Pengertian Israiliyyat
Secara etimologis, Israiliyyat merupakan bentuk jamak dari
kata Israiliyyah, sebuah nama yang
dinisbahkan kepada kata Israil (bahasa Ibrani) yang berarti ‘Abdullah (hamba Allah). Dalam
pengertian lain, Israiliyyat dinisbahkan kepada Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim. Terkadang
Israiliyyat identik dengan yahudi, kendati sebenarnya tidak demikian. Bani Israil
merujuk kepada garis keturunan bangsa, sedangkan Yahudi merujuk pada pola
pikir, termasuk di dalamnya agama dan dogma. Menurut az-Dzahabi, perbedaan
Yahudi dan Nasrani, bahwa yang disebut terakhir ini ditujukan kepada mereka
yang beriman kepada risalah Isa as. Dua kelompok masyarakat ini menurut Quraish
Shihab, yang minimal disepakati oleh seluruh ulama dinamakan Ahl al-Kitab.
Menurut Ahmad Khalil Arsyad, israiliyyat
adalah kisah-kisah yang diriwayatkan dari Ahl al-Kitab, baik yang ada
hubungannya dengan agama mereka ataupun tidak. Dalam pendapat lain dikatakan
bahwa israiliyyat merupakan pembaruan kisah-kisah dari agama dan kepercayaan
non-Islam yang masuk ke jazirah arab islam yang dibawa oleh orang-orang yahudi
yang semenjak lama berkelana ke Arab Timur menuju Babilonia dan sekitarnya,
sedangkan Barat menuju Mesir.
Pada mulanya, perkataan israiliyyat
itu menunjuk pada kisah yang diriwayatkan dari sumber Yahudi. Akan tetapi para
ulama tafsir dan hadits mengatakan, pengertian israiliyyat lebih dari itu.
Israiliyyat adalah semua cerita lama yang bersumber dari Yahudi, Nasrani, atau
cerita lain yang masuk ke dalam tafsir dan hadits, termasuk juga cerita baru
yang dimasukkan oleh musuh-musuh Islam, baik yang datang dari Yahudi, Nasrani,
atau yang lainnya, untuk merusak aqidah islam dan kaum muslimin.
Secara terminologi, Israiliyyat merupakan
budaya Yahudi yang bersumber dari Taurat dan Zabur, termasuk seluruh
keterangannya yang penuh dengan cerita dongeng dan khurafat serta batil, yang
mereka kembangkan dari masa ke masa.
Yahudi adalah sebutan bagi bani
Israil. Ketika Nabi Muhammad SAW Isa lahir pengikutnya disebut nasrani. Yahudi
dan Nasrani keduanya disebut Ahl Kitab yang ada hubungannya dengan
ajaran-ajaran agama mereka maupun yang tidak ada hubungannya.
Masuknya orang Yahudi dan Nasrani ke
dalam lingkungan Islam, baik sebagai muslim ataupun dzimmi membantu tersebarnya
Israiliyyat dikalangan umat islam. Akibatnya setelah tiba di zaman pembukuan
Tafsir Al Quran, banyak Israiliyyat yang terbukukan dalam tafsir. Tetapi bukan
sebagai sumber hukum dan aqidah, tetapi sebagai ilustrasi atau istisyhad, khususnya tentang kisah-kisah
Nabi Muhammad SAW keturunan Bani Israil. Sekalipun ada Israiliyyat yang
dibenarkan namun pada umumnya mengandung kebatilan dan nilai-nilai yang tidak
islami.
Sejarah
Timbulnya Israiliyyat
Pada saat Islam berkembang banyak
bangsa yang masuk islam dengan berbagai latar belakang sosial maupun budaya.
Ada yang masuk islam dengan ikhlas dan kesadarannya, tetapi ada pula yang di
dorong oleh motivasi tertentu. Penegasan maksud-maksud tertentu itu dijelaskan
dalam ayat al-Qur’an: “orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada
kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS. Al Baqoroh 2:120).
Perkembangan Islam sangat pesat di
zaman Nabi Muhammad SAW Muhammad SAW dan Khulafaurrasyidin. Pada saat Nabi
Muhammad SAW Muhammad SAW wafat, dan pada awal Abu Bakar menjadi khalifah,
sudah muncul gerakan Riddah yang menolak ajaran Islam dan kufur dengan motif
ingin melepaskan diri dari kekuasaan Islam. Motif ini semakin menjadi-jadi
setelah perjalanan politik Islam tidak begitu mulus. Seperti di zaman Nabi
Muhammad SAW, terjadi banyak perselisihan, munculnya sektarianisme dan
perbedaan pandangan politik, yang menyebabkan perbedaan pandangan dalam
teologi. Kontak-kontak tersebut telah mendorong pula lahirnya Israiliyyat.
Kemunculan Israiliyyat ini tidak bisa dihindari karena orang-orang Yahudi sejak
dahulu kala berkelana ke arah timur menuju Babilonia dan sekitarnya serta ke
arah Barat menuju Mesir. Setelah kembali ke negeri asal, mereka bawa pula
mermacam-macam berita keagamaan yang dijumpai di negeri-negeri yang mereka
singgahi.
Dengan masuknya Ahl Kitab itu ke dalam
Islam, maka terbawa pulalah bersama mereka itu kebudayaan mereka tentang berita
dan kisah-kisah agama. Ketika mereka membaca kisah-kisah yang terdapat pada Al-Qur’an,
maka mereka mengemukakan pula dengan terperinci uraian-uraian yang terdapat di
dalam kitab-kitab mereka. Sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW tertegun mendengar
kisah-kisah yang dikemukakan oleh Ahl Kitab itu. Namun mereka tetap menurut
perintahnya. Janganlah kamu benarkan Ahl Kitab dan jangan pula kamu dustakan.
Dan katakanlah, kami percaya kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami.
Kadang-kadang terjadi diskusi antara sahabat dengan Ahl Kitab itu, mengenai
uraian yang terperinci. Adakalanya sahabat menerima sebagian dari apa yang
dikemukakan oleh Ahl Kitab itu selama masalah ini tidak menyangkut akidah dan
tidak berhubungan dengan hukum-hukum.
Demikianlah berita-berita yang dibawa
oleh orang Yahudi yang telah masuk Islam. Yaitu yang berkaitan dengan Israiliyyat,
hal ini sudah terbiasa bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Berpindahnya Israiliyyat
dari orang Yahudi karena orang Yahudi banyak yang bergaul dengan orang islam,
semenjak permulaan Islam hijrah ke Madinah. Sahabat tidak ada yang mengambil
berita terperinci dari Ahl Kitab, kalau ada jumlahnya itu sedikit sekali, atau
jarang terjadi.
Sumber-Sumber
Israiliyyat
Ada beberapa sumber tentang israiliyyat
dalam tafsir al-Quran yang di duga keras banyak mengambil cerita-cerita
israiliyyat, di antaranya:
Jami’ al-Bayan
fi Tafsir Alquran
Tafsir ini disusun oleh Ibn Jarir
al-Thabari (224-310 H), seorang yang terkenal dalam bidang fiqih dan hadis, di
samping ahli tafsir. Namun harus di catat bahwa karya beliau ini banyak
terjerumus dalam kesalahan, karena beliau sering menyebutkan dalam kitab
tafsirnya riwayat-riwayat israiliyyat yang disandarkan kepada Ka’b al Akhbar,
kitab tafsir al-Thabari ini banyak mengandung riwayat-riwayat yang lemah,
tertolak dan dha’if[4].
Tafsir muqotil
Tafsir ini disusun oleh Muqotil bin
Sulaiman (w. 150 H). tafsir ini terkenal sebagai tafsir yang sarat dengan
cerita israiliyyat, tanpa memberikan sanad-sanadnya sama sekali. Di
penjelasannya, mana yang hak dan mana yang batil. Al-Dzahabi menemukan
kejanggalan dalam tafsir ini, karena hanya sedikt saja yang diberikan isnad
oleh muqotil. Contohnya yang diceritakan dalam tafsir ini hampir merupakan
bagian dari cerita khurafat[5].
Tafsir
al-Kayaf wa al-Bayan
Penulis tafsir ini ibn Ibrahim
al-Tsa’labi al-Naisabury.panggilannya abu ishaq yang wafat tahun 427 H Ia
menafsirkan Alquran berdasarkan hadis yang bersumber dari ulama salaf.
Sayangnya, dalam manukil sanad-sanad hadis, ia tidak mencantumkan secara
lengkap. Tafsir ini membahas nahwu dan fiqih; karena ia seorang pemberi
nasehat, maka ia senang dengan kisah-kisah. Oleh karena itu dalam kitab
tafsirnya ini banyak cerita israiliyyat yang janggal dan cenderung menyimpang
dari kebenaran.
Tafsir Ma’alim
al-Tanzil
Tafsir ini ditulis oleh syaikh Abu
Muhammad al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad al-Baghawiy, menurut Ibn Taimiyah ,
tafsir ini merupakan tafsir dari ringkasan
karya al-Tsa’labiy, akan tetapi ia menjaga tafsirnya dari hadis-hadis
maudhu’ dan pendapat-pendapat yang bid’ah. Namun menurut al-Dzahabi, tafsir ini
justru banyak mengandung kebatilan.
Tafsir Lubab
al-Ta’wil fi Ma’aniy al-Tanzil
‘Ala al-Din al-Hasan, ‘Ali ibn
Muhammad ibn Ibrahim ibn Am,r ibn Khalil al-Syaibiy (678-741 H.) dikenal
penulis dari tafsir al-Lubab ini. Sebagai seorang sufi yang senag memberi
nasihat, maka tidak heran (kitab-kitab Samisatiyah) di Damaskus, sehingga bacaannya
akan kitab-kitab tersebut mempengaruhi tulisan tafsirnya.
Sebagai kitab lainnya yang disebut
sebelumnya, kitab tafsir ini juga banyak menukil cerita-cerita israiliyyat dan
tafsir al-Tsa’labiy. Dalam menukilkan israiliyyat tersebut. Ia tidak menggunakan
sistem tertentu dan tidak memberi komentar tentang menukarnya cerita-cerita
yang dipaparkannya luput dari sanad.
Tafsir Alquran
al-Azhim
Tafsir ini populer dengan sebutan
tafsir Ibn Katsir, nama terakhir yang dinisbahkan kepada pengarangnya, yaitu
Ibn Katsir, kitab tafsir ini dipandang kitab tafsir kedua setelah al-Thabariy.
Pengarangnya selalu memperhatikan riwayat-riwayat ahli tafsir Salaf. Di samping
itu, ia membicarakan juga kerajihan hadis dan atasar serta menolak
riwayat-riwayat yang munkar.
Perbedaannya dengan tafsir al-Thabariy, bahwa tafsir
al-Thabariy ini selalu meningkatkan para pembaca akan keganjilan dan kemunkaran
cerita-cerita israiliyyat dalam tafsire bi al-Ma’tsur. Karena Ibn Katsir juga
seorang sejarawan, maka hal itu sangat menolongnya dalam memfilter berita.
Pada dasarnya, cerita-cerita Israiliyyat
ini terbagi menjadi 3 kategori:
Pertama, berita yang diakui islam dan dibenarkannya.
Contohnya, seperti yang diriwayatkan Bukhari
dan periwayat lainnya, dari Ibn Mas’ud RA, ia berkata: “Seorang rabi Yahudi
datang menemui Nabi Muhammad SAW seraya berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya
kami menemukan bahwa Allah SWT menjadikan seluruh langit di atas satu jari,
seluruh bumi di atas satu jari, pepohonan di atas satu jari, air dan tanah di
atas satu jari dan seluruh makhluk di atas satu jari, lalu Dia berfirman: ‘Akulah
al-Malik (Raja Diraja).” Rasulullah SAW tertawa mendengar hal itu hingga tampak
gigi taringnya membenarkan ucapan sang rabi tersebut, kemudian beliau membaca
ayat, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya
pada hal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit
digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa
yang mereka persekutukan.” (QS. az-Zumar: 67).
Kedua, berita yang diingkari islam dan didustakannya.
Contohnya, seperti yang diriwayatkan Bukhari,
dari Jabir RA, ia berkata: “Orang-orang Yahudi mengatakan: ‘bila suami
menyetubuhi isterinya dari arah belakang, maka anaknya akan lahir bermata
juling.’ Lalu turunlah Firman Allah SWT: “Isteri-isterimu adalah (seperti)
tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu
itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. al-Baqarah: 223).
Ketiga, berita yang tidak diakui islam dan tidak pula diingkarinya.
Contohnya, dari Abu Hurairah RA, ia
berkata: “Ahl Kitab biasanya membaca Taurat dengan bahasa Ibrani lalu
menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada umat Islam. Maka Rasulullah SAW
berkata: ‘Janganlah kalian benarkan Ahl Kitab dan jangan pula mendustakannya
tapi katakanlah (firman Allah SWT): ‘Kami telah beriman kepada (kitab-kitab)
yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu.” (QS. al-‘Ankabut: 46).
Tetapi berbicara mengenai kategori
ketiga, dibolehkan bila tidak khawatir membuahkan larangan. Hal ini berdasarkan
sabda Rasulullah SAW: “Sampaikanlah dariku sekali pun satu ayat, dan berbicaralah
mengenai Bani Israil sesukamu. Barangsiapa yang mendustakanku secara sengaja,
maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di api neraka.” (HR. Bukhari).
Kebanyakan berita yang diriwayatkan
dari mereka, tidak banyak manfaatnya bagi kepentingan agama, seperti ingin
menentukan warna apa anjing yang menyertai Ashabul Kahfi di dalam gua, dan
sebagainya.
Adapun bertanya kepada Ahl Kitab
mengenai sesuatu dari ajaran agama kita, maka hal itu haram hukumnya. Hal ini
berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Jabir bin ‘Abdullah RA, ia
berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Janganlah kalian tanyakan kepada Ahl Kitab
mengenai sesuatu pun sebab mereka tidak bisa memberi hidayah kepada kalian
sementara mereka sendiri telah sesat. Jika kalian lakukan itu, berarti kalian
telah membenarkan kebatilan atau mendustakan kebenaran. Sesungguhnya andaikata
Musa masih hidup di tengah kalian, pastilah ia akan mengikutiku.”
Imam Bukhari juga meriwayatkan dari
Abdullah bin Abbas RA, bahwasanya ia berkata: “Wahai kaum muslimin, bagaimana
mungkin kalian bertanya kepada Ahl Kitab, padahal kitab yang Allah turunkan
kepada Nabi Muhammad SAW kalian itu adalah semata-mata informasi paling baru
mengenai Allah yang tidak pernah lekang. Allah telah menceritakan kepada kalian
bahwa Ahl Kitab telah mengganti Kitabullah dan merubahnya lalu menulisnya
dengan tangan mereka sendiri. Lalu mereka mengatakan, ‘Ia berasal dari Allah
agar mereka membeli dengannya harga yang sedikit. Tidakkah melalui ilmu yang
dibawa-Nya, Dia melarang kalian untuk bertanya kepada mereka (Ahl Kitab)? Demi
Allah, kami sama sekali tidak pernah melihat seorang pun dari mereka yang
bertanya kepada kalian mengenai apa yang telah diturunkan kepada kalian.”
Sikap Ulama
Terhadap Israiliyat
Para ulama, khususnya ahli tafsir
berbeda pendapat mengenai sikap terhadap Israiliyat ini:
Di antara mereka ada yang memperbanyak
berbicara tentangnya dengan dirangkai dengan sanad-sanadnya. Pendapat ini
berpandangan bahwa dengan menyebut sanadnya, berarti ia telah berlepas diri
dari tanggung jawab atasnya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Ibn Jarir
ath-Thabari.
Di antara mereka ada yang memperbanyak
berbicara tentangnya dan biasanya menanggalkan sama sekali sanad-sanadnya. Ini
seperti pencari kayu bakar di malam hari. Cara seperti ini dilakukan al-Baghawi
di dalam tafsirnya yang dinilai oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah sebagai
ringkasan dari tafsir ats-Tsa’alabi. Hanya saja, al-Baghawi memproteksinya dari
dimuatnya hadits-hadits palsu dan pendapat-pendapat yang dibuat-buat. Syaikhul
Islam Ibn Taimiyah menyebut ats-Tsa’alabi sebagai seorang pencari kayu bakar di
malam hari di mana ia menukil apa saja yang terdapat di dalam kitab-kitab
tafsir baik yang shahih, dha’if mau pun yang mawdhu’ (palsu).
Di antaranya mereka ada yang banyak
sekali menyinggungnya dan mengomentari sebagiannya dengan menyebut kelemahannya
atau mengingkarinya seperti yang dilakukan Ibn Katsir.
Di antara mereka ada yang
berlebih-lebihan di dalam menolaknya dan tidak menyebut sesuatu pun darinya
sebagai tafsir al-Qur’an seperti yang dilakukan Muhammad Rasyid Ridha.
=============================================================
Artikel Lainnya:
Islam
- Ini Alasan Pria Dilarang Pakai Emas
- Benarkah Bermain Catur itu Haram?
- Apa Itu Setan?
- Apa Itu Khamar?
- TOKOH ISLAM: Ali Bin Abu Thalib
- TOKOH ISLAM: Zainab binti Khuzaimah
- TOKOH ISLAM: Utsman bin Affan
- TOKOH ISLAM: Khadijah Binti Khuwailid
- TOKOH ISLAM: Umar bin Khattab
- TOKOH ISLAM: Abu Bakar Ash-Shiddiq
- MAULID NABI: Syariat Agama Atau Syariat Budaya?
- ULUMUL QUR’AN: Penulisan Dan Kodifikasi Al-Qur`an
- ULUMUL QUR’AN: Makki Dan Madani
- ULUMUL QUR'AN: Pengertian & Nama-Nama Al-Qur'an
- Benarkah Azab Kubur Itu Ada?
- Penciptaan HAWA: Benarkah Dari Tulang Rusuk Nabi Adam?
- Ternyata Dunia & Akhirat Ada Secara Bersamaan
- Ternyata Dunia dan Akherat Terjadi di Bumi
- Benarkah Maryam Seorang Nabiyyah?
- Menyingkap Misteri Maryam
- Apa Itu Huwa La Huwa?
- Jauhar & ‘Aradh
- Tentang Kasyaf
- Apa Itu Alam Mitsal
Tidak ada komentar:
Silahkan berkomentar secara bijak Sobat...!