-->

Asal Usul Aksara Lontara

Jufri Daeng Nigga | 10:14 AM | |
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Bahasa Makassar merupakan salah satu bahasa daerah yang memiliki aksara tersendiri. Keberadaan aksara ini merupakan suatu berkah dan keberuntungan tersendiri bagi masyarakat lokal, karena dari ratusan bahasa daerah yang ada di Indonesia, tidak semuanya memiliki aksara seperti yang dimiliki oleh masyarakat makassar tersebut. Aksara ini sering disebut dengan AKSARA LONTARA.

Menurut sejarah, aksara lontara pertama kali dibuat oleh Daeng Pammate pada abad 14 silam. Seorang putra Gowa kelahiran Lakiung yang hidup pada masa pemerintahan Karaeng Tumapa’risi Kallonna. Ia terkenal dengan kepandaiannya, sehingga ia diberi amanah oleh Karaeng Tumapa’risi Kallonna untuk menjabat sebagai syahbandar dan Tumailalang (Urusan Dalam Negeri) kerajaan Gowa.

Aksara yang dibuat oleh Daeng Pammate tersebut pada mulanya bernama Lontara Toa atau Lontara Jangang-Jangang, karena bentuknya yang menyerupai burung (jangang-jangang). Tapi lama kelamaan, karena terpengaruh dengan budaya Islam yang mulai dianut oleh kalangan istana pada abad ke 19, maka aksara tersebut mengalami perbaikan dan penyempurnaan menjadi Lontara Bilang-Bilang seperti yang ada hingga sekarang ini.

Konon, huruf yang dipakai dalam aksara lontara berasal dari huruf Pallawa (Dewanagari), salah satu turunan huruf Brahmi Kuno yang berasal dari India. Hal ini tidak mengherankan karena memang Brahmi Kuno merupakan cikal bakal dari semua aksara di India dan juga di Asia Tenggara, termasuk di Nusantara (Indonesia).

Menurut anggapan masyarakat Makassar, huruf lontara dilatarbelakangi oleh suatu kepercayaan atau falsafah “Sulapa’ Appa” (empat persegi alam semesta), yakni: Butta (tanah), Je’ne (air), Anging (angin), dan Pepe’ (api). Demikian pula, kemungkinan besar Daeng Pammate menciptakan huruf lontara karena berangkat dari kepercayaan tersebut.

Dikatakan aksara lontara, karena huruf-hurufnya ditulis dengan menggunakan daun lontar (siwalan) sebagai pengganti kertas. Meskipun pada saat itu daun lontar bukan satu-satunya media yang dapat dijadikan bahan untuk menulis, tapi diyakini hanya daun lontar yang dapat tahan lebih lama dan lebih mudah disimpan karena tidak banyak makan tempat.
===============================

Artikel Lainnya:

2 komentar:

  1. Kekayaan budaya Sulawesi Selatan memang tidak ada matinya :)

    BalasHapus
  2. Aksara lontara memang agak mirip dengan huruf aksara India dan Hiragana dari Jepang. Saya bisa menyimpulkan bahwa keberadaan aksara lontara pada aksara Bugis makassar karena perpaduan dari beberapa aksara Hiragana dan aksara India. Ini bisa dibuktikan karena nenek moyang kita senang merantau ke berbagai negeri dibelahan dunia termasuk negeri Gujarat dan india. Saya sangat salut dengan postingan ini. Mudah-mudahan generasi selanjutnya bisa mengembangkan keberadaan bahasa lokal yang nyaris punah sebagai kekayaan budaya Nusantara khususnya yang ada di bumi Sulawesi Selatan. Salamku buat semua pembaca, dari Darwis Razak putra Turatea (Bukit Tengger :Turatea bagian Tenggara)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar secara bijak Sobat...!