-->
Tampilkan postingan dengan label Serba Makassar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba Makassar. Tampilkan semua postingan

Terjemahan Surah Al-Fatihah Dalam Bahasa Makassar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Surah Al-Fatihah merupakan surah yang pertama kali diturunkan secara lengkap diantara surah-surah lainnya dalam Alquran. Termasuk surah Makkiyah yang terdiri dari 7 ayat. Dinamakan surah Al-Fatihah karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Alquran.

Saya tertarik menterjemahkan surah Al-Fatihah ini ke dalam bahasa makassar, karena adanya salah seorang peserta didik yang mempertanyakannya. Meskipun ini bukanlah satu-satunya terjemahan yang paten, namun mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua….


1.  Nisero kanai arenna Allah Ta’ala, Karaeng lammoroka massare na sarrowa mangngamaseang.
(Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang).

2.  Sikamma pammujia Allah Ta’ala ngasengji pata.
(Segala Puji bagi Allah Tuhan semesta alam).

3.  Karaeng lammoroka massare na sarrowa mangngamaseang.
(Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang).

4.  Karaeng iyya ampatangi allo ribokoa.
(Yang menguasai hari pembalasan).

5.  Ikauji Karaeng kusomba, siagang Ikau tonji Karaeng tampa’ pappala tulungku.
(Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan).

6.  Sarea pappijo’jo Karaeng mange ri a’rungang malambusuka.
(Tunjukilah kami ke jalan yang lurus).

7.  (Iami antu) a’runganna tau le’ba nusarea dalle’ pappinyamang; Teai (a’runganna) tau iyya nusarea pakkalarro, siagang teai tongi (a’runganna) tau niaka malingu.
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat).
=============================================

Asal Usul Aksara Lontara

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Bahasa Makassar merupakan salah satu bahasa daerah yang memiliki aksara tersendiri. Keberadaan aksara ini merupakan suatu berkah dan keberuntungan tersendiri bagi masyarakat lokal, karena dari ratusan bahasa daerah yang ada di Indonesia, tidak semuanya memiliki aksara seperti yang dimiliki oleh masyarakat makassar tersebut. Aksara ini sering disebut dengan AKSARA LONTARA.

Menurut sejarah, aksara lontara pertama kali dibuat oleh Daeng Pammate pada abad 14 silam. Seorang putra Gowa kelahiran Lakiung yang hidup pada masa pemerintahan Karaeng Tumapa’risi Kallonna. Ia terkenal dengan kepandaiannya, sehingga ia diberi amanah oleh Karaeng Tumapa’risi Kallonna untuk menjabat sebagai syahbandar dan Tumailalang (Urusan Dalam Negeri) kerajaan Gowa.

Aksara yang dibuat oleh Daeng Pammate tersebut pada mulanya bernama Lontara Toa atau Lontara Jangang-Jangang, karena bentuknya yang menyerupai burung (jangang-jangang). Tapi lama kelamaan, karena terpengaruh dengan budaya Islam yang mulai dianut oleh kalangan istana pada abad ke 19, maka aksara tersebut mengalami perbaikan dan penyempurnaan menjadi Lontara Bilang-Bilang seperti yang ada hingga sekarang ini.

Konon, huruf yang dipakai dalam aksara lontara berasal dari huruf Pallawa (Dewanagari), salah satu turunan huruf Brahmi Kuno yang berasal dari India. Hal ini tidak mengherankan karena memang Brahmi Kuno merupakan cikal bakal dari semua aksara di India dan juga di Asia Tenggara, termasuk di Nusantara (Indonesia).

Menurut anggapan masyarakat Makassar, huruf lontara dilatarbelakangi oleh suatu kepercayaan atau falsafah “Sulapa’ Appa” (empat persegi alam semesta), yakni: Butta (tanah), Je’ne (air), Anging (angin), dan Pepe’ (api). Demikian pula, kemungkinan besar Daeng Pammate menciptakan huruf lontara karena berangkat dari kepercayaan tersebut.

Dikatakan aksara lontara, karena huruf-hurufnya ditulis dengan menggunakan daun lontar (siwalan) sebagai pengganti kertas. Meskipun pada saat itu daun lontar bukan satu-satunya media yang dapat dijadikan bahan untuk menulis, tapi diyakini hanya daun lontar yang dapat tahan lebih lama dan lebih mudah disimpan karena tidak banyak makan tempat.
===============================

Kisah Cinta I Taro Ana’ Kunjung Barani dengan I Samindara Baine

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Masih ingatkah kita dengan kisah cinta Datu Museng dengan Maipa Deapati?  Itu lho… kisah cinta yang pernah terjadi di tanah Makassar, dimana Datu Museng dan Maipa Deapati, rela mati di tangan kompeni demi mempertahankan cintanya? Ingat bukan?
Sebenarnya, ada kisah lain yang tidak kalah serunya dengan kisah diatas, dan juga konon pernah terjadi tanah Makassar. Kisah tersebut adalah kisah cinta antara I Taro Ana’ Kunjung Barani dengan I Samindara Baine…
Kisah ini memiliki alur cerita yang seru dan kerap menegangkan, karena di dalamnya melibatkan cinta yang rumit, dunia perdukunan, intrik kekeluargaan, dan akhir cerita yang tragis. Tapi karena cerita ini tidak familiar, maka hanya sedikit orang yang tahu. Apalagi kisah ini hanya eksis dalam budaya tutur dengan menggunakan media bahasa lokal, yakni MAKASSAR.
Saya pribadi, menyukai cerita ini karena sejak kecil sering saya jadikan sebagai dongeng pengantar tidur. Jika ada salah seorang sobat blogger yang tergerak hatinya untuk tahu cerita ini, maka saya akan menceritakannya sesuai kemampuan saya dalam menulis. Sengaja saya mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia, agar cerita ini lebih mudah dicerna dan  lebih familiar. Tapi karena saya bukan sastrawan, maka maaf saja jika ceritanya kurang puitis dan terkesan bertele-tele. Hehehe…
Ini dia ceritanya…‼!

Prolog
Di tanah Makassar, di sebuah dusun terasing, seorang pemuda bernama I Taro Ana’ Kunjung Barani hidup dalam kesehariannya bersama kedua orang tuanya. Ia pemuda malas. Sehari-hari Ia hanya tahu bermain gasing dan mengadu ayam jago bersama teman-temannya. Hingga suatu ketika, orang tuanya menegur dan memberi saran:
“Sudah bukan jamannya kamu bermain gasing dan mengadu ayam, Taro. Lebih baik kamu berfikir untuk segera menikah.”
Tapi I Taro tidak menggubrisnya. Bahkan seakan Ia tidak mau tahu dengan usianya yang kian dewasa itu. Ia tetap dengan kebiasaannya. Kalau bukan bermain gasing bersama temannya, pasti mengadu ayam jago. Itu saja kerjanya tiap hari, hingga orang tuanya pun berkali-kali menegurnya dan memintanya untuk menikah.
Suatu hari, karena mungkin sudah bosan dengan teguran. I Taro mengajukan usul bahwa jika benar orang tuanya menginginkan Ia menikah, maka wanita yang cocok dinikainya hanyalah sepupunya, I Samindara Baine. Karena hanya dialah satu-satunya wanita yang tepat dihatinya dan hanya dialah satu-satunya wanita yang membuatnya jatuh cinta.
Bukan karena keinginan I Taro untuk menikah yang membuat orang tuanya berfikir. Tapi karena wanita yang ingin dipersuntingnya lah yang membuatnya ragu. Apakah mungkin sepupunya itu mau menerima lamaran I Taro? Di satu sisi, I Taro hanyalah seorang pemuda malas yang tidak punya kerjaan, di sisi lain sepupunya itu terlalu jelita untuk I Taro. Tapi karena ini kesempatan untuk merubah hidup anak satu-satunya itu, maka di coba tak mengapa…gagal jadi pengalaman…hehehe! Begitulah kira-kira yang ada di pikiran orang tua Taro.
I Samindara Baine adalah seorang gadis berparas cantik. Ia punya banyak teman yang membantunya merias diri, menyisir rambut hitamnya yang lebat dan panjang lurus hingga ke bokong, mencat kuku-kukunya yang panjang dan indah. Wajahnya putih bak bulan purnama. bibirnya yang selalu basah, selaras dengan bentuk hidungnya yang mungil. Bulu matanya lentik, serasi dengan bola matanya yang teduh bersinar. Benar-benar gadis jelita yang menghampiri kesempurnaan. Karena kejelitaannya itulah, sehingga teman-temannya memberinya gelar: I Samindara Baine, si gadis elok hiasan wanita, beranting dua berkalung tiga.
Ke elokan tubuhnya membuat para lelaki di sekitarnya berebut mempersuntingnya. Tapi tak satupun yang diterimanya. Tak terkecuali pinangan I Taro pun di tolaknya mentah-mentah.
Berkali-kali suruhan orang tua Taro, I Unru’ Dae, menemui I Samindara Baine agar dia mau menerima niat baik I Taro, tapi berkali-kali pula ditolaknya mentah-mentah. Bahkan meskipun ditawari dengan harta yang dalam sastra makassar berbunyi:
“Galunga ri Tambakola,
tallung taunga nikatto
sitaunga nipare-pare.
(yang bermakna: sebuah warisan sawah yang cukup luas, membentang dari selatan ke utara, dimana sawah itu dapat di panen hingga 3 tahun lamanya tanpa habis-habis).
Dan juga tawaran warisan moyang:
“Takkang-takkang bulaenna,
Nisungkea namalatto’,
Nisoronga na mangngudada”
(yang bermakna: sebuah tongkat ajaib yang terbuat dari emas).
Tapi toh, I samindara Baine tetap pada pendiriannya. Bahkan dia berkata: “semua tawaran itu, saya juga memilikinya, karena kita berasal dari keturunan yang sama”.

Cinta di Tolak Dukun Bertindak
Putus asa dan merasa dipermalukan, I Taro memutuskan untuk pergi berlayar. Tapi sebelum itu, ia ingin membuat perhitungan terhadap I Samindara Baine. Ia ingin membalas perlakuannya yang keterlaluan itu. Maka Ia segera menemui orang pintar (dukun) di kampungnya untuk memuluskan rencananya.
Meskipun cenderung mustahil dan tidak masuk di akal, persyaratan magic mesti dipenuhi I Taro agar  rencananya berjalan lancar. Syaratnya adalah Ia harus menemukan sebatang pohon pinang yang tumbuh sendirian dan yang berbuah satu biji. Disamping itu, jika pohonnya sudah ditemukan, maka pohon pinang tersebut harus dipanjat membelakang dan buahnya dipetik dengan kuku bagian belakang. Buahnya tidak boleh jatuh agar daya magicnya tidak pudar. Setelah itu, buah pinangnya diperlihatkan ke I Samindara Baine agar bisa mempengaruhi jiwanya.
Maka segera I Taro berkeliling kampung, melintasi beberapa sungai, mendaki bukit dan menuruni lembah, hanya sekedar mencari sebuah pohon pinang yang menjadi syarat dari si dukun. Dan walhasil, setelah beberapa hari kemudian, pohon yang dicarinya ditemukan juga... Setelah memenuhi syarat-syarat panjat dan cara petiknya, buah pinang berhasil didapat dan dibawa pulang kerumah I Taro.
Adalah I Unru’ Dae, yang diutus untuk membawa buah pinang ajaib tersebut ke rumah I Samindara Baine. Sementara I Unru’ Dae sedang dalam perjalanan, I Taro pun bersiap-siap untuk berangkat berlayar bersama rekan-rekannya. Ia berangkat membawa malu dan rasa kecewa terhadap I Samindara Baine, sepupunya yang dicintainya itu.
Di rumah I Samindara, Unru’ Dae baru saja tiba dengan buah pinang ajaib di tangan. Ia sengaja meminang-minangnya di depan mata I Samindara untuk mengundang perhatian. Dan ternyata siasat itu berhasil. I Samindara tertarik dengan buah pinang itu dan ingin mengambilnya. Tanpa berpikir dua kali, Unru’ Dae segera memberikan pinang itu ke I Samindara dan berpesan, bahwa kado itu adalah pemberian terakhir I Taro sebelum berangkat berlayar.

Buah Pinang Pembawa Petaka
Tidak butuh waktu lama, buah pinang ajaib berhasil merubah pendirian I Samindara Baine. Jiwa kewanitaannya terpengaruhi magic. Dia yang semula begitu tegar untuk tidak menerima lamaran I Taro, berangsur-angsur luluh berganti rasa ingin menyatu dengan sepupunya itu. Bahkan dia menangis dan menyesal karena menolak kehendak suci I Taro. Oleh karena itu, dia tidak rela ketika mendengar bahwa I Taro akan pergi berlayar.
Dengan rasa bersalah dan cinta yang perlahan-lahan mulai tumbuh di hatinya, I Samindara bergegas menuju ke rumah sepupunya itu di dampingi Unru’ Dae. Dia bermaksud melarang kepergian I Taro dan bersedia menerima lamarannya. Atau setidak-tidaknya, mengajaknya bersama-sama pergi mengarungi lautan. Tapi malang tak dapat di tolak, rupanya I Taro sudah ada di bibir pantai, duduk santai di atas perahunya bersama teman-teman setianya, dengan dayung yang siap untuk di kayuh kemana pun I Taro hendak menuju.
Melihat kenyataan itu, I Samindara Baine nekat. Dia bergegas ke pantai, berlari semampunya, menyusul I Taro yang perlahan-lahan sudah mulai bergerak ke laut. Dia sudah tidak peduli dengan rambutnya yang panjang terurai, kusut bermandi debu. Kaki-kaki jenjangnya yang terawat, bukan penghalang untuk terus berlari menyusuri jalan setapak mengarah ke pantai. Hingga ketika dia sampai di bibir pantai, perahu I Taro sudah terlihat mengapung menjauh dan semakin menjauh.
I Samindara terisak melihat orang yang disusulnya kian menjauh. Dia berteriak memanggil-manggil, berharap I Taro dapat mendengarnya dan berbalik menjemputnya untuk bersama-sama mengarungi lautan. Tapi sepertinya suaranya terlalu lembut untuk di dengar di kejauhan sana.
Maka, Dia memutuskan untuk turun ke pantai, berenang sekuatnya, bergerak semampunya. Sesekali tangannya melambai ke arah laut, memanggil-manggil dengan suara yang semakin serak karena tertelan ombak. Hingga akhirnya I Samindara Baine menghilang. Dia tenggelam. Tenggelam bersama suara dan harapannya untuk mengarungi lautan bersama I Taro Ana’ Kunjung Barani. Pemuda malas yang dulu dia kecewakan dan permalukan begitu saja. Barulah beberapa hari kemudian, tubuhnya yang tak lagi jelita itu, ditemukan oleh seorang nelayan sedang terbujur kaku di bibir pantai.

Epilog
di pinggir pantai, tepat dirimbunan pohon talas, tubuh I Samindara Baine terkubur. Dia sudah terbaring dibawah onggokan pasir dan dedaunan talas yang mulai mengering, sampai I Taro tiba dengan membawa kesedihan yang begitu dalam. Ia tidak menyangka kalau gadis yang di cintainya akan melakukan hal yang semacam itu.
I Taro berbalik haluan karena diberitahu oleh seorang nelayan tentang kematian sepupunya itu. Ia bergegas pulang, karena meskipun pernah dikecewakan dan merasa dipermalukan, I Samindara Baine tetaplah gadis pujaan hatinya. Biar bagaimanapun, benih-benih cinta dihatinya masih tertanam kuat. Apalagi setelah ia tahu bahwa penyebab kematiannya adalah karena ego kelelakiannya, maka bertambah sedihlah hati I Taro Ana’ Kunjung Barani.
Kesedihan dan cinta itulah, yang membuat I Taro memutuskan untuk menghunus badiknya. Menghunjam dalam tepat ke jantungnya, hingga ia roboh diatas pusara I Samindara Baine. Tapi sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia masih sempat mengucap kata: “O andikku I Samindara Baine, tatta taua belo-belo bainea, tokeng tallua anting-anting pimbalia. Bukan pacce dan siri’ semata yang membuatku menyusul kepergianmu, tapi karena cinta yang masih tersisa yang mengantar aku rela mati di atas pusaramu. Ri surugapi sallang, napasse’reki Batara…” (sekian).
==========================================

KERAJAAN BINAMU: Sebuah Catatan Singkat

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Pada tulisan terdahulu diceritakan bahwa setelah persekutuan KARE di Turatea berhasil memenangkan pertempuran dengan Kerajaan Gowa, dan setelah Kerajaan Binamu terbentuk berkat dari hasil kesepakatan dengan Sombayya Ri Gowa, maka persoalan yang tersisa tinggal satu, yaitu siapa kira-kira yang pantas memakai mahkota pertama Kerajaan Binamu.
Oleh karena itu, Kare Layu sebagai ketua dari tujuh persekutuan  ke-kare-an segera mengutus Boto Cabiri dan Boto Jombe untuk mencari calon raja sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Mula-mula mereka di suruh ke Boyong, setelah itu ke Balang, kemudian ke Tolo’ dan Rumbia, dan terakhir di Manynyumbeng.
Sesuai hasil penilaian para utusan, empat tokoh dari empat tempat yang didatangi pertama yakni Boyong, Balang, Tolo, dan Rumbia, tidak bisa menjadi Raja di Binamu karena caranya menghadapi tamu yang kurang bijaksana dan cenderung tergesa-gesa. Maka pilihan jatuh pada Gaukang Dg. Riolo, tokoh dari Manynyumbeng yang berbudi pekerti luhur, dermawan, berjiwa besar, agak pendiam, dan sabar dalam menghadapi setiap problema yang dihadapinya.
Setelah segala sesuatu yang berhubungan dengan acara pelantikan “kakaraengan” sudah dipersiapkan secara matang, maka dijemputlah Gaukang Dg Riolo di kediamannya untuk dibawa ke Layu menjalani prosesi pelantikan raja sesuai prosedur yang sudah disepakati. Hadir pula beberapa undangan dalam acara tersebut yakni Raja Gowa, Raja Luwu, Raja Suppa, dan Raja Bone, serta tokoh-tokoh dari tujuh persekutuan ke-kare-an di Turatea bersama rakyatnya. Acara pelantikan berjalan selama tujuh hari tujuh malam.
Sekedar diketahui bahwa Gaukang Dg Riolo sebenarnya adalah salah seorang keturunan dari Pari’ba Dg Nyento. Beliau putra dari anak Pari’ba yang kawin ke Manynyumbeng. Artinya, beliau tidak lain adalah salah seorang cucu Pari’ba selain cucu-cucunya yang lain yang tersebar di Boyong, balang, Tolo, dan Rumbia. Oleh karena itu, dilihat dari segi keturunan dan status sosial di Turatea, beliau memang pantas menduduki takhta Kerajaan Binamu, dan tentu saja didukung dengan sikap dan kepribadian yang luhur dan bijaksana.
Setelah pelantikan Gaukang Dg Riolo usai, maka serta merta berakhirlah bentuk pemerintahan KARE di Turatea dan dimulailah pemerintahan Kerajaan BINAMU. Sebagai raja pertama, beliau diberi gelar “KARAENG LOMPOA RI BINAMU” (Maha Raja Binamu).
Sebagai langkah awal dalam pemerintahannya, beliau membentuk beberapa lembaga untuk mendukung kerajaannya diantaranya:
  • Lembaga Pertahanan Kerajaan (panglima perang): Daenta Bonto Tangnga
  • Lembaga Pengadaan Pangan (ekonomi): Daenta Balumbungan
  • Lembaga Kesejahteraan/Sosial: Gallarang Embo
  • Dewan Penasehat (Agama): Boto Cabiri
  • Dewan Hakim: Boto Jombe
Selain itu, Gaukang Dg Riolo juga mengadakan beberapa perubahan istilah, dari Daenta dan Gallarang menjadi Karaeng, tetapi tugas dan kedudukannya tetap sama. Seperti: Daenta Bonto Tangnga diubah menjadi Karaeng Bonto Tangnga, Daenta Bontoramba menjadi Karaeng Bontoramba, Gallarang Paitana menjadi Karaeng Paitana, dan sebagainya.
Kerajaan Binamu memiliki beberapa kerajaan bawahan (karaeng palili’), diantaranya:
  • Gallarang di Balang
  • Karaeng di Tolo’
  • Karaeng di Paitana
  • Karaeng di Empoang
  • Karaeng di Bontoramba
  • Karaeng di Balumbungan, dsb…
Untuk Kerajaan Arungkeke, Tarowang, dan Bangkala, ketiganya merupakan kerajaan tersendiri yang otonom sejajar dengan kerajaan Binamu di Butta Turatea. Mereka tidak saling membawahi tapi tetap saling berinteraksi dan saling berbagi karena faktor kesamaan bahasa, budaya, tradisi, dan adat istiadat satu sama lain.
Adapun  raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan Binamu secara berturut-turut adalah sebagai berikut:
  1. Raja ke 1          : Gaukang Dg Riolo (memerintah tahun 1607 M-1631 M)
  2. Raja ke 2          : Bakiri Dg Lalang (memerintah tahun 1631 M-1660 M)
  3. Raja ke 3          : Paungga Dg Gassing (memerintah tahun 1660 M-1678 M)
  4. Raja ke 4          : Datu Mutara (memerintah tahun 1678 M-1696 M)
  5. Raja ke 5          : Lapalang Dg Masse (memerintah tahun 1696 M-1713 M)
  6. Raja ke 6          : Patakkoi Dg Ngunjung (memerintah tahun 1713 M-1731 M)
  7. Raja ke 7          : Jakkolo  Dg Rangka (memerintah tahun 1731 M-1747 M)
  8. Raja ke 8          : Pa’dewakkang Dg Lurang (memerintah tahun 1747 M-1763 M)
  9. Raja ke 9          : Ironggo Dg Bani (memerintah tahun 1763 M-1780 M)
  10. Raja ke 10         : Sanre Dg Nyikko (memerintah tahun 1780 M-1796 M)
  11. Raja ke 11         : Bebas Dg Lalo (memerintah tahun 1796 M-1814 M)
  12. Raja ke 12         : Badullah Dg Tinggi (memerintah tahun 1814 M-1834 M)
  13. Raja ke 13         : Palanrangi Dg Liu (memerintah tahun 1834 M-1852 M)
  14. Raja ke 14         : Patima Dg Sakking (memerintah tahun 1852 M-1869 M)
  15. Raja ke 15         : Itia Dg Ni’ni (memerintah tahun 1869 M-1884 M)
  16. Raja ke 16         : Mattewakkang Dg Jungge (memerintah tahun 1884 M-1900 M)
  17. Raja ke 17         : Sanre Dg Nyikko (memerintah tahun 1900 M-1911 M)
  18. Raja ke 18         : Langke Dg Lagu (memerintah tahun 1911 M-1921 M)
  19. Raja ke 19         : Ilompo Dg Radja (memerintah tahun 1921 M-1923 M)
  20. Raja ke 20         : Maggau Dg Sanggu (memerintah tahun 1923 M-1929 M)
  21. Raja ke 21         : Mattewakkang Dg Radja (memerintah tahun 1929 M-1946 M)
Demikian susunan raja-raja di kerajaan binamu mulai dari pertama kali terbentuk hingga berakhirnya kerajaan binamu itu sendiri. Wassalam. <joe>

TODDO APPAKA: Dewan Adat Kerajaan Binamu

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Dulu di Jeneponto, pernah terbentuk sebuah lembaga legislatif yang berfungsi sebagai wadah penyalur aspirasi bagi rakyatnya. Lembaga ini bertugas untuk membantu raja dalam menjalankan pemerintahan dan memberikan pertimbangan dan nasihat ketika raja membutuhkannya. Lembaga ini dikenal dengan sebutan TODDO APPAKA (Dewan Adat yang Empat) karena jumlahnya ada empat, yakni Toddo Layu di Layu, Toddo Bangkala di Bangkala Loe, Toddo Lentu’ di Lentu’, dan Toddo Batujala di Batujala. Di Gowa, lembaga ini lebih dikenal dengan istilah BATE SALAPANG (Dewan Adat Sembilan).
Konon, Toddo Appaka dibentuk pada tahun 1678 M oleh Raja Binamu ke IV, yaitu Datu Mutara, suami dari Lo’mo Sunni Dg. Memang (adik dari Paungga Dg. Gassing, Raja Binamu ke III). Lo’mo Sunni yang merupakan putri dari Raja Binamu ke II yakni Bakiri Dg. Lalang ini, menikah dengan Datu Mutara adalah untuk mempererat hubungan bilateral antara Kerajaan Binamu dengan Kerajaan Gowa, karena Datu Mutara sendiri merupakan salah seorang dari keturunan Raja Gowa.
Pembentukan Toddo Appaka (Dewan Adat) ini, bisa jadi terinspirasi dari Dewan Adat Bate Salapang, yang sudah terbentuk jauh-jauh sebelumnya di Butta Gowa. Atau pun bisa jadi karena memang kondisi masyarakat Turatea pada saat itu, yang mengharuskan dibentuknya sebuah lembaga untuk menyalurkan aspirasi masyarakat ke rajanya, agar kebutuhan masyarakat dan masalah-masalah yang terjadi dapat cepat terselesaikan.
Selanjutnya, Toddo ini mempunyai wewenang untuk membuat sejumlah aturan yang harus dijalankan oleh pihak kerajaan, berhak menentukan dan memilih calon raja, berkuasa memberhentikan rajanya apabila melanggar aturan, dan tentu saja sebagai wadah menyalur aspirasi rakyat untuk disampaikan kepada raja melalui sidang.
Dalam menjalankan tugasnya, ke empat Toddo ini (diketuai oleh Toddo Layu) lebih menitikberatkan perhatiannya pada pembangunan dan kemajuan eksistensi kerajaan, stabilitas kehidupan masyarakat, keadilan, peningkatan pendidikan dan agama, serta kesejahteraan masyarakat Butta Turatea itu sendiri.
Adapun nama-nama Toddo beserta orang yang dipercaya memangku jabatannya adalah sebagai berikut:
No
Toddo Layu
Toddo Bangkala
Toddo Lentu’
Toddo Batujala
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
Na’na
Tungka
Bagga
Lollah
Laccu’
Jakkolo
Jaleko
Santa
Mangngakkasang
Patto
Manggappa
Tanjeng Dg. Ngada
Tannikulle Dg. Nanggung
Rantu
Simbung Dg. Pato
Rampasang Dg. Rewa
Radja Dg. Nyarrang (1)
Su’ru Dg. Tinggi
Patte Dg. Naro
Radja Dg. Nyarrang (2)
Passukku Dg. Beta
Manangga
Manurung
Salamung
Mangngani
T o n a
Manggappa
B a g o
Lawarri
Manriakki
Patiadang
Radeng
T a g o
M a’ g u
B a d i (1)
L o k o
B a d i (2)
Sangngaji
Badullah
S i n a i
P a s i
P a t a u
P a t t a (1)
Tahere’
P a t t a (1)

Lihong
P a t t o
Mappare’
S a n t a
Manggayungi
Manessa (1)
Ruma
Manessa (1)
Muhammad
Demikianlah dewan adat yang pernah ada di Jeneponto, ketika pada saat itu Jeneponto masih bernama Turatea. Semoga bermanfaat…! <joe>

(Disarikan dari Buku Tiga Ungkapan Sejarah Turatea, oleh Andi Zainuddin Suwaib).

ASAL MULA KERAJAAN BINAMU (Bag. 4 Habis)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Pertempuran Meletus
==================
Genderang perang pun ditabuh. Pihak Turatea yang dari awal sudah menyadari akan kehebatan prajurit Gowa, mulai menempatkan prajuritnya di pos-pos yang telah ditentukan. Divisi I yang bertugas di gunung Se’rukang segera membagi pasukannya menjadi tiga bagian dan menempatkannya masing-masing: di sebelah utara gunung Se’rukang sebanyak 600 personil, sebelah selatan 600 personil, dan disebelah barat sebanyak 800 personil.
Begitu juga divisi-divisi lainnya, segera menempati posnya masing-masing. Ada divisi yang berjaga di Marayoka, sementara divisi lainnya bertugas di gunung Maya. Di samping itu, ada juga divisi yang bertugas menjaga pusat pertahanan yakni, Istana Layu, serta beberapa pasukan pengintai yang ditugaskan ke wilayah pantai untuk mencari informasi kedatangan pasukan Gowa di bagian pesisir.
Di Se’rukang, pasukan Turatea mengorganisasikan diri secara rapi dan terselubung, sehingga ketika pasukan Gowa datang, mereka tidak menyadari keberadaan mereka. Dan ternyata strategi ini berhasil, karena pasukan Gowa yang sudah berada di wilayah Se’rukang tidak menyadari akan bahaya yang mengancam. Mereka bermaksud menjadikan gunung Se’rukang sebagai kubu pertahanan untuk menyerang Layu, tapi toh mereka salah strategi.
Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba pasukan Turatea atas perintah panglima divisi, menyerang dengan sengit dan sporadis. Serangan yang tak diduga ini menyebabkan pasukan Gowa kaget bukan kepalang. Mereka tidak sempat menyusun kekuatan dengan baik, sementara serangan yang mereka terima benar-benar di luar dugaan. Akhirnya mereka terpaksa bertempur meskipun tanpa strategi yang matang.
Beberapa saat kemudian, pasukan Gowa terjepit. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata pasukan Turatea, bukan hanya yang mereka lawan saat ini. Tapi dari arah utara dan selatan gunung Se’rukang, muncul sekelompok pasukan mengepung pasukan Gowa yang mulai kewalahan. Mereka kocar-kacir. Dan dengan sisa-sisa pasukan yang ada, mereka bergerak ke arah utara untuk menyelamatkan diri. Mereka bermaksud ingin bergabung dengan pasukan Gowa lainnya yang berada di Marayoka.
Tapi belum sempat mereka bergabung, pasukan Turatea yang ada di Marayoka yang berjumlah 1000 personil menghadang mereka. Pertempuran kembali berkecamuk. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, mereka bertempur mati-matian melawan pasukan Turatea yang kian bersemangat. Dan benar-benar nasib sial bagi pasukan Gowa. belum sempat mereka kalahkan pasukan Marayoka, tiba-tiba muncul pasukan dari Se’rukang, yang ternyata masih mengadakan pengejaran terhadap pasukan Gowa yang lari tersebut. Bersatu dengan pasukan marayoka, sehingga pada akhirnya pasukan Gowa di Marayoka menyerah karena sudah tak berdaya. Mereka ditawan dan dipasung disana.
Sementara di tempat lain, di gunung Maya. Pertempuran pun begitu sengit. Pasukan Gowa yang bergerak ke gunung Maya, disambut oleh pasukan Turatea yang bermarkas disitu. Mayat-mayat bergelimpangan di kedua belah pihak. Tak satupun yang mau menyerah. Hingga pada akhirnya, pasukan Gowa di gunung Maya merasa kewalahan dan menyerah, karena disamping mereka menghadapi pasukan yang bermarkas disitu, mereka juga menghadapi pasukan dari Se’rukang dan Marayoka yang segera bergabung bersama-sama setelah berhasil mengalahkan pasukan Gowa di Marayoka.
Di tempat lainnya lagi, di pesisir pantai di waktu malam. Sekelompok pasukan Gowa dengan jumlah personil yang tidak kurang dari 2000 pasukan, berlabuh disana. Pasukan pengintai yang melihat itu, segera melapor ke Istana Layu sebagai pusat pergerakan. Panglima perang Turatea, Daenta Bontongnga, segera meresponnya dengan cepat. Oleh karena itu, sebanyak 2000 personil dikirim ke wilayah pesisir untuk membendung bergerakan pasukan Gowa.
Pertempuran di wilayah pesisir pun terjadi. Karena pertemuran terjadi di malam hari, maka pasukan Turatea memakai kain putih dilehernya sebagai tanda pengenal. Pertempuran kian seru. Kedua belah pihak saling serang, saling teriak, dan saling membunuh. Perahu-perahu Gowa banyak yang hancur. Darah dan mayat bergelimpangan dimana-mana hingga pertempuran berlangsung di siang hari.
Semakin lama bertempur, pasukan Turatea kian bertambah sementara pasukan Gowa kian berkurang. Hal ini menyebabkan pasukan Gowa kewalahan. Bantuan pasukan di darat yang mereka harapkan tidak pernah terwujud karena ditumpas terlebih dahulu oleh pasukan Turatea. Terpaksa mereka menyerah dan sisa-sisa pasukan yang mereka miliki dijadikan tawanan perang oleh pihak pasukan Turatea.
Dengan menyerahnya pasukan Gowa, baik yang di darat maupun di pantai, maka berakhirlah peperangan dengan menyisakan kerugian besar di kedua belah pihak, terutama pihak Gowa sebagai pihak yang kalah perang. Tapi meskipun perang berakhir, permusuhan masih tetap berlangsung lama hingga beberapa bulan kemudian.
Tapi setahun kemudian, diadakanlah perjanjian damai kedua belah pihak. Pasukan Gowa yang ditahan di Layu dikembalikan ke Gowa, dan Turatea sudah bebas membentuk kerajaan sendiri sebagaimana yang diperjuangkan selama ini, yaitu KERAJAAN BINAMU.
Begitulah… Kerajaan Binamu yang bersumber dari kare Layu telah terbentuk. Sebuah kerajaan otonom dan berdiri sendiri, tanpa harus mengabdi ke Gowa dan mengikuti kehendak Sombayya ri Gowa lagi. sekian…<joe>

Kisah Cinta DATU MUSENG Dan MAIPA DEAPATI: Sebuah Tragedi

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Tiap orang punya kisah cinta, tapi dengan warna dan jalan cerita yang berbeda-beda. Ada yang awal kisahnya penuh duka dan airmata, tapi endingnya membahagiakan dan penuh canda tawa. Ada pula yang awalnya bahagia, tapi di akhir kisahnya penuh kemelut dan problema, sehingga berakhir tragis dan menyedihkan. Hemmmmhh…
Itulah cinta… yang kadang lebih misterius dan lebih sulit ditebak dari makna dibalik senyuman manis MONALISA…! Hehehe……
Di sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidak sedikit kisah cinta yang berhasil diabadikan. Baik melalui tulisan, pahatan patung, prasasti, rekaman gambar, serta melalui situs-situs lainnya, disamping kisah cinta yang hanya diketahui melalui budaya oral (lisan). Kisah tersebut mayoritas dilakoni oleh seorang tokoh atau figur yang cukup memiliki pengaruh pada zamannya. Sebutlah misalnya, kisah cinta antara Romeo dan Juliet (seorang bangsawan Verona, Italia), Anthony (bangsawan Romawi) dan Cleopatra (Paraoh cantik dari Mesir), Tristan dan Isolde (putri Raja Irlandia), dan kisah-kisah lainnya yang cukup banyak kita saksikan, baik di buku-buku sastra, pementasan drama, maupun di film-film terkenal.
Sejatinya, di belahan bumi ini, tiap-tiap wilayah dan budaya memiliki catatan kisah cintanya sendiri-sendiri, yang dapat dijadikan sebagai sebuah pembelajaran dan untuk dipetik hikmah yang terkandung didalamnya. Hanya saja karena keterbatasan media dan waktu, kisah-kisah tersebut tidak terekspos ke publik sehingga hanya menjadi konsumsi cerita lokal dimana kisah tersebut terjadi.
Di Sulawesi Selatan, kisah cinta yang paling tenar karena tertulis dalam naskah klasik I Laga Ligo adalah kisah cintanya I Sawerigading dengan We Cudai, seorang gadis cantik dari Botting Langi’. Kisah ini terjadi di tanah Luwu. Tapi selain itu, ada juga satu kisah cinta yang tidak kalah serunya dengan cerita I Sawerigading. Sebuah kisah yang pernah terjadi di tanah Makassar, yakni kisah cinta antara Datu Museng dengan Maipa Deapati.
Siapa dia…? Bagaimana kisahnya…???
Di Makassar, kisah Datu Museng dan Maipa Deapati ini sering dituturkan secara lisan oleh para orang tua. Tujuannya agar kita mengambil pelajaran di dalamnya, karena kisah tersebut penuh intrik perjuangan, keteguhan hati dan tanggungjawab, kesetiaan, kehormatan dan harga diri, dan tentu saja tragedi cinta yang mengharukan.
Tentu saja… Karena selain Datu Museng harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan cintanya Maipa Deapati, seorang gadis jelita yang merupakan Putri Raja Sumbawa. Ia juga harus berhadapan dengan Pangeran Mangalasa, sepupu Maipa Deapati yang menjadi tunangannya. Oleh karena itu, atas anjuran sang kakek, Addengareng. Datu Museng menyeberang ke Tanah Mekah untuk menuntut ilmu.
Kepergian Datu Museng ke Mekah, tidak membuat cintanya kepada Maipa surut. Bahkan benih-benih cinta dihatinya malah kian kokoh dan berakar. Oleh karena itu, sepulangnya dari Mekah dan setelah mendapatkan ilmu “Bunga Ejana Madina”, Datu Museng segera menemui Maipa yang sedang terbujur sakit. Dengan ilmu yang dimilikinya, Ia berhasil menyembuhkan penyakit Maipa dan setelah itu, cinta pun bersemi di kedua belah pihak.
Gelagat buruk ini memaksa Pangeran Mangalasa meminta bantuan Belanda. Berharap agar Kompeni dapat membunuh Datu Museng, dan Ia dapat bersatu kembali dengan tunangannya, Maipa Deapati. Tapi Datu Museng terlalu sakti bagi mereka. Ilmu yang didapatnya di tanah Mekah membuatnya mampu mengalahkan persekutuan Pangeran Mangalasa dengan pihak Belanda. Sehingga pada akhirnya, Datu Museng mempersunting Maipa Deapati tanpa dapat dicegah oleh siapapun juga.
Sekedar dipahami bahwa, Datu Museng sesungguhnya adalah bahagian dari keluarga Kerajaan Gowa. Ia menyeberang ke tanah Sumbawa karena ketidakstabilan Gowa akibat politik devide et impera yang dilancarkan Kompeni Belanda. Pada saat itu, Datu Museng masih belia. Ia masih kanak-kanak sampai kakeknya, Adengareng, memintanya untuk menyeberang ke Sumbawa. Menetap disana sampai Ia tumbuh dewasa, dan pada akhirnya jatuh cinta pada Maipa Deapati, teman mengajinya di Mempewa.
Cerita berlanjut… Beberapa hari setelah Datu Museng mempersunting Maipa Deapati, Ia mendapat kabar bahwa di Makassar (tanah kelahirannya) terjadi kegoncangan dan ketidakstabilan politik akibat adu domba Kompeni Belanda yang kian menjadi-jadi. Oleh karena itu, atas izin dari mertuanya (Raja Sumbawa), Ia beserta istrinya pulang ke Makassar untuk membantu Kerajaan Gowa melawan musuhnya-musuhnya.
Tapi masalah lain muncul. Pimpinan Kompeni terpesona melihat kejelitaan Maipa Deapati. Ia begitu mengaguminya dan ingin mengambilnya di tangan Datu Museng. Maka, dengan berbagai macam cara, siang dan malam, dari segala penjuru, pihak Kompeni bertubi-tubi menyerang Datu Museng. Tapi lagi-lagi, dengan ilmu dan kesaktian yang dimilikinya, Datu Museng masih bisa bertahan untuk melindungi kekasihnya, Maipa Deapati.
Hingga pada suatu ketika… Saat Datu Museng lengah. Pihak kompeni yang tidak mau berhenti melancarkan serangannya, berhasil menodongkan senjatanya ke arah Datu Museng dari jarak yang sangat dekat. Menyaksikan itu, jiwa kewanitaan Maipa muncul. Ia tidak rela suami yang sangat dicintainya mati ditembus peluru Kompeni. Maka dengan mantap dan penuh keyakinan, Ia menghadang laju peluru sebelum sempat mengenai tubuh Datu Museng. Walhasil, peluru menembus tubuhnya yang jelita itu. Maipa roboh, pucat meregang maut.
Tapi sebelum maut benar-benar menjemputnya, Maipa masih sempat mengucap kata, berbisik di pangkuan Datu Museng, katanya: “Daengku Datu Museng, permata hatiku… Takkan ku gentar walau jiwa melayang, kebimbangan telah kucampakkan… Sebab keyakinan telah kupastikan, perahu kematian siap kutumpangi… Kemudi telah kukuh di tangan, telah kutetapkan haluan menyongsong tujuan, pada kematian yang hangat dan menyenangkan…”
Demikianlah… Maipa telah tiada. Ia tewas dalam pangkuan suaminya. Peluru Kompeni berhasil merobek tubuh jelitanya, membuatnya bersimbah darah. Tapi kompeni tidak berhasil membunuh cintanya, Kompeni tidak mampu mengambil kesetiaan, harga diri dan ikrar sucinya kepada Datu Museng. Ikrar untuk sehidup semati…‼!
Karena ikrar itu pulalah yang membuat Datu Museng melepas jimat saktinya, membuang ilmu “kebal”nya, menyerahkan dirinya kepada pihak Kompeni belanda untuk ditembaki hingga mati…‼!
Kini, Datu Museng hanya tinggal sebuah cerita. Maipa Deapati pun hanya tinggal sebuah nama. Bagi siapapun yang ingin mengenangnya, berkunjunglah ke Kota Makassar. Di ujung barat jalan Datu Museng (sebuah nama jalan pemberian Pemerintah Kota Makassar), disitu terletak dua buah situs makam bernisan kayu, yang konon adalah makamnya Datu Museng dan kekasihnya Maipa Deapati.
Sobat blogger…
Mungkin di antara kita masih ragu atau bahkan tidak percaya sama sekali. Benarkah kisah ini sebuah fakta sejarah? Atau jangan-jangan ini cerita fiksi yang sengaja dibikin oleh para tetua kita dahulu, sekedar untuk pengajaran moral dan pengantar tidur bagi anak-anaknya…!
Bagi saya, terlepas dari apakah kisah ini fakta atau fiksi, karena memang tidak satupun diantara kita yang hidup semasa dengan pelakon cerita. Maka kita hanya bisa menilai bahwa, jika kisah ini adalah benar-benar sebuah fakta sejarah, kita seharusnya patut berbangga dengan kisah cintanya yang mengharukan itu. Tapi toh andai ini pun sebuah fiksi, kita patut mengangkat jempol bagi si penutur atau si pencipta cerita, karena Ia berhasil membangun sebuah cerita yang tidak kalah serunya dengan kisah-kisah lainnya yang mendunia, dan tetap masih bertahan hingga kini.
Believe or not… yang pasti kebenaran hanya milik Sang pemilik Kebenaran Mutlak itu sendiri, yakni Allah Azza Wa Jalla…‼! <joe>