-->
Tampilkan postingan dengan label Sastra Makassar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Makassar. Tampilkan semua postingan

Kisah Cinta I Taro Ana’ Kunjung Barani dengan I Samindara Baine

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Masih ingatkah kita dengan kisah cinta Datu Museng dengan Maipa Deapati?  Itu lho… kisah cinta yang pernah terjadi di tanah Makassar, dimana Datu Museng dan Maipa Deapati, rela mati di tangan kompeni demi mempertahankan cintanya? Ingat bukan?
Sebenarnya, ada kisah lain yang tidak kalah serunya dengan kisah diatas, dan juga konon pernah terjadi tanah Makassar. Kisah tersebut adalah kisah cinta antara I Taro Ana’ Kunjung Barani dengan I Samindara Baine…
Kisah ini memiliki alur cerita yang seru dan kerap menegangkan, karena di dalamnya melibatkan cinta yang rumit, dunia perdukunan, intrik kekeluargaan, dan akhir cerita yang tragis. Tapi karena cerita ini tidak familiar, maka hanya sedikit orang yang tahu. Apalagi kisah ini hanya eksis dalam budaya tutur dengan menggunakan media bahasa lokal, yakni MAKASSAR.
Saya pribadi, menyukai cerita ini karena sejak kecil sering saya jadikan sebagai dongeng pengantar tidur. Jika ada salah seorang sobat blogger yang tergerak hatinya untuk tahu cerita ini, maka saya akan menceritakannya sesuai kemampuan saya dalam menulis. Sengaja saya mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia, agar cerita ini lebih mudah dicerna dan  lebih familiar. Tapi karena saya bukan sastrawan, maka maaf saja jika ceritanya kurang puitis dan terkesan bertele-tele. Hehehe…
Ini dia ceritanya…‼!

Prolog
Di tanah Makassar, di sebuah dusun terasing, seorang pemuda bernama I Taro Ana’ Kunjung Barani hidup dalam kesehariannya bersama kedua orang tuanya. Ia pemuda malas. Sehari-hari Ia hanya tahu bermain gasing dan mengadu ayam jago bersama teman-temannya. Hingga suatu ketika, orang tuanya menegur dan memberi saran:
“Sudah bukan jamannya kamu bermain gasing dan mengadu ayam, Taro. Lebih baik kamu berfikir untuk segera menikah.”
Tapi I Taro tidak menggubrisnya. Bahkan seakan Ia tidak mau tahu dengan usianya yang kian dewasa itu. Ia tetap dengan kebiasaannya. Kalau bukan bermain gasing bersama temannya, pasti mengadu ayam jago. Itu saja kerjanya tiap hari, hingga orang tuanya pun berkali-kali menegurnya dan memintanya untuk menikah.
Suatu hari, karena mungkin sudah bosan dengan teguran. I Taro mengajukan usul bahwa jika benar orang tuanya menginginkan Ia menikah, maka wanita yang cocok dinikainya hanyalah sepupunya, I Samindara Baine. Karena hanya dialah satu-satunya wanita yang tepat dihatinya dan hanya dialah satu-satunya wanita yang membuatnya jatuh cinta.
Bukan karena keinginan I Taro untuk menikah yang membuat orang tuanya berfikir. Tapi karena wanita yang ingin dipersuntingnya lah yang membuatnya ragu. Apakah mungkin sepupunya itu mau menerima lamaran I Taro? Di satu sisi, I Taro hanyalah seorang pemuda malas yang tidak punya kerjaan, di sisi lain sepupunya itu terlalu jelita untuk I Taro. Tapi karena ini kesempatan untuk merubah hidup anak satu-satunya itu, maka di coba tak mengapa…gagal jadi pengalaman…hehehe! Begitulah kira-kira yang ada di pikiran orang tua Taro.
I Samindara Baine adalah seorang gadis berparas cantik. Ia punya banyak teman yang membantunya merias diri, menyisir rambut hitamnya yang lebat dan panjang lurus hingga ke bokong, mencat kuku-kukunya yang panjang dan indah. Wajahnya putih bak bulan purnama. bibirnya yang selalu basah, selaras dengan bentuk hidungnya yang mungil. Bulu matanya lentik, serasi dengan bola matanya yang teduh bersinar. Benar-benar gadis jelita yang menghampiri kesempurnaan. Karena kejelitaannya itulah, sehingga teman-temannya memberinya gelar: I Samindara Baine, si gadis elok hiasan wanita, beranting dua berkalung tiga.
Ke elokan tubuhnya membuat para lelaki di sekitarnya berebut mempersuntingnya. Tapi tak satupun yang diterimanya. Tak terkecuali pinangan I Taro pun di tolaknya mentah-mentah.
Berkali-kali suruhan orang tua Taro, I Unru’ Dae, menemui I Samindara Baine agar dia mau menerima niat baik I Taro, tapi berkali-kali pula ditolaknya mentah-mentah. Bahkan meskipun ditawari dengan harta yang dalam sastra makassar berbunyi:
“Galunga ri Tambakola,
tallung taunga nikatto
sitaunga nipare-pare.
(yang bermakna: sebuah warisan sawah yang cukup luas, membentang dari selatan ke utara, dimana sawah itu dapat di panen hingga 3 tahun lamanya tanpa habis-habis).
Dan juga tawaran warisan moyang:
“Takkang-takkang bulaenna,
Nisungkea namalatto’,
Nisoronga na mangngudada”
(yang bermakna: sebuah tongkat ajaib yang terbuat dari emas).
Tapi toh, I samindara Baine tetap pada pendiriannya. Bahkan dia berkata: “semua tawaran itu, saya juga memilikinya, karena kita berasal dari keturunan yang sama”.

Cinta di Tolak Dukun Bertindak
Putus asa dan merasa dipermalukan, I Taro memutuskan untuk pergi berlayar. Tapi sebelum itu, ia ingin membuat perhitungan terhadap I Samindara Baine. Ia ingin membalas perlakuannya yang keterlaluan itu. Maka Ia segera menemui orang pintar (dukun) di kampungnya untuk memuluskan rencananya.
Meskipun cenderung mustahil dan tidak masuk di akal, persyaratan magic mesti dipenuhi I Taro agar  rencananya berjalan lancar. Syaratnya adalah Ia harus menemukan sebatang pohon pinang yang tumbuh sendirian dan yang berbuah satu biji. Disamping itu, jika pohonnya sudah ditemukan, maka pohon pinang tersebut harus dipanjat membelakang dan buahnya dipetik dengan kuku bagian belakang. Buahnya tidak boleh jatuh agar daya magicnya tidak pudar. Setelah itu, buah pinangnya diperlihatkan ke I Samindara Baine agar bisa mempengaruhi jiwanya.
Maka segera I Taro berkeliling kampung, melintasi beberapa sungai, mendaki bukit dan menuruni lembah, hanya sekedar mencari sebuah pohon pinang yang menjadi syarat dari si dukun. Dan walhasil, setelah beberapa hari kemudian, pohon yang dicarinya ditemukan juga... Setelah memenuhi syarat-syarat panjat dan cara petiknya, buah pinang berhasil didapat dan dibawa pulang kerumah I Taro.
Adalah I Unru’ Dae, yang diutus untuk membawa buah pinang ajaib tersebut ke rumah I Samindara Baine. Sementara I Unru’ Dae sedang dalam perjalanan, I Taro pun bersiap-siap untuk berangkat berlayar bersama rekan-rekannya. Ia berangkat membawa malu dan rasa kecewa terhadap I Samindara Baine, sepupunya yang dicintainya itu.
Di rumah I Samindara, Unru’ Dae baru saja tiba dengan buah pinang ajaib di tangan. Ia sengaja meminang-minangnya di depan mata I Samindara untuk mengundang perhatian. Dan ternyata siasat itu berhasil. I Samindara tertarik dengan buah pinang itu dan ingin mengambilnya. Tanpa berpikir dua kali, Unru’ Dae segera memberikan pinang itu ke I Samindara dan berpesan, bahwa kado itu adalah pemberian terakhir I Taro sebelum berangkat berlayar.

Buah Pinang Pembawa Petaka
Tidak butuh waktu lama, buah pinang ajaib berhasil merubah pendirian I Samindara Baine. Jiwa kewanitaannya terpengaruhi magic. Dia yang semula begitu tegar untuk tidak menerima lamaran I Taro, berangsur-angsur luluh berganti rasa ingin menyatu dengan sepupunya itu. Bahkan dia menangis dan menyesal karena menolak kehendak suci I Taro. Oleh karena itu, dia tidak rela ketika mendengar bahwa I Taro akan pergi berlayar.
Dengan rasa bersalah dan cinta yang perlahan-lahan mulai tumbuh di hatinya, I Samindara bergegas menuju ke rumah sepupunya itu di dampingi Unru’ Dae. Dia bermaksud melarang kepergian I Taro dan bersedia menerima lamarannya. Atau setidak-tidaknya, mengajaknya bersama-sama pergi mengarungi lautan. Tapi malang tak dapat di tolak, rupanya I Taro sudah ada di bibir pantai, duduk santai di atas perahunya bersama teman-teman setianya, dengan dayung yang siap untuk di kayuh kemana pun I Taro hendak menuju.
Melihat kenyataan itu, I Samindara Baine nekat. Dia bergegas ke pantai, berlari semampunya, menyusul I Taro yang perlahan-lahan sudah mulai bergerak ke laut. Dia sudah tidak peduli dengan rambutnya yang panjang terurai, kusut bermandi debu. Kaki-kaki jenjangnya yang terawat, bukan penghalang untuk terus berlari menyusuri jalan setapak mengarah ke pantai. Hingga ketika dia sampai di bibir pantai, perahu I Taro sudah terlihat mengapung menjauh dan semakin menjauh.
I Samindara terisak melihat orang yang disusulnya kian menjauh. Dia berteriak memanggil-manggil, berharap I Taro dapat mendengarnya dan berbalik menjemputnya untuk bersama-sama mengarungi lautan. Tapi sepertinya suaranya terlalu lembut untuk di dengar di kejauhan sana.
Maka, Dia memutuskan untuk turun ke pantai, berenang sekuatnya, bergerak semampunya. Sesekali tangannya melambai ke arah laut, memanggil-manggil dengan suara yang semakin serak karena tertelan ombak. Hingga akhirnya I Samindara Baine menghilang. Dia tenggelam. Tenggelam bersama suara dan harapannya untuk mengarungi lautan bersama I Taro Ana’ Kunjung Barani. Pemuda malas yang dulu dia kecewakan dan permalukan begitu saja. Barulah beberapa hari kemudian, tubuhnya yang tak lagi jelita itu, ditemukan oleh seorang nelayan sedang terbujur kaku di bibir pantai.

Epilog
di pinggir pantai, tepat dirimbunan pohon talas, tubuh I Samindara Baine terkubur. Dia sudah terbaring dibawah onggokan pasir dan dedaunan talas yang mulai mengering, sampai I Taro tiba dengan membawa kesedihan yang begitu dalam. Ia tidak menyangka kalau gadis yang di cintainya akan melakukan hal yang semacam itu.
I Taro berbalik haluan karena diberitahu oleh seorang nelayan tentang kematian sepupunya itu. Ia bergegas pulang, karena meskipun pernah dikecewakan dan merasa dipermalukan, I Samindara Baine tetaplah gadis pujaan hatinya. Biar bagaimanapun, benih-benih cinta dihatinya masih tertanam kuat. Apalagi setelah ia tahu bahwa penyebab kematiannya adalah karena ego kelelakiannya, maka bertambah sedihlah hati I Taro Ana’ Kunjung Barani.
Kesedihan dan cinta itulah, yang membuat I Taro memutuskan untuk menghunus badiknya. Menghunjam dalam tepat ke jantungnya, hingga ia roboh diatas pusara I Samindara Baine. Tapi sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia masih sempat mengucap kata: “O andikku I Samindara Baine, tatta taua belo-belo bainea, tokeng tallua anting-anting pimbalia. Bukan pacce dan siri’ semata yang membuatku menyusul kepergianmu, tapi karena cinta yang masih tersisa yang mengantar aku rela mati di atas pusaramu. Ri surugapi sallang, napasse’reki Batara…” (sekian).
==========================================

Kisah Cinta DATU MUSENG Dan MAIPA DEAPATI: Sebuah Tragedi

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Tiap orang punya kisah cinta, tapi dengan warna dan jalan cerita yang berbeda-beda. Ada yang awal kisahnya penuh duka dan airmata, tapi endingnya membahagiakan dan penuh canda tawa. Ada pula yang awalnya bahagia, tapi di akhir kisahnya penuh kemelut dan problema, sehingga berakhir tragis dan menyedihkan. Hemmmmhh…
Itulah cinta… yang kadang lebih misterius dan lebih sulit ditebak dari makna dibalik senyuman manis MONALISA…! Hehehe……
Di sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidak sedikit kisah cinta yang berhasil diabadikan. Baik melalui tulisan, pahatan patung, prasasti, rekaman gambar, serta melalui situs-situs lainnya, disamping kisah cinta yang hanya diketahui melalui budaya oral (lisan). Kisah tersebut mayoritas dilakoni oleh seorang tokoh atau figur yang cukup memiliki pengaruh pada zamannya. Sebutlah misalnya, kisah cinta antara Romeo dan Juliet (seorang bangsawan Verona, Italia), Anthony (bangsawan Romawi) dan Cleopatra (Paraoh cantik dari Mesir), Tristan dan Isolde (putri Raja Irlandia), dan kisah-kisah lainnya yang cukup banyak kita saksikan, baik di buku-buku sastra, pementasan drama, maupun di film-film terkenal.
Sejatinya, di belahan bumi ini, tiap-tiap wilayah dan budaya memiliki catatan kisah cintanya sendiri-sendiri, yang dapat dijadikan sebagai sebuah pembelajaran dan untuk dipetik hikmah yang terkandung didalamnya. Hanya saja karena keterbatasan media dan waktu, kisah-kisah tersebut tidak terekspos ke publik sehingga hanya menjadi konsumsi cerita lokal dimana kisah tersebut terjadi.
Di Sulawesi Selatan, kisah cinta yang paling tenar karena tertulis dalam naskah klasik I Laga Ligo adalah kisah cintanya I Sawerigading dengan We Cudai, seorang gadis cantik dari Botting Langi’. Kisah ini terjadi di tanah Luwu. Tapi selain itu, ada juga satu kisah cinta yang tidak kalah serunya dengan cerita I Sawerigading. Sebuah kisah yang pernah terjadi di tanah Makassar, yakni kisah cinta antara Datu Museng dengan Maipa Deapati.
Siapa dia…? Bagaimana kisahnya…???
Di Makassar, kisah Datu Museng dan Maipa Deapati ini sering dituturkan secara lisan oleh para orang tua. Tujuannya agar kita mengambil pelajaran di dalamnya, karena kisah tersebut penuh intrik perjuangan, keteguhan hati dan tanggungjawab, kesetiaan, kehormatan dan harga diri, dan tentu saja tragedi cinta yang mengharukan.
Tentu saja… Karena selain Datu Museng harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan cintanya Maipa Deapati, seorang gadis jelita yang merupakan Putri Raja Sumbawa. Ia juga harus berhadapan dengan Pangeran Mangalasa, sepupu Maipa Deapati yang menjadi tunangannya. Oleh karena itu, atas anjuran sang kakek, Addengareng. Datu Museng menyeberang ke Tanah Mekah untuk menuntut ilmu.
Kepergian Datu Museng ke Mekah, tidak membuat cintanya kepada Maipa surut. Bahkan benih-benih cinta dihatinya malah kian kokoh dan berakar. Oleh karena itu, sepulangnya dari Mekah dan setelah mendapatkan ilmu “Bunga Ejana Madina”, Datu Museng segera menemui Maipa yang sedang terbujur sakit. Dengan ilmu yang dimilikinya, Ia berhasil menyembuhkan penyakit Maipa dan setelah itu, cinta pun bersemi di kedua belah pihak.
Gelagat buruk ini memaksa Pangeran Mangalasa meminta bantuan Belanda. Berharap agar Kompeni dapat membunuh Datu Museng, dan Ia dapat bersatu kembali dengan tunangannya, Maipa Deapati. Tapi Datu Museng terlalu sakti bagi mereka. Ilmu yang didapatnya di tanah Mekah membuatnya mampu mengalahkan persekutuan Pangeran Mangalasa dengan pihak Belanda. Sehingga pada akhirnya, Datu Museng mempersunting Maipa Deapati tanpa dapat dicegah oleh siapapun juga.
Sekedar dipahami bahwa, Datu Museng sesungguhnya adalah bahagian dari keluarga Kerajaan Gowa. Ia menyeberang ke tanah Sumbawa karena ketidakstabilan Gowa akibat politik devide et impera yang dilancarkan Kompeni Belanda. Pada saat itu, Datu Museng masih belia. Ia masih kanak-kanak sampai kakeknya, Adengareng, memintanya untuk menyeberang ke Sumbawa. Menetap disana sampai Ia tumbuh dewasa, dan pada akhirnya jatuh cinta pada Maipa Deapati, teman mengajinya di Mempewa.
Cerita berlanjut… Beberapa hari setelah Datu Museng mempersunting Maipa Deapati, Ia mendapat kabar bahwa di Makassar (tanah kelahirannya) terjadi kegoncangan dan ketidakstabilan politik akibat adu domba Kompeni Belanda yang kian menjadi-jadi. Oleh karena itu, atas izin dari mertuanya (Raja Sumbawa), Ia beserta istrinya pulang ke Makassar untuk membantu Kerajaan Gowa melawan musuhnya-musuhnya.
Tapi masalah lain muncul. Pimpinan Kompeni terpesona melihat kejelitaan Maipa Deapati. Ia begitu mengaguminya dan ingin mengambilnya di tangan Datu Museng. Maka, dengan berbagai macam cara, siang dan malam, dari segala penjuru, pihak Kompeni bertubi-tubi menyerang Datu Museng. Tapi lagi-lagi, dengan ilmu dan kesaktian yang dimilikinya, Datu Museng masih bisa bertahan untuk melindungi kekasihnya, Maipa Deapati.
Hingga pada suatu ketika… Saat Datu Museng lengah. Pihak kompeni yang tidak mau berhenti melancarkan serangannya, berhasil menodongkan senjatanya ke arah Datu Museng dari jarak yang sangat dekat. Menyaksikan itu, jiwa kewanitaan Maipa muncul. Ia tidak rela suami yang sangat dicintainya mati ditembus peluru Kompeni. Maka dengan mantap dan penuh keyakinan, Ia menghadang laju peluru sebelum sempat mengenai tubuh Datu Museng. Walhasil, peluru menembus tubuhnya yang jelita itu. Maipa roboh, pucat meregang maut.
Tapi sebelum maut benar-benar menjemputnya, Maipa masih sempat mengucap kata, berbisik di pangkuan Datu Museng, katanya: “Daengku Datu Museng, permata hatiku… Takkan ku gentar walau jiwa melayang, kebimbangan telah kucampakkan… Sebab keyakinan telah kupastikan, perahu kematian siap kutumpangi… Kemudi telah kukuh di tangan, telah kutetapkan haluan menyongsong tujuan, pada kematian yang hangat dan menyenangkan…”
Demikianlah… Maipa telah tiada. Ia tewas dalam pangkuan suaminya. Peluru Kompeni berhasil merobek tubuh jelitanya, membuatnya bersimbah darah. Tapi kompeni tidak berhasil membunuh cintanya, Kompeni tidak mampu mengambil kesetiaan, harga diri dan ikrar sucinya kepada Datu Museng. Ikrar untuk sehidup semati…‼!
Karena ikrar itu pulalah yang membuat Datu Museng melepas jimat saktinya, membuang ilmu “kebal”nya, menyerahkan dirinya kepada pihak Kompeni belanda untuk ditembaki hingga mati…‼!
Kini, Datu Museng hanya tinggal sebuah cerita. Maipa Deapati pun hanya tinggal sebuah nama. Bagi siapapun yang ingin mengenangnya, berkunjunglah ke Kota Makassar. Di ujung barat jalan Datu Museng (sebuah nama jalan pemberian Pemerintah Kota Makassar), disitu terletak dua buah situs makam bernisan kayu, yang konon adalah makamnya Datu Museng dan kekasihnya Maipa Deapati.
Sobat blogger…
Mungkin di antara kita masih ragu atau bahkan tidak percaya sama sekali. Benarkah kisah ini sebuah fakta sejarah? Atau jangan-jangan ini cerita fiksi yang sengaja dibikin oleh para tetua kita dahulu, sekedar untuk pengajaran moral dan pengantar tidur bagi anak-anaknya…!
Bagi saya, terlepas dari apakah kisah ini fakta atau fiksi, karena memang tidak satupun diantara kita yang hidup semasa dengan pelakon cerita. Maka kita hanya bisa menilai bahwa, jika kisah ini adalah benar-benar sebuah fakta sejarah, kita seharusnya patut berbangga dengan kisah cintanya yang mengharukan itu. Tapi toh andai ini pun sebuah fiksi, kita patut mengangkat jempol bagi si penutur atau si pencipta cerita, karena Ia berhasil membangun sebuah cerita yang tidak kalah serunya dengan kisah-kisah lainnya yang mendunia, dan tetap masih bertahan hingga kini.
Believe or not… yang pasti kebenaran hanya milik Sang pemilik Kebenaran Mutlak itu sendiri, yakni Allah Azza Wa Jalla…‼! <joe>

SINRILIK: Sastra Prosa Khas Makassar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم




Dalam budaya Makassar, keberadaan karya satra cukup berperan penting dan memiliki arti tersendiri bagi kehidupan masyarakat. Kehadiran karya sastra disamping sebagai konsumsi hiburan dan seni bercerita, juga kerap digunakan sebagai media penyampai informasi terkait dengan peristiwa-peristiwa penting dan kisah-kisah orang berpengaruh di masa silam. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Makassar adalah masyarakat yang berjiwa seni, cerdas dalam bertutur, dan pintar mencari cara dalam menghargai pemimpin dan pejuangnya.

Karya sastra dalam budaya Makassar cukup kaya dan beragam. Ada yang berbentuk syair atau puisi seperti: Syair Pakkio Bunting, Syair Doangang (Pa’doangang), SyairAru (Angngaru), dan yang lainnya, ada juga karya sastra yang berbentuk prosa yang disampaikan dengan cara dilagukan secara berirama, baik dengan menggunakan alat musik maupun tanpa alat musik. Salah satu karya sastra yang berbentuk prosa ini adalah SINRILIK.

SINRILIK merupakan salah satu karya sastra yang masih banyak diminati oleh masyarakat Makassar. Mungkin karena dalam naskah Sinrilik tersebut, banyak bercerita tentang epos kepahlawanan, kisah percintaan dan jiwa pemberani seseorang yang dalam pandangan masyarakat Makassar cukup berpengaruh dan disegani. Tapi meskipun masih banyak yang meminatinya, orang yang dapat melagukan atau membacakannya sudah sangat terbatas.

Hal tersebut karena dalam membaca sebuah Sinrilik, setidak-tidaknya seorang Pasinrilik harus menguasai beberapa hal, yaitu: (a). pandai berbahasa Makassar; (b). kaya paruntu’ kana; (c). kaya kelong; (d). menguasai dialek bahasa Makassar; (e). menguasai banyak rapang dan pappasang; dan (f). mampu mengapresiasikan dan menyatu dengan alam.

Selanjutnya, berdasarkan isi dan cara melagukannya, sinrilik dibagi atas dua macam yaitu: Sinrilik Pakesok-Kesok dan Sinrilik Bositimurung. Sinrilik Pakesok-Kesok adalah sinrilik yang dilagukan dengan iringan kesok-kesok (rebab). Bunyi kesok-kesok tersebut harus selaras dengan lagu dan isi serta suasana cerita yang dibawakan oleh Pasinrilik, agar enak terdengar dan tidak membosankan.

Isi Sinrilik pakesok-kesok lebih banyak melukiskan tentang sejarah perjuangan dan kepahlawanan seorang tokoh. Diantaranya, Sinrilik Kappalak Tallumbatua dan Sinrilik I Makdik Daeng Rimakka. Sinrilik ini mengisahkan tentang kisah perjuangan dan kepahlawanan sang tokoh, disamping kisah percintaan yang kadang muncul dalam cerita. Jenis sastra ini sangat menarik apabila dikreasikan menjadi sastra pertunjukan.

Kemudian Sinrilik Bositimurung adalah sinrilik yang dilagukan tanpa diiringi alat musik kesok-kesok. Biasanya dilantungkan pada tempat yang sunyi di kala orang yang berada di sekelilingnya sedang tidur nyenyak.

Pada dasarnya, Sinrilik Bositimurung berisi tentang: (a). pujian terhadap kecantikan seorang gadis dengan membandingkan keadaan sekelilingnya; (b). kerinduan seorang jejaka terhadap gadis yang dicintainya; (c). gambaran seseorang yang terkena musibah yang membuat hati menjadi iba; dan (d). gambaran kesedihan seorang istri yang ditinggal pergi oleh suaminya.

Selain itu, Sinrilik Bositimurung juga berisi pelajaran atau nasihat yang berharga bagi orang yang mendengarnya, karena isinya menceritakan tentang ganjaran perbuatan baik dan siksaan terhadap perbuatan buruk di akhirat kelak. Sinrilik semacam ini biasanya dilantunkan pada saat ada orang yang terkena musibah kematian agar orang yang ditinggalkan merasa terhibur. Acara ini biasa disebut Ammaca Kitta’ yang pelaksanaannya dilakukan setelah tadarrus Alquran.

Adapun contoh Sinrilik Bositimurung adalah seperti: Kitta’na Ana Loloa, Kitta'na Bodolo' Akherat, Kitta'na Jayalangkara dan lain sebagainya.

(Berbagai Sumber)
===========================================

ROYONG: Lebih Dari Sekedar Sebuah Nyanyian

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم




Di Makassar, ada sebuah kebiasaan menarik yang sering dilakukan oleh ibu-ibu sesaat sebelum bayinya tertidur. Sang ibu akan melantunkan sebuah nyanyian pengantar tidur, yang dinyanyikan tanpa iringan alat musik dengan syair-syair tertentu dalam bahasa Makassar, sambil sang bayi di ayun-ayun secara perlahan hingga matanya terpejam. Nyanyian tersebut dikalangan masyarakat Makassar disebut: ROYONG.
Royong, merupakan sebuah karya sastra lisan yang konon konsepnya bermula dari hadirnya Tumanurung di Butta Gowa. Adalah dayang-dayang pengiring Tumanurung lah, yang diyakini sebagai pelantun pertama Royong hingga mereka kembali ke langit setelah kelahiran Karaeng Tumasalangga Baraya, putra yang lahir dari hasil perkawinan Tumanurung dengan Karaeng Bayo di Gowa.
Oleh karena itu, Royong dikenal bukan hanya sebagai tembang pengantar tidur sang bayi, tapi juga berfungsi sebagai nyanyian sakral dalam ritual upacara adat tertentu. Seperti upacara pernikahan, sunatan/khitanan, aqiqah, dan upacara penolak bala.
Dalam hal upacara adat ini, Royong sering dinyanyikan oleh perempuan-perempuan tua dengan iringan musik tradisional tertentu, seperti: ana’ baccing (dua besi kecil yang saling dipukul), curiga (rantai yang saling dipukul), ganrang (gendang), pui’pui, dekkang, dan lain sebagainya.
Sebagai karya sastra yang berbentuk lisan, Royong cenderung eksklusif karena hanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya oleh para keluarga Paroyong. Baik melalui penunjukan secara gaib oleh arwah leluhur melalui proses kesurupan, juga melalui proses hafalan yang dipahamkan ke dalam hati orang yang terpilih mendapatkan kalimat royong. Tapi meskipun demikian, ada beberapa kalimat royong yang berhasil didokumentasikan dalam bentuk naskah, diantaranya royong appatinro ana', royong pakkio' sumanga', royong a'bu'bu bunting dan lain sebagainya.
Sisi lain dari Royong adalah mengenai kepercayaan masyarakat Makassar tentang fungsi, khasiat dan efek dari royong. Konon, Royong dapat menyembuhkan suatu penyakit, menolak bala, dan lain sebagainya. Hal ini dapat kita pahami jika melihat kalimat-kalimat royong itu sendiri yang menyerupai sebuah do’a dan harapan kepada Yang Maha Kuasa tentang sesuatu hal. Untuk fungsi ini, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebagai prasyarat Royong, yakni:
  • Air putih 1 gelas;
  • Tai Bani (lilin berwarna merah) dua buah; Bermakna sebagai penerang, baik untuk pelaksana hajatan maupun pelaksana ritual (pa’royong).
  • Doe’ Ja’jakkang (uang hajatan); Uang ini sebagai simbolisasi pappakalabbiri kepada pelaku ritual atas pekerjaannya.
  • Leko Sikabba (daun sirih satu ikat), beserta kapur dan rappo sikabba (buah pinang satu ikat); Daun sirih dengan pinang seikat memiliki makna a’lekoki na’nikillaeki rappo yang mengandung arti bahwa jika pohon itu berdaun, diupayakan untuk berbuah. Jika melakukan hajatan, maka pelaksana hajatan mengharapkan apa yang dicita-citakan dapat terwujud.
  • Pa’dupang (tempat kayu bara untuk membakar kemenyan);
  • Kumanynyang (kemenyan);
  • Berasa si gantang (beras 4 liter);
  • Golla Eja na Kaluku (gula merah dan kelapa) masing-masing 1 buah;
  • Kaeng Kebo’ (kain putih); Sebagai pembungkus peralatan ritual, merupakan simbol bahwa suatu upacara dimulai dengan kesucian (putih), agar apa yang diinginkan dapat tercapai dengan baik, dan agar upacara berlangsung dengan baik
  • Tambako (tembakau/rokok)

Setelah semua ja’jakkang tersebut sudah tersedia, maka pelaksanaan Royong untuk hajatan tertentu pun dimulai.
Melihat penjelasan di atas, maka setidak-tidaknya ada 4 macam fungsi Royong, yaitu: (1). Sebagai pengantar tidur; (2). Sebagai pengundang rezeki dan penolak bala atau penangkal malapetaka; (3). Sebagai pengesahan suatu adat atau tata cara kebiasaan kelompok masyarakat Makassar; dan (4). Sebagai media pendidikan budi pekerti atau pemahaman norma-norma positif kepada generasi penerus.
Selanjutnya, dalam kaitannya dengan strata sosial masyarakat Makassar, ternyata tidak semua lapisan masyarakat dapat diroyongkan. Dari 4 golongan masyarakat Makassar (Sombayya, Karaeng, Daeng/Tomaradeka, dan Ata), yang dapat diroyongkan adalah hanya sombayya, karaeng dan anak Tomaradeka di daerah itu.
Oleh karena itu, Royong juga hanya dikenal memiliki 3 tingkatan, yaitu: Royong Bajo (untuk keluarga Sombayya), Royong Karaeng, dan Royong Daeng. Kalangan budak (ata) tidak memiliki royong untuk keluarga mereka.
Baiklah, sebelum tulisan ini diakhiri. Ada baiknya saya cantumkan contoh Royong berikut ini:

Royong Pengantar Tidur I
======================

Ana' tinro mako naung, pakaselaki matannu..
Mata ta'do'do', pa'lungang manakku tommi..
I Baso sallang lompo, na'bayuang se're bori…
Manna tanjari, punna kaleleang mamo…
Ana'… tinro mako naung, pakaselaki matannu..
Ambangungko nai', te'ne tommi pa'mai'nu…

(Tidurlah anakku sayang, lelapkanlah matamu…
Mata mengantuk, bantal pun telah merindukanmu..
Bila nanti engkau dewasa, menjadi kekasih seluruh alam…
walau tak jadi, asalkan sudah terbagi…
Tidurlah anakku sayang,  lelapkanlah matamu…
Bila nanti engkau bangun, bahagia sudah perasaanmu...)
***

Royong Pengantar Tidur II
======================

Cui la ilau'mene…
manri'ba' sikayu-kayu mene
situntung-tuntungang
ri passimbangenna Makka, ri alla'na Arapa
ri butta nisingarria…
manngagaang ri Sapa, nammalo ri Marawa,
ada menei makkio', ala kenna mappasengka
tulusu'mami mantama, attawapa' ri ka'bayya
ha'ji ri baetullayya…
nikio'mi ri sehea, nitayomi ri pakkihia
kurru mae sumanga'nu, anak battu rite'nea
kutimbangiko doing, kurappoiko barakka'
napappokoki, pa’balle iballe nakkilolonna…
ilena gulu'battanna, nasikuntumo numera
teamako ma'je'ne' mata, namate'nemo pa'mai'…
 ***
(Dari beberapa sumber)

DOANGANG: Puisi Sakral Dari Makassar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Salam sejahtera untuk kita semua!

Hay sa’ribattang blogger dimanapun Anda berada…Pernah dengar kata Mantra tidak? Saya yakin pernah…bukan? Kalau belum, berarti Anda tidak termasuk orang yang suka berhubungan dengan dunia yang gaib-gaib…hehehe! Itu loh, dunianya orang-orang mistik yang mengandalkan kekuatan gaib untuk mencapai tujuannya…

Maksud kedatangan Jufri Daeng Nigga kali ini adalah untuk mengupas sedikit tentang mantra, khususnya mantra dalam versi bahasa makassar… Jadi, saya harap jangan kemana-mana dulu sa’ribattang. Ikuti penjelasan singkat berikut ini…!

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, MANTRA diartikan sebagai susunan kata yang berunsur puisi (seperti rima dan irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.

Sementara dalam sastra Melayu lama, kata lain untuk mantra adalah jampi, serapah, tawar, sembur, cuca, puja, seru, dan juga tangkal.

Mantra termasuk dalam genre sastra lisan yang populer di masyarakat Melayu, sebagaimana pantun dan syair. Hanya saja penggunaannya lebih eksklusif, karena hanya dituturkan oleh orang tertentu saja, seperti pawang dan bomoh (dukun). Menurut orang Melayu, pembacaan mantra diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib untuk membantu meraih tujuan-tujuan tertentu.

Secara umum, mantra dapat dibagi ke dalam empat jenis berdasarkan tujuan pelafalannya, yaitu :
(1), mantra untuk pengobatan;
(2), mantra untuk “pakaian” atau pelindung diri;
(3), mantra untuk pekerjaan; dan
(4), mantra adat-istiadat.

Dari segi bentuk, mantra sebenarnya lebih sesuai digolongkan ke dalam bentuk puisi bebas, yang tidak terlalu terikat pada aspek baris, rima dan jumlah kata dalam setiap baris. Dari segi bahasa, mantra biasanya menggunakan bahasa khusus yang sukar dipahami.

Adakalanya, dukun atau pawang sendiri tidak memahami arti sebenarnya mantra yang ia baca, ia hanya memahami kapan mantra tersebut dibaca dan apa tujuannya.

Dari segi penggunaan, mantra sangat eksklusif, tidak boleh dituturkan sembarangan, karena bacaannya dianggap keramat dan tabu. Mantra biasanya diciptakan oleh seorang dukun atau pawang, kemudian diwariskan kepada keturunan, murid ataupun orang yang ia anggap akan menggantikan fungsinya sebagai dukun.

Kemunculan dan penggunaan mantra ini dalam masyarakat Melayu, berkaitan dengan pola hidup mereka yang tradisional dan sangat dekat dengan alam. Oleh sebab itu, semakin modern pola hidup masyarakat Melayu dan semakin jauh mereka dari alam, maka mantra akan semakin tersisihkan dari kehidupan mereka.

Sementara itu, di Makassar mantra lebih dikenal dengan sebutan DOANGANG. Yang mengandung makna sebagai bentuk permohonan, permintaan, dan harapan. Sama dengan mantra versi Melayu, doangang juga diyakini memiliki berkah dan mengandung kesaktian atau kekuatan gaib, apalagi bagi orang yang berhasil mendalaminya. Doangang juga tercatat sebagai salah satu karya sastra dalam budaya masyarakat Makassar.

Oleh karena itu, hampir disetiap aktivitas orang makassar pada masa lampau hingga kini, didahului dengan membaca doangang dengan harapan agar mereka mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.

Agar doangang yang dibaca mendapat berkah dari Allah, maka si pemakai doangang harus memperhatikan beberapa persyaratan. Yaitu antara lain: tidak boleh membanggakan atau menyombongkan diri; tidak boleh diucap pada sembarang waktu dan tempat; harus yakin bahwa doa yang diucapkan itu mempunyai daya gaib; serta dipakai dengan maksud untuk membela diri atau menolong orang.

Umumnya doangang diberikan kepada orang yang akan merantau ke negeri seberang, baik dengan tujuan mencari rezeki maupun tujuan perang. Doangang ini diberikan oleh tetua adat, dukun atau orang-orang yang dituakan dalam masyarakat Makassar.

Berikut adalah contoh-contoh doangang dalam bahasa makassar:


Doangang Punna La Naungko Ri Butta
================================
 I kau Butta kuonjo'
Palewanga' Tallasakku
Eranga' mange
Ri Kaminang Mate'nea
Doa Ketika Akan Menjejakkan Kaki Ditanah Rantau

(Wahai tanah yang aku injak
Luruskanlah jalan hidupku
Bawalah aku
ketempat yang paling baik)


Doangang Punna A'jappa
=====================
Bunga ribireang kukangkang
Bunga bulang kusoeang
Bunga ni ngaia ri lino
i nakke ngaseng pata
saba' Allahu Ta'ala

(Bunga biraeang yang ku genggam
Bunga bulan yang kuayunkan
Bunga yang disukai didunia
Saya semua yang punya
Karena Allah semata)


Doangang Punna Lattinro
=====================
Kupantinromi tubuku
kukalimbu' sahada'ku
Patampulo malaeka'
Anjagaia' i lalang tinro
Saba' Allahu Ta'ala

(Saya sudah menidurkan tubuh saya
dengan berselimut syahadat
Empat puluh malaikat
yang menjagaku didalam tidur
Karena Allah semata)

Doangang Punna Ambangung Tinro
==============================
Kukangkangmi anne linoa
Kupasapu ri rupangku
Kuerang kale
Butta salama' kuonjo'
Lanri Allahu Ta'ala

(Dunia ini sudah kugenggam
Sudah kuusapkan keseluruh tubuhku
Aku membawa diriku
Menginjak tanah yang selamat
Karena Allah semata)

Doangang Sollana Ni Kamaseangko
==============================
I nakke minne Ana' I lalang mate'ne
Napinawanga' pammuji
Ata - Karaeng
Mammuji Mangngamaseang aseng ri nakke
Barakka' La Ilaha Illallah

(Saya adalah anak yang berbahagia
Yang selalu diikuti oleh pujian
Baik hamba maupun raja
Semua mengasihi dan menyayangi saya
Berkah Allah semata)

Doangang Pa'bongka Setang
========================
Kau setang kau longga'
Pali'-palili kalennu
Lammaloi yukkung
Baja' bassia
Panggala-gala Buttayya
Hu.. Kumpayakum

(Kau setan kau tinggi
Singkirkan dirimu
Yukkung akan lewat
Baja besi
Benguat tanah
Jadilah, maka jadilah)

Doangang Parampa' Nassu
=======================
Limbu'bu'jintu pa'mai'nu
Bombangjintu nassunu
Kulappa' na kuonjokang
Tamammoterang

(Perasaanmu itu hanya debu
Marahmu hanya ombak
Akan kulipat dan kuinjak
Sampai tidak kembali)

ARU (Anngaru): Sumpah Setia Para TUBARANI

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Assalamu alaikum Sa’ribattang…
Setelah berhasil memposting salah satu tradisi dari Makassar yakni Syair Pakkio’ Bunting", kali ini saya hadir lagi untuk memposting tradisi lainnya, yaitu  “Aru atau Anngaru”… Sebuah susunan kalimat sastra yang tertuang dalam bahasa Makassar secara apik dan puitis…
Selamat menikmati Sa’ribattang…!

Aru atau Anngaru adalah semacam ikrar atau ungkapan sumpah setia, yang sering diucapkan oleh para Tubarani (abdi kerajaan) atau wakil dari salah seorang gallarrang kepada rajanya pada masa Kesultanan Gowa di masa silam.

Pada saat tampil di hadapan Sang Raja, Tubarani yang akan Anngaru mengambil posisi berlutut dengan posisi badan tegap, tangan kanan memegang badik yang terhunus, dengan wajah yang menatap ke arah depan dengan penuh kemantapan dan keyakinan hati sebagai tanda atas kesetiaan kepadanya.

Pada masa peperangan, para prajurit Kerajaan Gowa yang akan berangkat ke medan perang, terlebih dahulu mengucapkan sumpah setia (Aru atau Anngaru) di depan Sombayya ri Gowa bahwa ia akan berjuang untuk mempertahankan wilayah kerajaan, membela kebenaran, dan tak akan mundur selangkah pun sebelum melangkahi mayat musuhnya. Pada saat diucapkan, Aru ini dapat membakar semangat juang para prajurit, dan menimbulkan jiwa patriotisme di kalangan laskar prajurit kerajaan.

Tapi pada masa damai, tradisi Anngaru ini diucapkan saat akan mengangkat pejabat baru kerajaan. Aru yang diucapkan itu merupakan dorongan atau motivasi untuk mewujudkan cita-cita dalam membangun kerajaan.

Pada masa sekarang ini, tradisi Anngaru sering digunakan dalam berbagai hal, antara lain pada upacara adat, kegiatan pemerintahan, maupun penyambutan tamu-tamu kehormatan. Aru yang diucapkan pada upacara tersebut selain memiliki nilai magis, juga berfungsi sebagai pemahaman, kebanggaan dan pelestarian budaya.

Anngaru merupakan ciri khas kerajaan dan masyarakat Gowa dan kerajaan-kerajaan di Makassar sekitarnya.

Baiklah Sa’ribattang… dibawah ini Jufri Daeng Nigga akan menyuguhkan beberapa naskah Aru atau Anngaru yang saya sedot dari beberapa sumber…!
***

ARU TUBARANI I
Ata karaeng
Tabe’ kipammopporang mama’
Ri dallekang labbiritta
ri sa’ri karatuanta ri empoang matinggita

Inakke mine karaeng
Lambara’ tatassa’la’na Gowa
Nakareppekangi sallang karaeng
Panngulu ri barugayya
Nakatepokangi sallang karaeng
Pasorang attannga parang

Inai-inaimo sallang karaeng
Tamappattojengi tojenga
Tamappiadaki adaka
Kusalagai sirinna kuisara parallakkenna
Berangja kunipatebba pangkulu’ kunisoeyang

Ikau anging karaeng naikambe leko’ kayu
Mirikko anging namarunang leko’ kayu
Iya sani madidiyaji nurunang

Ikau je’ne’ karaeng naikambe batang mammayu
Solongko je’ne’ namammayu batang kayu
Iya sani sompo bonangpi kianyu

Ikau jarung karaeng naikambe bannang panjai’
Ta’leko jarung namminawang bannang panjai’
Iya sani lambusuppi nakontu tojeng

Makkanamamaki mae karaeng
naikambe mappa’jari
Mannyabbu’ mamaki karaeng
naikambe mappa’rupa

Punna sallang takammaya
aruku ri dallekanta’
Pangkai jerakku tinra’ bate onjokku
Pauwang ana’ ri boko pasang ana’ tanjari
Tumakkanayya karaeng natanarupai janjinna

Sikammajinne aruku ri dallekanta
Dasi nadasi nana tarima panngaruku
Salama’…
***

ARU TUBARANI II
Tabe kipammoporang mama’ karaeng
Ridallekang malabbiritta
Risa’ri karatuanta riempoang matinggita

Tojeng… tojeng-tojeng karaeng
Inakke mine karaeng ata mattojeng-tojengta
Appau mamaki karaeng naikambe mappa’jari
Anjo’jo’mamaki karaeng naikambe mappa’rupa

Tojeng… tojeng-tojeng karaeng
Inai-nai mami sallang karaeng
Lampa teteki riada’
lampa onjokki ri kontu tojeng
Kupannepokangi sallang balembeng ri barugaya

Tojeng… tojeng-tojeng karaeng
Ikattemi antu karaeng
Minasa allo banngiku
panrannuang masungguku
Ikatte anging karaeng naikambe leko’ kayu
Ammirikko anging namarunang leko’ kayu
Ikatte je’ne karaeng naikambe batang mammayu
Solongko je’ne namammayu batang kayu
Ikatte jarung karaeng na ikambe bannang panjai’
Anta’leko jarung namamminawang bannang panjai’

Tojeng… tojeng-tojeng karaeng
Punna sallang takammaya aruku ridallekanta
Pangkai jerakku tinraki bate onjokku
Pauangi ana’ riboko pasangi ana’ tanjari
Tumakkanayya karaeng tana rupai janjinna
Dasi na dasi nakitarimai panngaruku
***

ARU TUBARANI III
Cini-cini mami sallang karaeng
Buleng-bulengna mangasa
Jangang tani pakkurua
Bukkuru’ tani kadoa

Iya-iyannamo sallang karaeng
Rewanngang na inakke
Tampa tetea ri ada’
Kupolong tallu pokeku attannga parang
Kupolong appaki selekku a’bangkeng romang

Iya-iyanamo sallang karaeng
Rewanngang na inakke
Iya-iyannamo sallang karaeng
Baraniyanngang na inakke
Sekre lipa’ kuruwai warakkanna Parangtambung
Sekre lipa’ kuruwai timboranna Bulussari

Nani cini bura’nena bura’neya
Tanrinna tau lolowa
Dampenna ana’ raraya
Tena jail kawang tana katto
Benteng tannga tana ambi’
Tena todong bili’ tanna pantamai

Kamma tommama sallang karaeng
Layang-layang nionjong attannga parang
Nari’bakkang ana’ ratite
Nalollong ana’ mariang
Nampa kukana sallang karaeng
Inakke minne buleng-bulengna Mangasa
***

(Diambil dari beberapa sumber)