Ada
dua kutub pemikiran yang secara tangguh mempertahankan pendapatnya
masing-masing. Mereka adalah kelompok mutakallimin atau teolog yang bersiteguh
pada kualitas tanzih, yaitu ketakterbandingan Tuhan dengan keseluruhan makhluknya.
Sebaliknya, kelompok para sufi dengan penuh percaya
diri mempertahankan kualitas tasybih, yaitu pemikiran yang lebih menekankan
aspek keserupaan Tuhan dengan makhluk-Nya. Mereka semua merasa didukung oleh
ayat dan hadis serta pengamalan para sahabat.
Ibnu Arabi datang dengan menawarkan konsep penggabungan
kualitas al-tanzih wa al-tasybih, yang dihimpun dalam suatu pernyataan "Huwa la Huwa", artinya Dia
dan bukan Dia. Ungkapan pendek dan sederhana ini mampu mewadahi sebuah ilmu
besar dan sekaligus menjembatani ketegangan konseptual antara teolog dan para
sufi.
Cara Ibnu Arabi memadukan kedua konsep ini adalah
dengan menghubungkan aspek tanzih kepada dzat Tuhan dan konsep tasybih
dihubungkan dengan sifat Tuhan. Dilihat dari segi dzat-Nya, Tuhan sama sekali
berbeda dengan makhluk-Nya. Ia masuk kategori puncak rahasia (sir al-asrar/sacred of the sacred).
Tuhan tak dapat dibandingkan (incomparability) dengan apa pun dan siapa pun. Kalau dilihat dari
segi nama-nama (asma) dan sifat-Nya, Tuhan memiliki keserupaan (comparability) dengan makhluk-Nya. Alam
yang secara kebahasaan mempunyai kesamaan dengan ayat yang artinya 'tanda'
menginformasikan keberadaan Tuhan.
Alam atau kosmos adalah lokus pengejawantahan diri
Tuhan dan sekaligus sebagai lokus penampakan asma dan sifat-sifat Tuhan. Di
sinilah kekhususan konsep al-tanzih wa al-tasybih Ibnu Arabi. Ia tidak
sependapat dengan para teolog yang lebih menekankan aspek tanzih dan menafikan
aspek tasybih.
Sebab bagaimanapun, sulit diingkari secara logika bahwa
Tuhan dengan makhluk-Nya seperti alam raya dan manusia tidak bisa dipisahkan
dengan manusia. Memisahkan antara keduanya bertentangan dengan nash Alquran
seperti, "Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan, Allah Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 4).
Surah lainnya menyebutkan, "Kami lebih dekat
kepadanya dari pada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16). Lalu, ada pula surah yang
menyatakan, "Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemana pun kamu
menghadap di situlah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 115).
Walaupun Ibnu Arabi termasuk sufi, dia berbeda dengan
sufi-sufi lainnya yang lebih menekankan aspek tasybih dan menafikan aspek
tanzih. Karena, menurut dia, bagaimanapun juga dzat Tuhan adalah transenden dan
sunyi dari segala aspek ketidaksempurnaan (munazzah).
Ibnu Arabi mengkhawatirkan kalau menafikan aspek tanzih
seseorang bisa jatuh ke lembah kemusyrikan karena menduplikasikan Tuhan dengan
makhluk-Nya. Dari segi dzat-Nya, Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah
diketahui oleh siapa pun. Ia tak dapat dipikirkan dan tak dapat dilukiskan
dengan sesuatu apa pun.
Kalaupun ada orang yang menganggap dirinya berhasil
mengetahui dan memahami dzat Tuhan pasti itu bukan Tuhan atau Tuhan menurut
persepsi yang bersangkutan. Dalam beberapa artikel lalu sudah dijelaskan
bagaimana misteri dzat Tuhan dalam berbagai agama. Hampir semua agama
berpandangan sama bahwa dzat Tuhan maha misteri.
Pengetahuan tentang dzat Tuhan hanya sejauh yang
diberikan-Nya kepada kita lewat asma dan sifat-Nya. Dari sini, Tuhan dapat diketahui
melalui kosmos dan perilakunya. Jika Tuhan menyatakan diri-Nya melihat,
mendengar, dan mencintai, berarti Tuhan mengejawantahkan diri-Nya pada kosmos.
Tuhan berkorespondensi dengan makhluk-Nya.
Seperti diketahui, Tuhan adalah substansi seluruh makhluk
(jauhar), maka wujud ke-Dia-an merupakan setiap apa yang melihat, mendengar,
dan mencintai. Itulah jauhar-Nya. Jika kita melihat al-khalq (makhluk),
sesungguhnya kita melihat Al-Haq (Tuhan). Sebab, Al-Haq mempunyai sifat yang
dimiliki al-khalq, yaitu sifat-sifat al-Muhdatsah.
Sebaliknya, al-khalq memiliki sifat-sifat Al-Haq.
Ibarat satu mata uang yang mempunyai dua sisi, yaitu sisi tanzih dan sisi
tasybih. Tidak mungkin dua sisi tersebut dipisahkan satu sama lain. Antara
keduanya tidak paradoks, melainkan masing-masing mempunyai makna dan fungsi.
Penyatuan antara kedua kualitas ini sesuai asumsi
ontologi Ibnu Arabi, yaitu kesatuan wujud (wahdah al-wujud). Kata Dia (Huwa),
yakni Dia yang Maha Dia, bukan selain-Nya. Sedangkan selain-Nya bukan Dia Yang
Mahadia (la Huwa). Dengan demikian, "Huwa la Huwa" mempunyai dua
aspek.
Aspek pertama (Huwa)
dalam bentuk positif, menegaskan tasybih, yaitu keserupaan Tuhan dengan kosmos.
Bagian kedua (la Huwa) dalam bentuk
negatif, menekankan tanzih, tiadanya keserupaan antara Tuhan dan kosmos.
Penjelasan Ibnu Arabi ini hanya bisa dimengerti manakala memahami utuh konsep
wahdah al-wujud-nya.
Di dalamnya terdapat konsep keterpaduan dari berbagai
hal yang berdiri sendiri (al-jam'u baina
al-addat), yang menghubungkan antara ketakterbandingan dan keserupaan
antara Yang Satu dan yang banyak, keagungan dan keindahan, dan pembedaan dari
Yang Tak Terbedakan.
Ibnu Arabi lebih menekankan aspek Alquran, yang secara
harfiah bisa berarti menghimpun (al-qur'), seperti yang dipopulerkan Nabi
Muhammad SAW. Bukannya menekankan aspek "al-Furqan", yang secara
harfiah berarti membedakan, sebagaimana dipopulerkan Nabi Musa AS.
Perbedaan antara kedua istilah tersebut adalah Alquran
mengandung al-Furqan, sedangkan al-Furqan tidak mengandung Alquran. Yang
pertama lebih fokus pada prinsip titik temu dan yang kedua lebih pada aspek
perbedaan dan negasi. Dalil yang diajukan Ibnu Arabi cukup menarik, yaitu ayat
yang juga digunakan teolog dan kaum sufi.
Ia mengutip, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa
dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS.
Al-Syura: 11). Potongan ayat pertama (tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan
Dia) dijadikan dalil oleh ahli tanzih karena menerangkan aspek
ketakterbandingkan.
Sedangkan, potongan ayat kedua (Dialah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat) dijadikan dalil oleh ahli tasybih karena lebih
menekankan persamaan, yaitu makhluk-Nya juga bisa mendengar dan melihat.
Menurut Ibnu Arabi, ayat ini menjadi bukti kualitas tanzih dan tasybih tidak
bisa dipisahkan dan dipertentangkan.
Implikasi sosial keagamaan dari konsep penggabungan
tanzih dan tasybih ialah keutuhan pribadi Muslim yang berkeseimbangan antara
aspek keagungan dan aspek keindahan. Satu sisi, Tuhan transenden, jauh, Maha
Kuasa, dan Maha Penghukum, tetapi pada sisi lain Dia juga immanen, dekat, Maha
Lembut, dan Maha Penyayang.
Penyatuan konsep tanzih dan tasybih bisa memberikan
optimisme kepada para pendosa bahwa sebesar apa pun dosa hamba, pengampunan
Tuhan jauh lebih besar.
Sebaliknya, juga memberikan peringatan kepada orang
yang merasa baik agar tidak lengah. Sebab, jika yang datang adalah Tuhan Yang
Maha Adil, akan berlaku ayat, "Barang siapa yang mengerjakan kebaikan
seberat zarah, niscaya dia akan melihatnya (balasan). Dan, barang siapa mengerjakan
kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihatnya (balasan)." (QS.
Al-Zalzalah: 6-7).
Dengan demikian, maksud Huwa la Huwa ialah keutuhan
antara tanzih dan tasybih di dalam keyakinan dan perilaku. Ahli tanzih kiranya
tidak begitu gampang menyalahkan ahli tasybih, demikian pula sebaliknya. Ahli
syariat dan ahli tarekat sama-sama memiliki kemuliaan, namun yang lebih baik
ialah mengintegrasikan keduanya.
Seperti yang dipesankan oleh Ibnu Athaillah,
"Barang siapa bertasawuf tanpa berfikih, maka ia zindiq. Barang siapa
berfikih tanpa bertasawuf, maka ia fasik. Barang siapa menggabung keduanya,
maka ia mencapai hakikat. Wallahua'lam.
Artikel Lainnya:
Kajian Tasawuf
- Benarkah Azab Kubur Itu Ada?
- Ternyata Dunia & Akhirat Ada Secara Bersamaan
- Ternyata Dunia dan Akherat Terjadi di Bumi
- Benarkah Maryam Seorang Nabiyyah?
- Menyingkap Misteri Maryam
- Jauhar & ‘Aradh
- Tentang Kasyaf
- Apa Itu Alam Mitsal
- Apa Itu Alam Jabarut
- Apa Itu A’yan Tsabitah
- Zat Tuhan
- Apa Itu Nur Muhammad
- Rahasia Basmalah: Rahasia Titik di Bawah Ba
- Rahasia Basmalah: Rahasia Tanpa Alif Sesudah Ba
- Syekh Siti Jenar: Namanya Melariskan Buku
Islam
- Ini Alasan Pria Dilarang Pakai Emas
- Benarkah Bermain Catur itu Haram?
- Apa Itu Setan?
- Apa Itu Khamar?
- TOKOH ISLAM: Ali Bin Abu Thalib
- TOKOH ISLAM: Zainab binti Khuzaimah
- TOKOH ISLAM: Utsman bin Affan
- Apa Itu Israiliyyat?
- TOKOH ISLAM: Khadijah Binti Khuwailid
- TOKOH ISLAM: Umar bin Khattab
- TOKOH ISLAM: Abu Bakar Ash-Shiddiq
- MAULID NABI: Syariat Agama Atau Syariat Budaya?
- ULUMUL QUR’AN: Penulisan Dan Kodifikasi Al-Qur`an
- ULUMUL QUR’AN: Makki Dan Madani
- ULUMUL QUR'AN: Pengertian & Nama-Nama Al-Qur'an
- Benarkah Azab Kubur Itu Ada?
- Penciptaan HAWA: Benarkah Dari Tulang Rusuk Nabi Adam?
- Ternyata Dunia & Akhirat Ada Secara Bersamaan
- Ternyata Dunia dan Akherat Terjadi di Bumi
- Benarkah Maryam Seorang Nabiyyah?
- Menyingkap Misteri Maryam
- Jauhar & ‘Aradh
- Tentang Kasyaf
- Apa Itu Alam Mitsal
Tidak ada komentar:
Silahkan berkomentar secara bijak Sobat...!