-->

TOKOH ISLAM: Ali Bin Abu Thalib

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Nama lengkapnya adalah Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Ia merupakan saudara sepupu Rasulullah saw, karena Abu Thalib (ayah Ali) masih saudara kandung dengan Abdullah (ayah NAbu Muhammad saw). Ia sering dijuluki Abul Hasan dan Abu Turab.

Semenjak kecil ia diasuh oleh Rasulullah saw, karena ayahnya terlalu banyak beban dan tugas yang harus diemban, disamping banyaknya anggota keluarga yang harus dinafkahi, sementara Abu Thalib hanya memiliki sedikit harta. Rasulullah saw mengasuhnya sebagai balas budi terhadap pamannya (Abu Thalib), yang telah mengasuh beliau ketika hidup dalam keadaan yatim piatu, serta setelah wafat kakek tercintanya, Abdul Muththalib.

Menurut mayoritas ahli sejarah Islam, Ali bin Abu Thalib adalah orang kedua yang masuk Islam setelah Khadijah, ketika usianya saat itu masih berkisar antara 10 atau 11 tahun. Suatu kehormatan dan kemuliaan baginya, karena ia hidup bersama Rasulullah saw dan terdepan dalam memeluk Islam. Bahkan ia adalah orang pertama yang melakukan shalat berjamaah bersama Rasulullah saw, sebagaimana ditulis oleh al-Askari (penulis kitab al-Awa`il).

Ia adalah sosok yang memiliki tubuh yang kekar dan lebar, padat berisi dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi. Perutnya besar, warna kulitnya sawo matang, berjenggot tebal berwarna putih seperti kapas, kedua matanya sangat tajam, murah senyum, berwajah tampan, dan memiliki gigi yang bagus, serta bila berjalan sangat cepat.

Ali bin Abu Thalib adalah salah seorang sahabat yang hidup zuhud dan sederhana, memakai pakaian seadanya dengan tidak terikat corak atau warna tertentu. Pakaiannya berbentuk sarung yang tersimpul di atas pusat dan menggantung sampai setengah betis. Pada bagian atas tubuhnya adalah rida’ (selendang) sederhana dan kadang bertambal. Ia juga selalu mengenakan kopiah putih buatan Mesir yang dililit dengan surban. Ia juga suka memasuki pasar, menyuruh para pedagang bertakwa kepada Allah dan menjual dengan cara yang ma`ruf.

Ali bin Abu Thalib menikahi Fatimah az-Zahra putri Rasulullah saw dan dikarunia dua orang putra, yaitu Hasan dan Husain.

Ia adalah sosok pejuang yang pemberani dan heroik, pantang mundur, tidak pernah takut mati dalam membela dan menegakkan kebenaran. Keberaniannya dicatat di dalam sejarah, sebagai berikut:
  • Malam hari, sesaat sebelum melakukan hijrah ke Madinah. Rumah Rasulullah saw dikepung oleh sekelompok pemuda dari berbagai utusan kAbulah Arab untuk membunuhnya. Maka Rasulullah saw menyuruh Ali bin Abu Thalib tidur di tempat tidur beliau dengan mengenakan selimut milik beliau. Di sini Ali bin Abu Thalib benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi Rasulullah saw, dengan penuh tawakal kepada-Nya. Keesokan harinya, Ali disuruh menunjukkan keberadaan Rasulullah saw, namun ia menjawab tidak tahu, karena ia hanya disuruh untuk tidur di tempat tidurnya. Lalu ia disiksa dan digiring ke Ka’bah dan di situ beliau ditahan beberapa saat, lalu dilepas. Ia kemudian ikut berhijrah ke Madinah sendirian dengan berjalan kaki, menempuh jarak yang sangat jauh tanpa alas kaki, sehingga kedua kakinya bengkak dan penuh luka-luka setibanya di Madinah.
  • Ali bin Abu Thalib terlibat dalam semua peperangan di masa Rasulullah saw, selain perang Tabuk. Karena saat itu ia ditugaskan menjaga kota Madinah. Di dalam peperangan-peperangan tersebut beliau sering kali ditugaskan melakukan perang tanding (duel) sebelum peperangan sesungguhnya dimulai. Dan semua perang tanding tersebut berhasil dimenangkannya. Ia juga menjadi pemegang panji Rasulullah saw.


Keutamaan Ali bin Abu Thalib sangat banyak sekali. Selain yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi keutamaan dan keistimewaan beliau. Berikut ini di antaranya:
  • Ali adalah manusia yang benar-benar dicintai Allah dan Rasul-Nya. Pada waktu perang Khaibar, Rasulullah saw bersabda, “Bendera ini sungguh akan saya berikan kepada seseorang yang Allah memberikan kemenangan melalui dia, dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia dicintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka pada malam harinya, para sahabat ribut membicarakan siapa di antara mereka yang akan mendapat kehormatan membawa bendera tersebut. Keesokan harinya para sahabat datang menuju Rasulullah saw, masing-masing berharap diserahi bendera. Namun beliau bersabda, “Mana Ali bin Abu Thalib?” Mereka menjawab, “Matanya sakit, ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah menyuruh untuk menjemputnya dan Ali pun datang. Rasulullah saw menyemburkan ludahnya kepada kedua mata Ali dan mendoakannya. Dan Ali pun sembuh seakan-akan tidak pernah terkena penyakit. Lalu beliau memberikan bendera kepadanya. Ali berkata, “Ya Rasulullah, aku memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita.” Beliau menjawab, “Majulah dengan tenang sampai kamu tiba di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka masuk Islam dan sampaikan kepada mereka hak-hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang manusia melalui dirimu, sungguh lebih baik bagimu dari pada unta-unta merah.” (HR. Muslim, no. 2406).
  • Jiwa juang Ali sangat melekat di dalam kalbunya, sehingga ketika Rasulullah ingin berangkat pada perang Tabuk dan memerintah Ali agar menjaga Madinah, Ali merasa keberatan sehingga mengatakan, “Apakah engkau meninggalkan aku bersama kaum perempuan dan anak-anak?” Namun Rasulullah saw justru menunjukkan kedudukan Ali yang sangat tinggi seraya bersabda, “Apakah engkau tidak ridha kalau kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada kenAbuan sesudahku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
  • Ia juga adalah salah satu dari sepuluh orang yang telah mendapat “busyra biljannah” (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.
  • Rasulullah saw telah menyatakan kepada Ali “bahwa tidak ada yang mencintainya kecuali seorang Mukmin dan tidak ada yang membencinya, kecuali orang munafik.” (HR. Muslim).
  • Rasulullah saw juga pernah bersabda kepadanya, “Engkau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu.” (HR. al-Bukhari).
  • Ia juga dikenal dengan kepandaian dan ketepatannya dalam memecahkan berbagai masalah yang sangat rumit sekalipun, ia juga seorang yang memiliki `abqariyah qadha’iyah (kejeniusan dalam pemecahan ketetapan hukum).


Ketika Ali bin Abu Thalib diangkat menjadi khalifah keempat, situasi dan suasana kota Madinah sangat mencekam. Kota Madinah dikuasai oleh para pemberontak dengan melakukan pembunuhan secara keji terhadap Khalifah ketiga, Utsman bin ‘Affan.

Ali bin Abu Thalib dalam pemerintahannya menghadapi dilema besar yang sangat rumit, yaitu:
  • Kaum pemberontak yang jumlahnya sangat banyak dan menguasai Madinah.
  • Terbentuknya kubu penuntut penegakan hukum terhadap para pemberontak yang telah membunuh Utsman bin ‘Affan, yang kemudian melahirkan perang saudara, perang Jamal dan Shiffin.
  • Kaum Khawarij yang dahulunya adalah para pendukung dan pembelanya, kemudian berbalik memeranginya.


Namun dengan kearifan dan kejeniusannya dalam menyikapi berbagai situasi dan mengambil keputusan, ia dapat mengakhiri pertumpahan darah itu melalui arbitrase (tahkim), sekalipun umat Islam pada saat itu masih belum bersatu secara penuh.

Abdurrahman bin Muljam, salah seorang pentolan Khawarij memendam api kebencian terhadap Ali bin Abu Thalib, karena dianggap telah menghabisi rekan-rekannya yang seakidah, yaitu kaum Khawarij di Nahrawan. Maka dari itu, ia melakukan makar bersama dua orang rekannya yang lain, yaitu al-Barak bin Abdullah dan Amr bin Bakar at-Tamimi. Mereka sepakat untuk menghabisi Ali, Mu’awiyah dan Amr bin al-’Ash, karena mereka anggap sebagai biang keladi pertumpahan darah.

Al-Barak dan Amr gagal membunuh Mu’awiyah dan Amr bin al-’Ash, sedangkan Ibnu Muljam berhasil mendaratkan pedangnya di kepala Amirul Mukminin, Ali bin Abu Thalib, pada dini hari Jum’at, 17 Ramadhan, tahun 40 H. Dan meninggal keesokan harinya.
==================================================

POLITIK PRAKTIS: Kejam Tapi Asyik

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Tidak ada pengertian defenitif yang dapat dijadikan rujukan normatif untuk memaknai dunia politik praktis. Kita hanya disuguhi sebuah realitas sosial dimana seseorang mempertaruhkan harga diri, waktu, tenaga, pikiran dan -tentu saja- uang, untuk mencapai apa yang didambakan yakni kemenangan dan kekuasaan.

Politik praktis adalah sebuah dunia ketika segala itikad, motif, kepentingan, dan ambisi, hadir bersamaan dan saling berhimpit untuk memperebutkan kekuasaan. Secara kasat mata, kekuasaan yang dimaksud tak lain adalah jabatan, kedudukan atau posisi. Namun secara implisit, yang diperebutkan sesungguhnya adalah otoritas dan wewenang untuk membuat keputusan-keputusan publik.

Dulu, ketika paham demokrasi belum terkonsepsi seperti sekarang ini, politik praktis tak lain adalah “perang atau benturan fisik” antara dua kubu atau lebih yang saling menghancurkan untuk memperebutkan kekuasaan. Tapi ketika konsep demokrasi politik telah membumi seperti saat ini, politik praktis telah menyerupai sebuah pertarungan yang saling melakukan pembunuhan karakter, saling menghancurkan taktik dan strategi, saling menyerang basis-basis teritorial, dan saling berlomba mendapatkan simpati publik.

Ada beberapa karakter dasar politik praktis yang dapat kita saksikan hari ini, diantaranya dapat disebutkan sebagai berikut:

1.  Tidak Ada Yang Pasti
Bahwa tidak ada yang pasti di dunia politik praktis kecuali ketidakpastian dan kepentingan itu sendiri. Berbeda dengan urusan ekonomi, sosial, budaya, dan bahkan militer. Dalam urusan politik praktis, tidak ada epistemologi, strategi, metode, taktik, atau pola-pola pemikiran dan tindakan yang pasti. Semuanya selalu berubah setiap saat mengikuti anasir kontekstual yang sedang eksis di dalamnya. Jadi tidak mengherankan jika cara terbaik untuk memahami dunia politik praktis adalah dengan cara mengalaminya sendiri.

Kita mungkin masih ingat bagaimana Harmoko yang dulunya selalu minta restu ke Soeharto setiap akan melakukan kegiatan kenegaraan, tiba-tiba mengeluarkan statement yang menyudutkan posisi Soeharto di akhir rezim Orde Baru. Atau kita bisa simak ketika Amien Rais dan Gus Dur yang sebelumnya tampil bak saudara kembar untuk menduduki posisi politik paling penting di negara ini, yakni Ketua MPR RI dan Presiden RI, belakangan tiba-tiba menjadi dua tokoh sentral yang saling berhadap-hadapan. Bagaimana bisa seorang Amien Rais tiba-tiba ikut menjatuhkan Gus Dur dan kemudian menggantikannya dengan Megawati yang nota bene sejak lama tak pernah “akur” dengannya?

Jawabannya adalah itulah politik praktis. Di dalamnya urusan kesetiaan dan solidaritas sesungguhnya tak lain hanya soal kecocokan di masa-masa penantian menjelang datangnya masa cekcok.

2.  Seperti Bermain Judi
Yah, berpolitik praktis seperti layaknya bermain judi, karena di dalamnya dipertaruhkan apa saja untuk mengalahkan lawan. Dalam proses memenangkan pertarungan dan tentu saja ambisi untuk mengalahkan lawan, dunia politik praktis menciptakan seni dan game yang indah, menggairahkan dan sekaligus mengasyikkan. Tak ada perasaan jenuh dan bosan dalam membicarakannya. Kita bisa melihat, bagaimana para elit dan praktisi politik rela duduk berjam-jam hingga tengah malam, sambil mengepulkan asap dan menghabiskan bercangkir-cangkir kopi, demi untuk membincang dan membedah urusan politik praktis.

Ada semacam rasa ketagihan yang bertalu-talu yang muncul dalam diri para pemain politik praktis. Kalah dalam percaturan politik, akan menimbulkan rasa penasaran yang pada gilirannya ingin mengulanginya lagi meskipun sudah terlukai. Sebaliknya, menang di meja judi politik, tentu saja akan mendatangkan kenikmatan yang luar biasa dan akan semakin ketagihan karena sudah terbius dengan nikmatnya kekuasaan, selalu dihormati, disegani, ditakuti dan bahkan dipuja-puja.

Di panggung politik kita sehari-hari, sangat banyak contoh bagaimana rasa ketagihan politik seperti itu tampak pada kiprah para politisi kita. Di tingkat Nasional, para elit Orde Baru yang “pernah” kalah dalam front kompetisi politik di pasca Orde Baru, kembali mulai bermunculan dan seolah tak mau jera untuk memainkan peran-peran penting dalam event Pilpres dan dalam berbagai event Pilkada dan Pileg di daerah-daerah.

3.  Penuh Kekerasan dan Tipu Daya
Dalam hidup ini, jika Anda hidup lebih tenang dan damai, maka pastikan Anda tidak berada di dunia politik praktis. Karena di ranah ini, Anda tidak akan pernah merasakan tidur pulas di malam hari, dan bakal kurang tenang bekerja di siang hari. Selain menghayalkan nikmatnya menjadi orang yang dipuja dan berkuasa mengatur jabatan, proyek, dan uang (bila menang tentunya), pikiran Anda juga akan selalu dihantui oleh lawan-lawan politik Anda.

Anda akan sibuk menangkis negative campaign, mengklarikasi black campaign, meluruskan isu-isu, melayani konstituen, memikirkan para pembelot, menyenangkan hati tim sukses, dan lain sebagainya. Sebab Anda benar, bersih, dan baik sekalipun, Anda akan tetap dianggap salah, kotor, bengkok, dan buruk oleh lawan-lawan politik Anda. Mengharapkan belas kasihan dan meminta gencatan senjata dari lawan politik Anda, sama saja Anda akan menggantang asap. Tak ada tenggang rasa, belas kasihan, apalagi cinta dalam urusan kompetisi politik. Karena pada hakekatnya, politik praktis itu kejam.

Bahkan selain kejam, ranah politik praktis juga dipenuhi tipu muslihat. Di era “politik keemasan” sekarang ini, apapun dapat dapat direkayasa melalui media teknologi dan dikemas dalam bentuk yang sesuai dengan tujuan politik itu sendiri.

Demikianlah keadaannya di dunia politik praktis, setiap orang yang eksis di dalamnya harus siap menghadapi kerumunan orang-orang ambisius yang haus kekuasaan dan kemenangan. Orang-orang seperti itulah yang biasanya tidak mengenal belas kasihan, dan selalu berpikir bagaimana Anda bisa celaka, gagal, dan kalah yang pada akhirnya hancur tanpa sisa.<joe>
======================================================

Kisah Cinta I Taro Ana’ Kunjung Barani dengan I Samindara Baine

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Masih ingatkah kita dengan kisah cinta Datu Museng dengan Maipa Deapati?  Itu lho… kisah cinta yang pernah terjadi di tanah Makassar, dimana Datu Museng dan Maipa Deapati, rela mati di tangan kompeni demi mempertahankan cintanya? Ingat bukan?
Sebenarnya, ada kisah lain yang tidak kalah serunya dengan kisah diatas, dan juga konon pernah terjadi tanah Makassar. Kisah tersebut adalah kisah cinta antara I Taro Ana’ Kunjung Barani dengan I Samindara Baine…
Kisah ini memiliki alur cerita yang seru dan kerap menegangkan, karena di dalamnya melibatkan cinta yang rumit, dunia perdukunan, intrik kekeluargaan, dan akhir cerita yang tragis. Tapi karena cerita ini tidak familiar, maka hanya sedikit orang yang tahu. Apalagi kisah ini hanya eksis dalam budaya tutur dengan menggunakan media bahasa lokal, yakni MAKASSAR.
Saya pribadi, menyukai cerita ini karena sejak kecil sering saya jadikan sebagai dongeng pengantar tidur. Jika ada salah seorang sobat blogger yang tergerak hatinya untuk tahu cerita ini, maka saya akan menceritakannya sesuai kemampuan saya dalam menulis. Sengaja saya mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia, agar cerita ini lebih mudah dicerna dan  lebih familiar. Tapi karena saya bukan sastrawan, maka maaf saja jika ceritanya kurang puitis dan terkesan bertele-tele. Hehehe…
Ini dia ceritanya…‼!

Prolog
Di tanah Makassar, di sebuah dusun terasing, seorang pemuda bernama I Taro Ana’ Kunjung Barani hidup dalam kesehariannya bersama kedua orang tuanya. Ia pemuda malas. Sehari-hari Ia hanya tahu bermain gasing dan mengadu ayam jago bersama teman-temannya. Hingga suatu ketika, orang tuanya menegur dan memberi saran:
“Sudah bukan jamannya kamu bermain gasing dan mengadu ayam, Taro. Lebih baik kamu berfikir untuk segera menikah.”
Tapi I Taro tidak menggubrisnya. Bahkan seakan Ia tidak mau tahu dengan usianya yang kian dewasa itu. Ia tetap dengan kebiasaannya. Kalau bukan bermain gasing bersama temannya, pasti mengadu ayam jago. Itu saja kerjanya tiap hari, hingga orang tuanya pun berkali-kali menegurnya dan memintanya untuk menikah.
Suatu hari, karena mungkin sudah bosan dengan teguran. I Taro mengajukan usul bahwa jika benar orang tuanya menginginkan Ia menikah, maka wanita yang cocok dinikainya hanyalah sepupunya, I Samindara Baine. Karena hanya dialah satu-satunya wanita yang tepat dihatinya dan hanya dialah satu-satunya wanita yang membuatnya jatuh cinta.
Bukan karena keinginan I Taro untuk menikah yang membuat orang tuanya berfikir. Tapi karena wanita yang ingin dipersuntingnya lah yang membuatnya ragu. Apakah mungkin sepupunya itu mau menerima lamaran I Taro? Di satu sisi, I Taro hanyalah seorang pemuda malas yang tidak punya kerjaan, di sisi lain sepupunya itu terlalu jelita untuk I Taro. Tapi karena ini kesempatan untuk merubah hidup anak satu-satunya itu, maka di coba tak mengapa…gagal jadi pengalaman…hehehe! Begitulah kira-kira yang ada di pikiran orang tua Taro.
I Samindara Baine adalah seorang gadis berparas cantik. Ia punya banyak teman yang membantunya merias diri, menyisir rambut hitamnya yang lebat dan panjang lurus hingga ke bokong, mencat kuku-kukunya yang panjang dan indah. Wajahnya putih bak bulan purnama. bibirnya yang selalu basah, selaras dengan bentuk hidungnya yang mungil. Bulu matanya lentik, serasi dengan bola matanya yang teduh bersinar. Benar-benar gadis jelita yang menghampiri kesempurnaan. Karena kejelitaannya itulah, sehingga teman-temannya memberinya gelar: I Samindara Baine, si gadis elok hiasan wanita, beranting dua berkalung tiga.
Ke elokan tubuhnya membuat para lelaki di sekitarnya berebut mempersuntingnya. Tapi tak satupun yang diterimanya. Tak terkecuali pinangan I Taro pun di tolaknya mentah-mentah.
Berkali-kali suruhan orang tua Taro, I Unru’ Dae, menemui I Samindara Baine agar dia mau menerima niat baik I Taro, tapi berkali-kali pula ditolaknya mentah-mentah. Bahkan meskipun ditawari dengan harta yang dalam sastra makassar berbunyi:
“Galunga ri Tambakola,
tallung taunga nikatto
sitaunga nipare-pare.
(yang bermakna: sebuah warisan sawah yang cukup luas, membentang dari selatan ke utara, dimana sawah itu dapat di panen hingga 3 tahun lamanya tanpa habis-habis).
Dan juga tawaran warisan moyang:
“Takkang-takkang bulaenna,
Nisungkea namalatto’,
Nisoronga na mangngudada”
(yang bermakna: sebuah tongkat ajaib yang terbuat dari emas).
Tapi toh, I samindara Baine tetap pada pendiriannya. Bahkan dia berkata: “semua tawaran itu, saya juga memilikinya, karena kita berasal dari keturunan yang sama”.

Cinta di Tolak Dukun Bertindak
Putus asa dan merasa dipermalukan, I Taro memutuskan untuk pergi berlayar. Tapi sebelum itu, ia ingin membuat perhitungan terhadap I Samindara Baine. Ia ingin membalas perlakuannya yang keterlaluan itu. Maka Ia segera menemui orang pintar (dukun) di kampungnya untuk memuluskan rencananya.
Meskipun cenderung mustahil dan tidak masuk di akal, persyaratan magic mesti dipenuhi I Taro agar  rencananya berjalan lancar. Syaratnya adalah Ia harus menemukan sebatang pohon pinang yang tumbuh sendirian dan yang berbuah satu biji. Disamping itu, jika pohonnya sudah ditemukan, maka pohon pinang tersebut harus dipanjat membelakang dan buahnya dipetik dengan kuku bagian belakang. Buahnya tidak boleh jatuh agar daya magicnya tidak pudar. Setelah itu, buah pinangnya diperlihatkan ke I Samindara Baine agar bisa mempengaruhi jiwanya.
Maka segera I Taro berkeliling kampung, melintasi beberapa sungai, mendaki bukit dan menuruni lembah, hanya sekedar mencari sebuah pohon pinang yang menjadi syarat dari si dukun. Dan walhasil, setelah beberapa hari kemudian, pohon yang dicarinya ditemukan juga... Setelah memenuhi syarat-syarat panjat dan cara petiknya, buah pinang berhasil didapat dan dibawa pulang kerumah I Taro.
Adalah I Unru’ Dae, yang diutus untuk membawa buah pinang ajaib tersebut ke rumah I Samindara Baine. Sementara I Unru’ Dae sedang dalam perjalanan, I Taro pun bersiap-siap untuk berangkat berlayar bersama rekan-rekannya. Ia berangkat membawa malu dan rasa kecewa terhadap I Samindara Baine, sepupunya yang dicintainya itu.
Di rumah I Samindara, Unru’ Dae baru saja tiba dengan buah pinang ajaib di tangan. Ia sengaja meminang-minangnya di depan mata I Samindara untuk mengundang perhatian. Dan ternyata siasat itu berhasil. I Samindara tertarik dengan buah pinang itu dan ingin mengambilnya. Tanpa berpikir dua kali, Unru’ Dae segera memberikan pinang itu ke I Samindara dan berpesan, bahwa kado itu adalah pemberian terakhir I Taro sebelum berangkat berlayar.

Buah Pinang Pembawa Petaka
Tidak butuh waktu lama, buah pinang ajaib berhasil merubah pendirian I Samindara Baine. Jiwa kewanitaannya terpengaruhi magic. Dia yang semula begitu tegar untuk tidak menerima lamaran I Taro, berangsur-angsur luluh berganti rasa ingin menyatu dengan sepupunya itu. Bahkan dia menangis dan menyesal karena menolak kehendak suci I Taro. Oleh karena itu, dia tidak rela ketika mendengar bahwa I Taro akan pergi berlayar.
Dengan rasa bersalah dan cinta yang perlahan-lahan mulai tumbuh di hatinya, I Samindara bergegas menuju ke rumah sepupunya itu di dampingi Unru’ Dae. Dia bermaksud melarang kepergian I Taro dan bersedia menerima lamarannya. Atau setidak-tidaknya, mengajaknya bersama-sama pergi mengarungi lautan. Tapi malang tak dapat di tolak, rupanya I Taro sudah ada di bibir pantai, duduk santai di atas perahunya bersama teman-teman setianya, dengan dayung yang siap untuk di kayuh kemana pun I Taro hendak menuju.
Melihat kenyataan itu, I Samindara Baine nekat. Dia bergegas ke pantai, berlari semampunya, menyusul I Taro yang perlahan-lahan sudah mulai bergerak ke laut. Dia sudah tidak peduli dengan rambutnya yang panjang terurai, kusut bermandi debu. Kaki-kaki jenjangnya yang terawat, bukan penghalang untuk terus berlari menyusuri jalan setapak mengarah ke pantai. Hingga ketika dia sampai di bibir pantai, perahu I Taro sudah terlihat mengapung menjauh dan semakin menjauh.
I Samindara terisak melihat orang yang disusulnya kian menjauh. Dia berteriak memanggil-manggil, berharap I Taro dapat mendengarnya dan berbalik menjemputnya untuk bersama-sama mengarungi lautan. Tapi sepertinya suaranya terlalu lembut untuk di dengar di kejauhan sana.
Maka, Dia memutuskan untuk turun ke pantai, berenang sekuatnya, bergerak semampunya. Sesekali tangannya melambai ke arah laut, memanggil-manggil dengan suara yang semakin serak karena tertelan ombak. Hingga akhirnya I Samindara Baine menghilang. Dia tenggelam. Tenggelam bersama suara dan harapannya untuk mengarungi lautan bersama I Taro Ana’ Kunjung Barani. Pemuda malas yang dulu dia kecewakan dan permalukan begitu saja. Barulah beberapa hari kemudian, tubuhnya yang tak lagi jelita itu, ditemukan oleh seorang nelayan sedang terbujur kaku di bibir pantai.

Epilog
di pinggir pantai, tepat dirimbunan pohon talas, tubuh I Samindara Baine terkubur. Dia sudah terbaring dibawah onggokan pasir dan dedaunan talas yang mulai mengering, sampai I Taro tiba dengan membawa kesedihan yang begitu dalam. Ia tidak menyangka kalau gadis yang di cintainya akan melakukan hal yang semacam itu.
I Taro berbalik haluan karena diberitahu oleh seorang nelayan tentang kematian sepupunya itu. Ia bergegas pulang, karena meskipun pernah dikecewakan dan merasa dipermalukan, I Samindara Baine tetaplah gadis pujaan hatinya. Biar bagaimanapun, benih-benih cinta dihatinya masih tertanam kuat. Apalagi setelah ia tahu bahwa penyebab kematiannya adalah karena ego kelelakiannya, maka bertambah sedihlah hati I Taro Ana’ Kunjung Barani.
Kesedihan dan cinta itulah, yang membuat I Taro memutuskan untuk menghunus badiknya. Menghunjam dalam tepat ke jantungnya, hingga ia roboh diatas pusara I Samindara Baine. Tapi sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia masih sempat mengucap kata: “O andikku I Samindara Baine, tatta taua belo-belo bainea, tokeng tallua anting-anting pimbalia. Bukan pacce dan siri’ semata yang membuatku menyusul kepergianmu, tapi karena cinta yang masih tersisa yang mengantar aku rela mati di atas pusaramu. Ri surugapi sallang, napasse’reki Batara…” (sekian).
==========================================