-->

TOKOH ISLAM: Abu Bakar Ash-Shiddiq

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


= ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ (11-13 H) =
Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi SAW pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay. Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah SAW yang telah menemani sejak awal diutusnya sebagai Rasul, beliau termasuk orang yang awal masuk Islam. Abu Bakar memiliki julukan “Ash-Shiddiq” dan “Atiq”.
Ada yang berkata bahwa Abu Bakar dijuluki “ash-Shiddiq” karena ketika terjadi peristiwa isra’ mi’raj, orang-orang mendustakan kejadian tersebut, sedangkan Abu Bakar langsung membenarkannya.
Allah telah mempersaksikan persahabatan Rasulullah dengan Abu Bakar dalam Al-Qur`an, yaitu dalam firman-Nya: “Sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya: Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. at-Taubah: 40).
Aisyah, Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan: “Abu Bakar-lah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”
Allah juga berfirman: “Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zumar: 33).
Imam adz-Dzahabi setelah membawakan ayat ini dalam kitabnya al-Kabaa`ir, beliau meriwayatkan bahwa Ja`far Shadiq berujar: ”Tidak ada perselisihan lagi bahwa orang yang datang dengan membawa kebenaran adalah Rasulullah, sedangkan yang membenarkannya adalah Abu Bakar. Masih adakah keistimewaan yang melebihi keistimewaannya di tengah-tengah para sahabat?”
Dari Amru bin Ash, bahwa Rasulullah mengutusnya atas pasukan Dzatus Salasil: “Aku lalu mendatangi beliau dan bertanya “Siapa manusia yang paling engkau cintai?”, beliau bersabda: ”Aisyah”. Aku berkata: “kalau dari lelaki?”, beliau menjawab: “ayahnya (Abu Bakar)”. Aku berkata: “lalu siapa?”, beliau menjawab: “Umar”, lalu menyebutkan beberapa orang lelaki.” (HR. Bukhari dan Muslim).
“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku sebagai kekasih, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Sa`id, bahwa Rasulullah duduk di mimbar, lalu bersabda: ”Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia dengan apa yang di sisi-Nya. Maka hamba itu memilih apa yang di sisi-Nya”, lalu Abu bakar menangis dan menangis, lalu berkata: ”Ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu”. Abu Sa`id berkata: “Yang dimaksud hamba tersebut adalah Rasulullah, dan Abu Bakar adalah orang yang paling tahu diantara kami”. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dengan harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar. Andaikan aku boleh mengambil seorang kekasih (dalam riwayat lain ada tambahan: “selain rabb-ku”), niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Tetapi ini adalah persaudaraan dalam Islam. Tidak ada di dalam masjid sebuah pintu kecuali telah ditutup, melainkan hanya pintu Abu Bakar saja (yang masih terbuka).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua. Namun kalian malah berkata: ‘kamu adalah pendusta’. Sedangkan Abu Bakar membenarkan (ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan) sahabatku?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu 2 kali. Sejak itu Abu bakar tidak pernah disakiti (oleh seorang pun dari kaum muslimin). (HR. Bukhari).

= MASA KEKHALIFAHAN =
Dalam riwayat Bukhari diriwayatkan dari Aisyah, bahwa ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau yang berada di daerah Sunh. Beliau turun dari hewan tunggangannya itu kemudian masuk ke masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah Rasulullah yang ditutupi dengan kain kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis kemudian berkata: “demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang sudah meninggal.” Kemudian Abu Bakar keluar dan Umar sedang berbicara dihadapan orang-orang. Maka Abu Bakar berkata: “duduklah wahai Umar!” Namun Umar enggan untuk duduk. Maka orang-orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata: “Amma ba`du, barang siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Kalau kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.
Allah telah berfirman: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)
Ibnu Abbas berkata: “Demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang menerima ayat Al-Qur`an itu, tak seorangpun diantara mereka yang mendengarnya melainkan melantunkannya.”
Sa`id bin Musayyab berkata, bahwa Umar ketika itu berkata: “Demi Allah, sepertinya aku baru mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar, sampai-sampai aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke tanah ketika aku mendengar Abu Bakar membacanya. Kini aku sudah tahu bahwa nabi memang sudah meninggal.”
Dalam riwayat Bukhari lainnya, Umar berkata: “Maka orang-orang menabahkan hati mereka sambil tetap mengucurkan air mata. Lalu orang-orang Anshor berkumpul di sekitar Sa`ad bin Ubadah yang berada di Saqifah Bani Sa`idah”. Mereka berkata: “Dari kalangan kami (Anshor) ada pemimpin, demikian pula dari kalangan kalian!”. Maka Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin Jarrah mendekati mereka. Umar mulai bicara, namun segera dihentikan Abu Bakar. Dalam hal ini Umar berkata: “Demi Allah, yang kuinginkan sebenarnya hanyalah mengungkapkan hal yang menurutku sangat bagus. Aku khawatir Abu Bakar tidak menyampaikannya”. Kemudian Abu Bakar bicara, ternyata dia orang yang terfasih dalam ucapannya, beliau berkata: “Kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri.” Habbab bin Mundzir menanggapi: “Tidak, demi Allah kami tidak akan melakukannya, dari kami ada pemimpin dan dari kalian juga ada pemimpin.” Abu Bakar menjawab: “Tidak, kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri. Mereka (kaum Muhajirin) adalah suku Arab yang paling adil, yang paling mulia dan paling baik nasabnya. Maka bai’atlah Umar atau Abu Ubaidah bin Jarrah.” Maka Umar menyela: “Bahkan kami akan membai`atmu. Engkau adalah sayyid kami, orang yang terbaik diantara kami dan paling dicintai Rasulullah.” Umar lalu memegang tangan Abu Bakar dan membai`atnya yang kemudian diikuti oleh orang banyak. Lalu ada seorang yang berkata: “Kalian telah membunuh (hak khalifah) Sa`ad (bin Ubadah).” Maka Umar berkata: “Allah yang telah membunuhnya.” (Riwayat Bukhari).
Menurut ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika beliau telah dibai`at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata: “sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami.” Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata: “tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam.” Terbukti, Abu Bakar tetap memerahkan susu kambing-kambing mereka.
Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji kaum muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah umroh, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H. beliau memasuki kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Beliau ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah (Ayahnya Abu Bakar): “ini putramu (telah datang)!”
Maka Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh. Beliau turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata: “Wahai ayahku, janganlah anda berdiri!” Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.
Setelah itu datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab bin Usaid, Suhail bin Amru, Ikrimah bin Abi Jahal, dan Harits bin Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada Abu Bakar: “Assalamu`alaika wahai khalifah Rasulullah!” mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata: “Wahai Atiq (julukan Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!” Abu Bakar berkata: “Wahai ayahku, tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah.” Lalu Abu Bakar berkata: “Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan dzalim?” Ternyata tidak ada seorangpun yang datang kepada Abu Bakar untuk melapor sebuah kedzaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.

= WAFATNYA =
Menurut para ulama ahli sejarah Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya antara waktu magrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah). Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah.
========================================

PEMBELAJARAN LANGSUNG: Mengajar Lebih Efisien

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Dalam proses belajar mengajar, seorang guru dituntut untuk memiliki sekumpulan ilmu dan skill agar peserta didik cepat paham dan mengerti dari apa yang diajarkan. Salah satu ilmu yang perlu guru miliki adalah pemilihan metode dan model pembelajaran yang tepat, sesuai dengan kondisi peserta didik dan situasi lingkungan dimana proses belajar mengajar itu berlangsung. Oleh karena itu berikut ini, saya memposting salah satu bentuk model pembelajaran yang sering digunakan guru dalam kelas. Model pembelajaran tersebut biasa disebut dengan Model Pembelajaran Langsung (Direct Instructional).


Apa Itu Model Pembelajaran Langsung?
=================================
Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku siswa, dengan mengutamakan pendekatan deduktif.

Ciri-Ciri Model Pembelajaran Langsung
=================================
Adapun ciri-ciri model pembelajaran langsung adalah sebagai berikut:
  • Transformasi dan ketrampilan secara langsung;
  • Pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu;
  • Materi pembelajaran yang telah terstuktur;
  • Lingkungan belajar yang telah terstruktur; dan
  • Di struktur oleh guru.
Dalam model pembelajaran ini, guru berperan sebagai penyampai informasi. Dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai, misalnya film, tape recorder, gambar,  peragaan, dan sebaganya.
Informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan prosedural (yaitu pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu), atau pengetahuan deklaratif (yaitu pengetahuan tentang sesuatu dapat berupa fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi).
Kritik terhadap penggunaan model ini antara lain bahwa model ini tidak dapat digunakan setiap waktu dan tidak untuk semua tujuan pembelajaran dan semua siswa.

Bagaimana Tahapan Model Pembelajaran Langsung?
=============================================
Tahapan atau sintaks model pembelajaran langsung menurut Bruce dan Weil (1996), sebagai berikut:
  • Orientasi. Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, akan sangat menolong siswa jika guru memberikan kerangka pelajaran dan orientasi terhadap materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk orientasi dapat berupa: (1) kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa; (2) mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pelajaran; (3) memberikan penjelasan/arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan; (4) menginformasikan materi/konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran; dan (5) menginformasikan kerangka pelajaran.
  • Presentasi. Pada fase ini guru dapat menyajikan materi pelajaran baik berupa konsep-konsep maupun keterampilan. Penyajian materi dapat berupa: (1) penyajian materi dalam langkah-langkah kecil sehingga materi dapat dikuasai siswa dalam waktu relatif pendek; (2) pemberian contoh-contoh konsep; (3) pemodelan atau peragaan keterampilan dengan cara demonstrasi atau penjelasan langkah-langkah kerja terhadap tugas; dan (4) menjelaskan ulang hal-hal yang sulit.
  • Latihan terstruktur. Pada fase ini guru memandu siswa untuk melakukan latihan-latihan. Peran guru yang penting dalam fase ini adalah memberikan umpan balik terhadap respon siswa dan memberikan penguatan terhadap respon siswa yang benar dan mengoreksi respon siswa yang salah.
  • Latihan terbimbing. Pada fase ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih konsep atau keterampilan. Latihan terbimbing ini baik juga digunakan oleh guru untuk mengases/menilai kemampuan siswa untuk melakukan tugasnya. Pada fase ini peran guru adalah memonitor dan memberikan bimbingan jika diperlukan.
  • Latihan mandiri. Pada fase ini siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri, fase ini dapat dilalui siswa jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 85-90% dalam fase bimbingan latihan.
Pembelajaran langsung (direct instruction) merupakan salah satu variasi dari alternatif metode pembelajaran yang didominasi oleh guru (a teacher-dominated instructional alternative) seperti metode presentasi. Bedanya, pembelajaran ini amat berkaitan dengan apa yang diketahui tentang pengajaran efektif dan bagaimana siswa belajar.
Di lain pihak, Slavin (2003) mengemukakan 7 langkah dalam sintaks pembelajaran langsung, yaitu sebagai berikut:

  • Menginformasikan tujuan pembelajaran dan orientasi pelajaran kepada siswa. Dalam tahap ini guru menginformasikan hal-hal yang harus dipelajari dan kinerja siswa yang diharapkan.
  • Me-review pengetahuan dan keterampilan prasyarat. Dalam tahap ini guru mengajukan pertanyaan untuk mengungkap pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai siswa.
  • Menyampaikan materi pelajaran. Dalam fase ini, guru menyampaikan materi, menyajikan informasi, memberikan contoh-contoh, mendemontrasikan konsep dan sebagainya.
  • Melaksanakan bimbingan. Bimbingan dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman siswa dan mengoreksi kesalahan konsep.
  • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih. Dalam tahap ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih keterampilannya atau menggunakan informasi baru secara individu atau kelompok.
  • Menilai kinerja siswa dan memberikan umpan balik. Guru memberikan review terhadap hal-hal yang telah dilakukan siswa, memberikan umpan balik terhadap respon siswa yang benar dan mengulang keterampilan jika diperlukan.
  • Memberikan latihan mandiri. Dalam tahap ini, guru dapat memberikan tugas-tugas mandiri kepada siswa untuk meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang telah mereka pelajari.

Tujuan Model Pembelajaran Langsung
================================
Tujuan dari jenis pembelajaran langsung adalah, untuk membantu siswa mempelajari materi teoritis dasar seperti pelajaran membaca, matematika dan sebagainya dengan cara yang langsung dan lebih efisien.

Karakteristik Model Pembelajaran Langsung
=====================================
Karakteristik pembelajaran ini ada enam elemen, yaitu:
  • Berpusat pada pembelajar (teacher centrality).
  • Berorientasi pada tugas yang bersifat teoritis.
  • Berpengharapan positif.
  • Kerjasama dan tanggungjawab antar siswa amat diperlukan.
  • Tidak berdampak negatif.
  • Berstruktur tetap.

Pada Situasi Apa Pembelajaran Langsung Dapat Digunakan?
===================================================
Beberapa situasi yang memungkinkan model pembelajaran langsung cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran:
  1. Ketika guru ingin mengenalkan suatu bidang pembelajaran yang baru dan memberikan garis besar pelajaran dengan mendefinisikan konsep-konsep kunci dan menunjukkan keterkaitan di antara konsep-konsep tersebut.
  2. Ketika guru ingin mengajari siswa suatu keterampilan atau prosedur yang memiliki struktur yang jelas dan pasti.
  3. Ketika guru ingin memastikan bahwa siswa telah menguasai keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada siswa, misalnya penyelesaian masalah (problem solving).
  4. Ketika guru ingin menunjukkan sikap dan pendekatan-pedekatan intelektual (misalnya menunjukkan bahwa suatu argumen harus didukung oleh bukti-bukti, atau bahwa suatu penjelajahan ide tidak selalu berujung pada jawaban yang logis)
  5. Ketika subjek pembelajaran yang akan diajarkan cocok untuk dipresentasikan dengan pola penjelasan, pemodelan, pertanyaan, dan penerapan.
  6. Ketika guru ingin menumbuhkan ketertarikan siswa akan suatu topik.
  7. Ketika guru harus menunjukkan teknik atau prosedur-prosedur tertentu sebelum siswa melakukan suatu kegiatan praktik.
  8. Ketika guru ingin menyampaikan kerangka parameter-parameter untuk memandu siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran kelompok atau independen.
  9. Ketika para siswa menghadapi kesulitan yang sama yang dapat diatasi dengan penjelasan yang sangat terstruktur.
  10. Ketika lingkungan mengajar tidak sesuai dengan strategi yang berpusat pada siswa atau ketika guru tidak memiliki waktu untuk melakukan pendekatan yang berpusat pada siswa.

Kelebihan  dan Keterbatasan Model Pembelajaran Langsung
===================================================
Kelebihan model pembelajaran langsung:
  1. Dengan model pembelajaran langsung, guru mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa.
  2. Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas yang besar maupun kecil.
  3. Dapat digunakan untuk menekankan poin-poin penting atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi siswa sehingga hal-hal tersebut dapat diungkapkan.
  4. Dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan pengetahuan faktual yang sangat terstruktur.
  5. Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan-keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang berprestasi rendah.
  6. Dapat menjadi cara untuk menyampaikan informasi yang banyak dalam waktu yang relatif singkat yang dapat diakses secara setara oleh seluruh siswa.
  7. Memungkinkan guru untuk menyampaikan ketertarikan pribadi mengenai mata pelajaran (melalui presentasi yang antusias) yang dapat merangsang ketertarikan dan antusiasme siswa.
  8. Ceramah merupakan cara yang bermanfaat untuk menyampaikan informasi kepada siswa yang tidak suka membaca atau yang tidak memiliki keterampilan dalam menyusun dan menafsirkan informasi.
  9. Secara umum, ceramah adalah cara yang paling memungkinkan untuk menciptakan lingkungan yang tidak mengancam dan bebas stres bagi siswa. Para siswa yang pemalu, tidak percaya diri, dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup tidak merasa dipaksa dan berpartisipasi dan dipermalukan.
  10. Model pembelajaran langsung dapat digunakan untuk membangun model pembelajaran dalam bidang studi tertentu. Guru dapat menunjukkan bagaimana suatu permasalahan dapat didekati, bagaimana informasi dianalisis, dan bagaimana suatu pengetahuan dihasilkan.
  11. Pengajaran yang eksplisit membekali siswa dengan ”cara-cara disipliner dalam memandang dunia (dan) dengan menggunakan perspektif-perspektif alternatif” yang menyadarkan siswa akan keterbatasan perspektif yang inheren dalam pemikiran sehari-hari.
  12. Model pembelajaran langsung yang menekankan kegiatan mendengar (misalnya ceramah) dan mengamati (misalnya demonstrasi) dapat membantu siswa yang cocok belajar dengan cara-cara ini.
  13. Ceramah dapat bermanfaat untuk menyampaikan pengetahuan yang tidak tersedia secara langsung bagi siswa, termasuk contoh-contoh yang relevan dan hasil-hasil penelitian terkini.
  14. Model pembelajaran langsung (terutama demonstrasi) dapat memberi siswa tantangan untuk mempertimbangkan kesenjangan yang terdapat di antara teori (yang seharusnya terjadi) dan observasi (kenyataan yang mereka lihat).
  15. Demonstrasi memungkinkan siswa untuk berkonsentrasi pada hasil-hasil dari suatu tugas dan bukan teknik-teknik dalam menghasilkannya. Hal ini penting terutama jika siswa tidak memiliki kepercayaan diri atau keterampilan dalam melakukan tugas tersebut.
  16. Siswa yang tidak dapat mengarahkan diri sendiri dapat tetap berprestasi apabila model pembelajaran langsung digunakan secara efektif.
  17. Model pembelajaran langsung bergantung pada kemampuan refleksi guru sehingga guru dapat terus menerus mengevaluasi dan memperbaikinya.
Keterbatasan Model Pembelajaran Langsung:
  1. Model pembelajaran langsung bersandar pada kemampuan siswa untuk mengasimilasikan informasi melalui kegiatan mendengarkan, mengamati, dan mencatat. Karena tidak semua siswa memiliki keterampilan dalam hal-hal tersebut, guru masih harus mengajarkannya kepada siswa.
  2. Dalam model pembelajaran langsung, sulit untuk mengatasi perbedaan dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat pembelajaran dan pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan siswa.
  3. Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat secara aktif, sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan interpersonal mereka.
  4. Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru. Jika guru tidak tampak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias, dan terstruktur, siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya, dan pembelajaran mereka akan terhambat.
  5. Terdapat beberapa bukti penelitian bahwa tingkat struktur dan kendali guru yang tinggi dalam kegiatan pembelajaran, yang menjadi karakteristik model pembelajaran langsung, dapat berdampak negatif terhadap kemampuan penyelesaian masalah, kemandirian, dan keingintahuan siswa.
  6. Model pembelajaran langsung sangat bergantung pada gaya komunikasi guru. Komunikator yang buruk cenderung menghasilkan pembelajaran yang buruk pula dan model pembelajaran langsung membatasi kesempatan guru untuk menampilkan banyak perilaku komunikasi positif.
  7. Jika materi yang disampaikan bersifat kompleks, rinci, atau abstrak, model pembelajaran langsung mungkin tidak dapat memberi siswa kesempatan yang cukup untuk memproses dan memahami informasi yang disampaikan.
  8. Model pembelajaran langsung memberi siswa cara pandang guru mengenai bagaimana materi disusun dan disintesis, yang tidak selalu dapat dipahami atau dikuasai oleh siswa. Siswa memiliki sedikit kesempatan untuk mendebat cara pandang ini.
  9. Jika model pembelajaran langsung tidak banyak melibatkan siswa, siswa akan kehilangan perhatian setelah 10-15 menit dan hanya akan mengingat sedikit isi materi yang disampaikan.
  10. Jika terlalu sering digunakan, model pembelajaran langsung akan membuat siswa percaya bahwa guru akan memberitahu mereka semua yang perlu mereka ketahui. Hal ini akan menghilangkan rasa tanggung jawab mengenai pembelajaran mereka sendiri.
  11. Karena model pembelajaran langsung melibatkan banyak komunikasi satu arah, guru sulit untuk mendapatkan umpan balik mengenai pemahaman siswa. Hal ini dapat membuat siswa tidak paham atau salah paham.
  12. Demonstrasi sangat bergantung pada keterampilan pengamatan siswa. Sayangnya, banyak siswa bukanlah pengamat yang baik sehingga dapat melewatkan hal-hal yang dimaksudkan oleh guru.

MAULID NABI: Syariat Agama Atau Syariat Budaya?

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Setiap tahun dalam hitungan kalender Hijriyah, terdapat satu bulan yang di dalam bulan tersebut mayoritas umat Islam di dunia melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan tersebut biasanya dilaksanakan mulai pada tanggal 12 Rabiul Awwal dan berakhir sebelum tanggal 1 bulan Rabiul Akhir. Bulan Rabiul Awwal dalam hitungan kalender hijriyah jatuh pada bulan ketiga yakni setelah Muharram dan Safar. Sementara untuk tahun ini, 12 Rabiul Awwal jatuh pada tanggal 24 Januari 2013.
Dilihat dari segi hukum pelaksanaannya, memperingati Maulid Nabi dipahami secara berbeda di kalangan umat Islam itu sendiri. Satu pendapat mengatakan bahwa memperingati Maulid Nabi itu hukumnya wajib, ada pula yang mengatakan sunat, mubah, makruh, dan haram. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi tersebut lebih cenderung sebagai “syariat budaya” ketimbang “syariat agama” itu sendiri. Alasannya, karena Maulid Nabi tidak punya dasar hukum sama sekali, baik dalam Alquran maupun dalam Hadits, yang bisa dijadikan pedoman dalam menetapkan bahwa Maulid Nabi adalah bagian dari “syariat agama”.
Hal ini mungkin cukup beralasan, karena dalam 3 abad pertama Islam, tidak seorang pun ulama salaf yang melakukannya. Alih-alih beralasan bahwa itu perintah Nabi SAW. Nanti setelah Dinasti Ubadiyyun (Fatimiyyah) berkuasa sekitar akhir abad ke-3 Hijriyah di Mesir, Maulid baru dirintis dan mulai marak dilakukan.
Apa tujuan dibalik pelaksanaannya? siapa sesungguhnya Dinasti Ubadiyyun (Fatimiyyah) tersebut? Untuk mengetahuinya, silahkan kunjungi artikelnya disini. Sedangkan untuk mengetahui lebih jauh tentang hukum pelaksanaan maulid Nabi SAW, silahkan kunjungi juga artikelnya disini.
Lebih lanjut… Peringatan Maulid Nabi cenderung dilaksanakan secara berlebihan oleh sebagian masyarakat, khususnya masyarakat yang mengkalim dirinya keturunan Nabi SAW (Syi’ah). Mereka menghambur-hamburkan banyak uang, harta, dan juga tenaga, hanya untuk sekedar mengaplikasikan keyakinan yang mereka sebut sebagai Cinta Rasul. Padahal jika ditilik lebih jauh, mencintai Rasulullah SAW dengan cara semacam ini, tidak punya dasar hukum sama sekali dan tidak pernah diajarkan oleh Nabi sebelumnya. Untuk artikel tentang bagaimana mencintai Rasul dengan cara yang tepat, silahkan kunjungi disini, disini dan disini.
Bahkan bukan itu saja. Di berbagai tempat, khususnya di kampung-kampung dimana ajaran Islam diterima secara fanatik dogmatis. Pelaksanaan Maulid Nabi cenderung disikapi secara tidak rasional dan memaksakan diri, itu karena mereka lebih rela mengorbankan hartanya yang pas-pasan, demi melaksanakan Maulid yang mereka nilai sebagai bagian dari “syariat agama” itu sendiri. Bahkan tidak jarang saya saksikan beberapa diantara mereka, rela menggadaikan dan menjual hartanya, atau paling tidak meminjam sejumlah uang, hanya sekedar untuk ikut memperingati Maulid Nabi yang terlanjur mereka yakini sebagai ajaran Nabi.
Apakah Islam mengajarkan hal ini? Bagaimana Islam menyikapi fenomena yang semacam ini?
Bagi saya, Islam adalah agama yang memudahkan dan tidak menyulitkan. Islam tidak menghendaki penganutnya terpaksa melakukan suatu amalan yang pada akhirnya menyulitkan diri sendiri. Jangankan melaksanakan Maulid Nabi, melaksanakan puasa, zakat, haji, dan sejumlah kewajiban lainnya pun dibolehkan untuk ditinggalkan untuk sementara waktu, jika kita tidak sanggup melaksanakannya. Alih-alih melaksanakan Maulid Nabi yang notabene bukan bagian dari ajaran Islam itu sendiri.
Oleh karena itu, terlepas dari banyaknya manfaat yang dapat kita dapatkan dari pelaksanaan Maulid tersebut. Seperti misalnya, mendengarkan ceramah agama (bagi yang melaksanakan Maulid di tempat-tempat tertentu), mempererat silaturahmi, dan menikmati berbagai macam hidangan khas maulid. Bagi saya, Maulid Nabi tetap bukanlah “syariat agama” sebagaimana yang diklaim oleh sebagian orang, tetapi lebih cenderung mengarah kepada “syariat budaya” yang di pelopori oleh para penganut paham kebatinan yang bermula dari Mesir, saat Dinasti Ubadiyyun (Fatimiyyah) berkuasa. Demikian menurut saya… Bagaimana menurut Anda…? Wallahu A’lam Bishshawab.