-->

ROYONG: Lebih Dari Sekedar Sebuah Nyanyian

Jufri Daeng Nigga | 12:11 PM | |
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم




Di Makassar, ada sebuah kebiasaan menarik yang sering dilakukan oleh ibu-ibu sesaat sebelum bayinya tertidur. Sang ibu akan melantunkan sebuah nyanyian pengantar tidur, yang dinyanyikan tanpa iringan alat musik dengan syair-syair tertentu dalam bahasa Makassar, sambil sang bayi di ayun-ayun secara perlahan hingga matanya terpejam. Nyanyian tersebut dikalangan masyarakat Makassar disebut: ROYONG.
Royong, merupakan sebuah karya sastra lisan yang konon konsepnya bermula dari hadirnya Tumanurung di Butta Gowa. Adalah dayang-dayang pengiring Tumanurung lah, yang diyakini sebagai pelantun pertama Royong hingga mereka kembali ke langit setelah kelahiran Karaeng Tumasalangga Baraya, putra yang lahir dari hasil perkawinan Tumanurung dengan Karaeng Bayo di Gowa.
Oleh karena itu, Royong dikenal bukan hanya sebagai tembang pengantar tidur sang bayi, tapi juga berfungsi sebagai nyanyian sakral dalam ritual upacara adat tertentu. Seperti upacara pernikahan, sunatan/khitanan, aqiqah, dan upacara penolak bala.
Dalam hal upacara adat ini, Royong sering dinyanyikan oleh perempuan-perempuan tua dengan iringan musik tradisional tertentu, seperti: ana’ baccing (dua besi kecil yang saling dipukul), curiga (rantai yang saling dipukul), ganrang (gendang), pui’pui, dekkang, dan lain sebagainya.
Sebagai karya sastra yang berbentuk lisan, Royong cenderung eksklusif karena hanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya oleh para keluarga Paroyong. Baik melalui penunjukan secara gaib oleh arwah leluhur melalui proses kesurupan, juga melalui proses hafalan yang dipahamkan ke dalam hati orang yang terpilih mendapatkan kalimat royong. Tapi meskipun demikian, ada beberapa kalimat royong yang berhasil didokumentasikan dalam bentuk naskah, diantaranya royong appatinro ana', royong pakkio' sumanga', royong a'bu'bu bunting dan lain sebagainya.
Sisi lain dari Royong adalah mengenai kepercayaan masyarakat Makassar tentang fungsi, khasiat dan efek dari royong. Konon, Royong dapat menyembuhkan suatu penyakit, menolak bala, dan lain sebagainya. Hal ini dapat kita pahami jika melihat kalimat-kalimat royong itu sendiri yang menyerupai sebuah do’a dan harapan kepada Yang Maha Kuasa tentang sesuatu hal. Untuk fungsi ini, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebagai prasyarat Royong, yakni:
  • Air putih 1 gelas;
  • Tai Bani (lilin berwarna merah) dua buah; Bermakna sebagai penerang, baik untuk pelaksana hajatan maupun pelaksana ritual (pa’royong).
  • Doe’ Ja’jakkang (uang hajatan); Uang ini sebagai simbolisasi pappakalabbiri kepada pelaku ritual atas pekerjaannya.
  • Leko Sikabba (daun sirih satu ikat), beserta kapur dan rappo sikabba (buah pinang satu ikat); Daun sirih dengan pinang seikat memiliki makna a’lekoki na’nikillaeki rappo yang mengandung arti bahwa jika pohon itu berdaun, diupayakan untuk berbuah. Jika melakukan hajatan, maka pelaksana hajatan mengharapkan apa yang dicita-citakan dapat terwujud.
  • Pa’dupang (tempat kayu bara untuk membakar kemenyan);
  • Kumanynyang (kemenyan);
  • Berasa si gantang (beras 4 liter);
  • Golla Eja na Kaluku (gula merah dan kelapa) masing-masing 1 buah;
  • Kaeng Kebo’ (kain putih); Sebagai pembungkus peralatan ritual, merupakan simbol bahwa suatu upacara dimulai dengan kesucian (putih), agar apa yang diinginkan dapat tercapai dengan baik, dan agar upacara berlangsung dengan baik
  • Tambako (tembakau/rokok)

Setelah semua ja’jakkang tersebut sudah tersedia, maka pelaksanaan Royong untuk hajatan tertentu pun dimulai.
Melihat penjelasan di atas, maka setidak-tidaknya ada 4 macam fungsi Royong, yaitu: (1). Sebagai pengantar tidur; (2). Sebagai pengundang rezeki dan penolak bala atau penangkal malapetaka; (3). Sebagai pengesahan suatu adat atau tata cara kebiasaan kelompok masyarakat Makassar; dan (4). Sebagai media pendidikan budi pekerti atau pemahaman norma-norma positif kepada generasi penerus.
Selanjutnya, dalam kaitannya dengan strata sosial masyarakat Makassar, ternyata tidak semua lapisan masyarakat dapat diroyongkan. Dari 4 golongan masyarakat Makassar (Sombayya, Karaeng, Daeng/Tomaradeka, dan Ata), yang dapat diroyongkan adalah hanya sombayya, karaeng dan anak Tomaradeka di daerah itu.
Oleh karena itu, Royong juga hanya dikenal memiliki 3 tingkatan, yaitu: Royong Bajo (untuk keluarga Sombayya), Royong Karaeng, dan Royong Daeng. Kalangan budak (ata) tidak memiliki royong untuk keluarga mereka.
Baiklah, sebelum tulisan ini diakhiri. Ada baiknya saya cantumkan contoh Royong berikut ini:

Royong Pengantar Tidur I
======================

Ana' tinro mako naung, pakaselaki matannu..
Mata ta'do'do', pa'lungang manakku tommi..
I Baso sallang lompo, na'bayuang se're bori…
Manna tanjari, punna kaleleang mamo…
Ana'… tinro mako naung, pakaselaki matannu..
Ambangungko nai', te'ne tommi pa'mai'nu…

(Tidurlah anakku sayang, lelapkanlah matamu…
Mata mengantuk, bantal pun telah merindukanmu..
Bila nanti engkau dewasa, menjadi kekasih seluruh alam…
walau tak jadi, asalkan sudah terbagi…
Tidurlah anakku sayang,  lelapkanlah matamu…
Bila nanti engkau bangun, bahagia sudah perasaanmu...)
***

Royong Pengantar Tidur II
======================

Cui la ilau'mene…
manri'ba' sikayu-kayu mene
situntung-tuntungang
ri passimbangenna Makka, ri alla'na Arapa
ri butta nisingarria…
manngagaang ri Sapa, nammalo ri Marawa,
ada menei makkio', ala kenna mappasengka
tulusu'mami mantama, attawapa' ri ka'bayya
ha'ji ri baetullayya…
nikio'mi ri sehea, nitayomi ri pakkihia
kurru mae sumanga'nu, anak battu rite'nea
kutimbangiko doing, kurappoiko barakka'
napappokoki, pa’balle iballe nakkilolonna…
ilena gulu'battanna, nasikuntumo numera
teamako ma'je'ne' mata, namate'nemo pa'mai'…
 ***
(Dari beberapa sumber)

Artikel Lainnya:

Tidak ada komentar:

:) :( ;) :D ;;-) :-/ :x :P :-* =(( :-O X( :7 B-) :-S #:-S 7:) :(( :)) :| /:) =)) O:-) :-B =; :-c :)] ~X( :-h :-t 8-7 I-) 8-| L-) :-a :-$ [-( :O) 8-} 2:-P (:| =P~ :-? #-o =D7 :-SS @-) :^o :-w 7:P 2):) X_X :!! \m/ :-q :-bd ^#(^ :ar!

Silahkan berkomentar secara bijak Sobat...!