahkanku untuk membunuhmu, niscaya akan kupenggal juga lehermu!” jawab Muhaiyishah tegas.
Huwaiyishah tertegun sejenak mendengarnya…
“Kalau begitu, agama yang menjadikanmu seperti ini benar-benar luar biasa…” gumam Huwaiyishah.
Maka Huwaiyishah pun menyatakan keislamannya, dan inilah awal keisalaman dirinya. Seketika itulah Muhaiyishah mengucapkan syair:
Ia mencelaku, padahal kalau disuruh membunuhnya,
pastilah kutebaskan pedangku pada tengkuknya.
Pedang nan putih bak garam yang berkilau sinarnya,
yang bila kuhunus maka tak akan lagi berdusta.
Aku tak suka bila membunuhmu karena taat kepadanya,
diganti dengan apa yang terdapat antara Ma’rib dan Bushra*
(Lihat Al Istie’aab fi Ma’rifatil As-Haab, 4/1463-1464, oleh Al Hafizh Ibnu ‘Abdil Bar; Dalailun Nubuwwah 3/200, oleh Imam Al Baihaqy; Sirah Ibnu Hisyam, 3/326; dan yang lainnya).
(*) Ma’rib adalah nama sebuah kota di Yaman, sedangkan Bushra adalah nama sebuah daerah di Syam.
Wuiihh… benar-benar sulit dipercaya! Benar-benar kecintaan yang tiada tara… adakah diantara kita yang sanggup menirunya? Alih-alih ingin seperti mereka, disuruh ikut sunnahnya saja setengah mati susahnya, apalagi disuruh seperti mereka? mustahil rasanya…
Sekarang…
Sekarang, cinta Rasul kebanyakan hanyalah slogan yang sulit dicari wujudnya di lapangan. Cinta Rasul sering kali diidentikkan dengan shalawatan, perayaan maulid, isra’ mi’raj, dan yang sejenisnya.
Sekarang, orang yang dianggap cinta Rasul ialah mereka yang mengagungkan beliau dengan bertawassul kepadanya dalam do’a. Atau mereka yang mengirimkan Al Fatehah kepada beliau, atau mereka yang menggelari beliau dengan gelar yang bermacam-macam: seperti Sayyidina, Habibina, dan lain-lain.
Sekarang, ‘Cinta Rasul’ merupakan judul kaset yang sering kita dengar dimana-mana… yang dinyanyikan oleh pria dan wanita, tua dan muda… semua merasa khusyuk ketika melantunkan kata-kata: Shalaatullaah salaamullaah… ‘alal habiibi Rasuulillaah…
Akan tetapi jangan tanya soal sunnah beliau kepada mereka… karena mereka akan menjawab bahwa yang mereka lakukan tadilah yang namanya sunnah. Cinta Rasul kini telah berubah menjadi klaim yang diperebutkan setiap golongan. Cinta Rasul yang dahulu diwujudkan dengan ittiba’ kepadanya, kini semakin luas maknanya hingga mencakup bid’ah segala. Menurut mereka, perayaan maulid, isra’ mi’raj, shalawatan bid’ah, dan yang sejenisnya merupakan perwujudan nyata akan kecintaan seseorang kepada Nabinya. Sehingga otomatis bila ada orang yang mengingkari hal-hal semacam itu, serta-merta dituduhlah ia sebagai orang yang tidak cinta Rasul, atau wahhabi, dan lain sebagainya.
Di sisi lain, mereka berusaha mencari ‘pembenaran’ -dan bukannya kebenaran- atas apa yang selama ini mereka lakukan. Mereka berusaha meyakinkan bahwa apa yang mereka lakukan selama ini tidaklah bertentangan dengan sunnah Nabi saw Mereka mengumpulkan sebanyak mungkin ‘dalil’ (baca: syubhat) untuk melegitimasi praktik ‘sunnah’ (baca: bid’ah) mereka.
Memang zaman kita ini penuh dengan keanehan… orang yang berusaha menghidupkan sunnah dan membasmi bid’ah justeru dicap macam-macam; seperti tidak cinta Rasul…! atau wahabi…! Namun sebaliknya, mereka yang melestarikan berbagai bid’ah khurafat dengan kedok ‘Cinta Rasul’ justeru mengklaim dirinya sebagai ahlussunnah wal jama’ah. Wallahu a’lam bishshawab.

Apa Hukum Memperingati Maulid Nabi?

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Berikut ini saya sajikan penjelasan mengenai perayaan Maulid Nabi Muhammad saw yang saya rangkum dari blog www.muslim.or.id. Semoga permasalahan yang selalu menjadi polemik setiap tahunnya ini dapat dipahami secara ilmiah dan juga menyeluruh.
Bagi pihak yang kontra, harap menyimak penjelasan-penjelasan berikut dengan seksama, hati yang tenang dan pikiran yang  jernih, agar tidak muncul prasangka-prasangka buruk. Semisal prasangka bahwa melarang perayaan Maulid adalah mengkafirkan dan menyesatkan setiap orang yang mengikuti perayaan tersebut. Semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua.
Selamat Membaca…‼!
*******

Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab: Pertama, malam kelahiran Rasul saw tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.
Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi saw melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kamilah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9).
Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara seperti itu. Apabila Allah ta’ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul saw maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah?
Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla yang artinya: “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3).
Oleh sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasulullah. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.”
Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul saw maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul saw hanya bermaksud mengagungkannya.
Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi saw melalui diadakannya perayaan ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul saw adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul saw sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia.
Demikian pula pengagungan Rasul saw termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi saw juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya.
Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi saw dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul saw adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan.
Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan tidak dilegalkan oleh syariat, tidak juga oleh indera maupun akal sehat. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah yang di dalamnya terdapat ungkapan yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasul saw sampai-sampai mereka mengangkat beliau lebih agung daripada Allah swt. Dan kami juga pernah mendengar kebodohan sebagian orang yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila si pembaca kisah Nabi sudah mencapai kata-kata “telah lahir Al-Mushthafa” maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul saw hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh.
Bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul saw serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?
Bid’ah ini -yaitu bid’ah Maulid- baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun utama. Selain itu di dalamnya muncul berbagai kemungkaran ini yang merusak fondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu juga terjadi campur baur lelaki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari Fatawa Arkanil Islam, hal. 172-174).